Perjuangan Menuju Kawah Ijen

Masih enggak percaya akhirnya bisa (dan mau) naik gunung meski levelnya pemula banget.

“Why did I say yes to this trip?” kata gw di sela nafas tersengal di tengah perjalanan pada Dachi. Habis itu kita ketawa bareng.

IMG_3367

Enam jam ditempuh untuk naik ke puncak – turun ke kawah – naik lagi ke puncak – turun ke parkiran mobil dari pukul 2 dini hari sampai nyaris pukul 8 pