Film amatir perdana

   
 Apa yang terjadi saat empat mahasiswi jurnalistik siar yang baru belajar praktik dengan kamera, skrip berita, Adobe Premiere, menikmati asyiknya membuat dan mengedit video (hardnews dan softnews) + bertemu dengan teman baru dari Jepang yang datang untuk belajar bahasa Indonesia + ada kompetisi membuat film bertema Indonesia. 

KAMI MEMUTUSKAN UNTUK MEMBUAT FILM! 

Pada suatu hari, tepatnya 4-5 tahun lalu, Minanti membawa kabar bahwa TVRI membuka kompetisi membuat film. Gw, Lescha dan Nyanya yang kerap berada dalam satu kelompok dalam tugas jurnal siar merasa tertantang walau masih piyik dan belum punya banyak bekal maupun peralatan yang cukup untuk membuat film. 
Modalnya cuma niat dan plot yang mengharu biru (walau eksekusinya yah begitu deh hihihi). Bikin skenario pun otodidak, berbekal koleksi skenario Ada Apa Dengan Cinta milik Nyanya sebagai panutan. 
Pemeran utamanya adalah gw dan Satoko yang belum genap sebulan tinggal di Jakarta. 
Mengapa gw? Lupa deh kenapa. Yang pasti sih Satoko adalah temannya salah satu kawan dekat saat SMA yang kuliah di Jepang. 
Dia menitipkan pesan pada gw untuk membantu Satoko nyari kos di Depok, nganterin ke imigrasi untuk ngurus kartu identitas mahasiswa asing, endesbre endesbre. Baru deh gw mengenalkan Satoko sama teman-teman di Komunikasi, termasuk trio Lescha, Minanti dan Nyanya. 
Saat ditawari, Satoko pun tidak menolak. (“Sekalian belajar bahasa Indonesia nih Satoko!”) dan dia menghapal skrip tanpa protes. 
Belakangan, saat beberapa hari lalu Satoko dan suami datang ke Jakarta, dia mengaku menghafal tanpa tahu artinya karena dia belum terlalu mengerti bahasa Indonesia.
Namanya juga amatir, kami tidak mikir panjang soal kontinuitas. Wardrobe pun diakal-akali karena waktu syuting mepet dikejar deadline dan kesibukan kuliah masing-masing. 
Tanktop berubah warna, kerudung berubah warna, alas kaki berubah, biarlah. ROFL. 
Tiada tripod, hanya berbekal handycam! LOL. 
Udah, bekalnya itu saja! 
Lagu latar diambil dari (sudah disetujui) band Mocca dan band gw lupa namanya, pokoknya kenalannya teman gw. 
Lokasi syuting: kamar gw (satu sisi tempat gw disyut pas YM-an, sisi lain bagian Lescha pura-pura di Jepang, dekor dekor Jejepangan di kamar dikerahkan untuk membangun nuansa Jepang), TMII, Mal Plaza Senayan, Blok M, museum Gajah, monas, museum di Menteng dan Halte fakultas teknik UI. 
Kalo gak salah ngedit ramean, khusus Minanti dia bagian credit title. Pake acara nginep juga tentu di rumahnya Raia Surapradja! LOL. Tadinya mau ngesyut di rumah Rizu yang lebih cocok sama setting, tapi ya rencana hanya rencana. 

Gimana lombanya? Entahlah! Hahahaha. Yang pasti, kami telah menorehkan kenangan manis yang mencuat kembali pada 2015 karena kawan kami dari Jepang balik lagi ke sini. 

Delapan bulan belajar di Depok, dia pulang ke Jepang. 2-3 tahun kemudian mampir lagi ke Jakarta dan membawa seorang teman yang berdomisili di Bandung untuk pertukaran pelajar. Kami sempat main lagi ke TMII untuk megang-megang komodo (dan ular). 
Ada beberapa perubahan selang dua tahun berlalu, misalnya punya pacar (dia, bukan gw) yang kini jadi suaminya. 

  
Akhir 2014, gantian Satoko yang mendatangi gw di Chiba! 

Rencana jalan-jalan di Tokyo batal karena ada badai (bukan grup Arashi tapi memang badai secara harafiah), jadi Satoko jauh-jauh datang ke hotel tempat gw menginap.  

  

Beberapa bulan kemudian, gantian Minanti yang ketemuan sama Satoko di Jepang. Mereka cuma sempat ketemu sepuluh menit kalo ga salah, di bandara! Wkkk. 

Daaan… Juni ini kami kembali bersua di Jakarta. Tiga dari lima ciwi-ciwi ini sudah bersuami (tos sama Lescha sebagai sesama single). Sayangnya, yang sempat bertemu di batch satu cuma gw sama Minanti. Selain makan pizza, martabak dan sate padang, yang kami lakukan adalah tidur siang bareng. LOL. 

   
     Lescha kemudian menemukan harta berharga berupa file film yang utuh! Punya gw usah raib bersama dengan rusaknya harddisk hiks hiks. 

Dia berkeras untuk mengunggahnya… 

For the sake of old time memories, rasa malu dikesampingkan. 

DAN SUNGGUH GW NGAKAK-NGAKAK. Omaigat… Masa muda… Lemak yang belum seberapa…

Mau lihat? Mungkin ini 29 menit yang random buat lo, tapi priceless buat kami 🙂

  

Iklan

Diculik politik

Nasib membawaku ke pojok politik. Ceritanya diperbantukan buat produksi berita seputar pelantikan Presiden Jokowi sampe pengumuman kabinetnya yang penuh drama.

Drama satu.
Pantau bundaran HI jelang diaraknya presiden dengan kereta kuda. Bumbu drama adalah kaki pengkor abis lari 8K. Kalo jalan kaki sih biasa aja, tapi pas turun naik tangga langsung mengaduh-aduh-aduh. Segera gw bisa bersimpati dengan mamah yang bilang kakinya sakit kalo naik tangga, atau nenek-nenek yang renta. Oh, beginikah rasanya tidak bisa berlari~ Gw nongkrong di jembatan penyeberangan HI bersama puluhan orang, fotografer dan kru tv yang udah stand by dengan senjata masing-masing plus warga yang pengen foto-foto. Dari atas gw melihat sesosok mbak-mbak hijaber yang nampak familier. Tapi, ah… Yang bersangkutan nampaknya sedang sibuk di bidang ekonomi. Kayanya ga mungkin melipir ke politik deh.

Beberapa menit kemudian, rok panjang itu melambai di depan mata gw. Hup hup hup dengan kaki pengkor gw berusaha mendahului langkah si mbak yang ternyata…. beneran si Aisha temen gw!!

*reuni lebay*

Kami pun kembali terpisah dan gw mencari tempat di jembatan. Gw berdiri di belakang geng tante setengah baya berpakaian kece dengan SLR , kamera saku dan tongsis. Mereka ribut-ribut ga mau turun pas petugas mengusir non wartawan dari jembatan. Masalahnya, ada kru stasiun tv yang baru datang dan ga kebagian tempat buat naro kamera karena sudah ditempati geng tersebut. Pas diminta minggir… Malah kru tv disalahin gara-gara datang telat. Euh, untung gw ga butuh kamera buat kerja. Kalo butuh terus ketemu yang macam begitu… Haduh. Yah gimana yah… Liat prioritas aja deh, yang satu mau moto for fun dan satu lagi buat disiarin nasional. Sepertinya kru tipi melapor ke petugas yang berwenang biar mereka bisa dapat tempat. Datanglah petugas mengusir non media dari jembatan.

“Ya udah gak usah dorong saya bisa jalan sendiri!” kata seorang ibu dengan ketus saat petugas (kayaknya) nyolek dia biar cepetan pindah. Yang salah siapa yang marah siapa, hihihi. Ada satu orang yang bertahan dan balik ngomel ke petugas. Daaan ibu-ibu selalu menang, soalnya ga mungkin dia diseret paksa. Bisa runyam dan jadi berita baru. Hehehe.

IMG_4302.JPG

Drama dua

Paginya melayat ke almarhumah Ayu, teman kuliah yang meninggal karena sakit. Syok sih pagi-pagi dapat kabar kalo Ayu udah nggak ada karena baru aja malemnya gw sama Anggi ngeliat kondisinya di rumah sakit. Pas siap-siap mau ngelayat, tetiba Anggi dapat telpon kalo Eyang Papa wafat. Innalillahi. Semoga keduanya diberi tempat terbaik di sisi Allah.

Lanjut menunggu pengumuman masih belum ada. Melipir ke kampus, ketemu sosiolog beserta mereka yang dinantikan dan mereka yang bersua tanpa disengaja. Tampaknya gw lebih cocok ngaku jadi anak RTC ketimbang Fisip karena kok gw nyasar ya di kampus sendiri? Udah amnesia mana gedung A-E… Mana gedung jurusan lain… Mana dosen anu… Ketahuan deh dulu mainnya di kabin siar RTC atau di kos Mira, jajan bubur.

IMG_4107.JPG
Nyaris berujung ke “nonton Payung Teduh bareng yuk” sampai tiba-tiba dapat kabar bahwa presiden mau ngumumin kabinet jam tujuh malam. Semua yang termasuk tim peliputan kabinet diminta segera merapat ke kantor…
Dari Depok ngibrit ke kantor naik kereta.
Baru aja turun ojek depan kantor, waslap berbunyi…

“Nien, kok pending? Jokowi ga jadi…”

Rasanya kayak…. Ah. Pedih.

Tanggung ah. Masuk dulu ke redaksi dan numpang makan malam gratis lalu kemudian pulang. Udah gak mood balik ke kampus nonton PT (dan mereka pun baru mulai malam banget).

Drama tiga

Stand by sampai jam 9 malam di kantor menunggu pengumuman. Hari itu, Jumat. Karena rumah gw deket rumah Wirantow, gw ditugasin nge-stalk doi. Jam 9 teng belum ada tanda-tanda pengumuman kabinet, kami cussss pulang.

Baru beberapa menit di stasiun kereta… Masuklah pesan-pesan bahwa yang melipir dari kantor disuruh balik lagi karena gosipnya bakal ada pengumuman dadakan. Jreng jreng…

Sementara gw tetep disuruh melipir ke rumah tetangga.

Ekspektasi: banyak media ngumpul
Kenyataan: kosong melompong

In the end gw nongkrong di ruang satpam rumah pejabat setempat sampe setengah satu pagi. Sendirian. Eh ga sendirian ding, ditemenin belasan teman-teman yang menemani di grup waslap. Khawatir kali gw diculik tentara atau digangguin orang jahat kalo pulang sendiri pagi buta. Tadinya emang mau niat jalan kaki aja ke rumah (berharap gak diculik di tengah jalan).

Besoknya balik lagi pagi-pagi kaya tukang minta sumbangan demi mengemis wawancara ecucip. Gagal total. Tapi lumayan dapet info insider dikit, kalo mau info kita ngobrol langsung aja lah ya.. Akhirnya balik ke rumah dan berniat bobo siang. Tapi ended up nongkrong di rumah sakit sampe malem. Daaan gagal nonton Banda Neira serta Float serta Mocca. Belum jodoh kali ya.

Drama empat

Disuruh ngantor sore. Kali ini presiden ga PHP, kata mereka. Ya sudah, pagi sampai siang main dulu ke Taman Langsat sambil jajan-jajan laper mata ngeliat jamu botolan (Tisha sih yang kalap) plus fruit punch plus es podeng.

IMG_4421.JPG

IMG_4265.JPG

Mampir sebentar ke Monas karena ada balelebong sang korban JakMarathon yang nekat lari 42 km berujung jalan pengkor (tapi recoverynya cepet banget dibanding gw yang cuma 8K tapi tertatih-tatih nyaris tiga hari, grrr!)

Balik kantor dan bersiap menunggu live report dari tv di depan komputer masing-masing.

Ada yang sibuk nelpon pengamat.. Ada yang sibuk nyiapin tulisan biar langsung muncul beritanya tepat setelah presiden ngumumin nama-nama menteri.

Jreng…. Jokowi ngumumin nama kabinetnya jadi Kabinet Kerja.
*semua orang buru-buru ganti naskah*

Sama menegangkan seperti bikin live report acara Grammy atau Oscar yang menuntut kecepatan plus akurasi, tapi ini lebih gilak, politik broooh! Kalo gak teliti lalu salah nulis… Arghhhh~

Perayaan berakhirnya drama dilaksanakan di Taman Menteng, impulsif pengen nonton Sore. Ngajak Obre dan Tisha menaiki taksi jutek (saya gak tau jalan, kalau mbak ngandelin gugel map terus jalannya ga bisa dilewati saya ga mau tanggung jawab, ujar supir taksi yang sepertinya sedang punya masalah di rumah). Di sana kok isinya temen-temen semua ya… Temen liputan, temen kampus, temen SD (gak ketemu sih tapi si kembar bilang dia dateng juga).

IMG_4420.PNG

IMG_4258.JPG
Anyway, acara Seperlima yang menampilkan Sore itu berasa pentas seni kuliah banget! Banyak abege dan mahasiswi berbaju tipis atau menerawang berseliweran. Pada gak masuk angin ya pake dress pendek? Atau crop top yang udelnya kemana-mana?

Sementara itu, gw dan Pampam malah membalut diri pake jaket.

Gw: Pam, berasa anak kuliah ga sih di sana?
Pam: iya nih!
Gw: tapi kita keliatan bukan anak kuliah lagi. Yang muda bajunya tipis kaga masuk angin, lah kita udah renta makin malem ya pake jaket biar ga sakit.

Pampam terhenyak menyadari kenyataan bahwa kami sudah remaja tingkat akhir.

Fiuh.
Sekian drama politik, mari kembali ke jalan yang benar.

Secuplik Chairity Concert

Secuplik dari nonton Float, Payung Teduh, dan Mocca di Chairity Concert, Taman Ismail Marzuki, 1 Oktober 2014.

Float as usual okey (jadi kangen Backstage RTC), Payung Teduh lagi edisi khusus karena mas Is gak bisa nyanyi dan digantiin Ivan, yah berujung pada karaoke massal (cuma gw sama Balelebo sih yang karaoke, si Jimi malah bilang dia ngantuk, lol), Mocca seperti biasa lah keren. Bajunya Arina cakep deh (toska!), kang Toma makin singset aja, Indra masih semangat gebuk-gebuk drum dan kang Riko juga makin kece penampilannya kaya Mario Kahitnya wekekeke. Sayang sekali lagu-lagu favorit gw yang jarang dibawakan saat konser tidak muncul, ah…

Ajudan dan Lincoln

Ternyata gw bisa selamat di liputan politik. Walau harus dorong-dorong ajudan biar gw bisa mendengar dan melihat langsung bacotan seseorang tokoh. Walau bagaimanapun itu harus ditulis jadi berita. Ternyata sulit menembus pertahanan ajudan hanya untuk bertanya pada seorang calon tokoh penting:

“BAPAK NONTON SI DOEL GAK DULU?”

Bisa dikeroyok kali ya sama para pewarta laen. Kemaren aja gw dimarahin karena nginjek-nginjek kabel, maklum sempit jadi dengan canggung gw bingung harus gerak kemana. Daripada diinjek-injek ajudan yang kadang sok penting dan super sombong, lebih baik dimarahin campers laen -_-;

Ahem. Eniwey, ratu nebeng masih eksis. Gw sukses nebeng sama dua tipi berbeda, LOL. Belum jelas apakah itu disebut jenius atau skill lintah. Gw sebut itu sebagai cepat beradaptasi, hihihi. Tapi rada gimanaaa gitu kalo pas nebeng jadi cewe sendirian. Bingung.

Untung banget di tempat kedua ketemu Citrom –temennya temen, temennya temen, dan pacarnya temennya temen– (jadi dihubungkan sama tiga orang). Jadilah gw tidak malu-malu langsung ngetake tempat di mobilnya dan minta diturunin nyaris depan kantor. Uhuuuy uhuuuy.

YA ALLAH SEMOGA AKU SELALU BARENG SAMA GRUP XXX YANG KANTORNYA DEKET BIAR BISA NEBENG SELALU.

Oh iya, baru hari pertama (yang serius) langsung dapet cobaan… Berasa wanita panggilan banget pas seorang tim kempeinn jalan sambil nepok gw dan berbisik “nanti saya telpon”. Ini bukan masalah gw tiba-tiba ditaksir om-om atau apa, ini adalah..yah..sesuatu yang dicintai paman Gober. Makanya gw langsung terbirit-birit kabur.

Pulangnya menyesal kenapa gak wawancara Jaja Miharja, LOL. Masih harus belajar nih.

Lalu…gw, tisha, bunglod, ikibozu, dan anyes (dari tiga institusi berbeda, yang saling mengenal hanya para perempuan, sisanya strangers bagi satu sama lain, hehe) nonton bareng Abraham Lincoln yang pembasmi vampir itu. I personally didn’t like it. Lebay ah lebay. Bukan filem eksyen yang bikin gw terpana gitu. Biasa aja, banyak darah (bukan disturbing sih, tapi lebay aja). Begitulah. Mungkin karena gak ada pemeran ganteng yang bisa gw ilerin sepanjang pelem.

Abis itu tisha-bunglod pulang naek motor, (tadinya) sisa betiga mo nonton Mocca di Radishow. Apa daya, karena sejak jam 8 pagi sudah standby bekerja, batre gw mau abis. So I let Ikibozu-Agnes merantau berdua sementara gw langsung meloncat ke bis arah terminal deket rumah yang mendadak muncul di depan mata. Nonton Moccanya? Di tipi dong…tapi ternyata gw pun ketiduran dan cuma dengerin I Remember doang.

Ba dum tsss. 

Dear Friends, reuni Mocca

Laporan versi resmi sih di sini ya.. Nah sekarang versi blog!
Setelah memastikan diri akan melintah pada Numa dan Doddy, saya pun menunggu berangkatnya rombongan sambil menonton dorama di rumah. Kondisi sebenernya masih teler karena hari sebelumnya baru nyampe rumah hampir tengah malam, dan karena adrenalin berlebihan (berhubungan dengan rasa norak bertemu dan SKSD sama para komikus di popcon) gw baru tidur jam dua pagi untuk nulis berita biar gak basi.

Demi modus anomali (bertemu X dan berfoto dengan X serta Y dimana si Y tadinya mau gw wawancara tapi ternyata gak berjodoh) tadinya gw berniat balik lagi ke Popcon. Tapi ternyata fisik awal 20-an itu sudah gak kuat mengarungi macetnya Jakarta di akhir pekan.

Ya sudah deh.. bersiap bersiap.. pas Numa sms gw lagi berdiam di kamar mandi. Tergopoh-gopoh berlari (harafiah) menuju meeting point dan akhirnya bertemu dengan rombongan pengajian numa-doddy-kay-oya-shinta.

Brangcut setengah 4, nyampe Bandung sekitar jam 7. Aih..disambut udara malam dingin di Bandung makin membuat gw menyesal tidak kuliah di situ. Oiya, ada juga salah satu anak kembar teman SD gw yang ternyata teman si Doddy. Dunia benar-benar syempit..

Duit saya terkuras, saudara-saudara. Bahkan sempet ngutang sama Numa demi melampiaskan nafsu membeli kaos (emang bagus sih bahannya tapi tapi tapi tapi mahal banget).

Bertemu pewarta Pikiran Rakyat (ehem), kami pun ambil posisi di depan panggung. Apesnya, pas di depan muka gw adalah speaker. Jadi kang Indra sepanjang dua jam gak keliatan sama sekali. Ya sudahlah.

Penampilan MOCCA? As usual bagus lah. Terompetnya kali ini sempurna, gak cletat cletot. Dulu kadang suka rada ngeok ngeok. Tapi kali ini sempurna di kuping gw.

Arina sempet salah urutan lirik di Secret Admirer hihihi. Tapi itu jadi hiasan lah soalnya biasanya Mocca kalo manggung bagusnya persis kaya album (eh bisa aja ngelesnya kalo fans) jadi keliatan live-nya 🙂

Sementara yang lain berdua-duaan sama laki, gw rada-rada jadi parasit nih deket-deket si Mimi, sieun pacarnya ngambek. Punten ya Putri, ini mah demi kerjaan jadi harus deket-deket (si Mimi bawa press release + ID backstage).

Setelah pertunjukan berakhir, kami pun langsung ke bekstej. Ternyata kalo mau poto-poto di bagian depan ajah, ya udah balik lagi deh ke bagian depan. To poto poto. Kam rekam rekam. Nya tanya tanya (nervous euy, I let mimi nanya2 jadi gw rekam aja hahaha).

Jam sebelas malam kami pun berangcut ke warteg. Jam satu pagi capcus lagi ke Jakarta. Begitu buka mata ternyata sudah jam setengah empat dan nyaris nyampe rumah.

Jalanan Jakarta tuh enak banget subuh-subuh di akhir pekan. Cocok buat belajar mobil. Sepi banget. Daku pun sampai ke rumah dengan selamat sentosa pukul 4 pagi. Grokkkk ngorok.

Bangun-bangun tidak tenang. Antara ingin ke Popcon (LAGIH?!!!) dan dedikasi untuk segera nulis ripiu Mocca. Berhubung gw udah make kamera pinjaman demi mengabadikan momen-momen konser Dear Friends, gw pilih opsi kedua. Begitu tulisan kelar ternyata sudah sore dan terik banget. Argh..bye bye Popcon, bye bye kaos Wanara 😦

Akhirnya saya beristirahat demi menonton Casillas beraksi (atas nama kerja). Uwaaaaah ini benar-benar final yang bagus untuk jadi final!

Silva yang mirip fedinuril (di mata gw)
Casillas yang brewoknya menggoda dan sarung tangannya bermagnet pada bola.
Pirlo yang kalem-kalem.
Buffon yang berwibawa.

4-0 La Furia Roja menang lagi! Akang Casillas ngangkat trofi lagi! Dan ternyata menurut Odah yang penggemar setia, akang Casillas hobi berfoto tanpa celana kalau menang. Segera deh pagi-pagi mata ini disuguhi pemandangan……

sumber: fb akang casillas. pria sehat tanpa celana (eh itu Adhitya Mulya ya?)

GO GO GO LA FURIA ROJA!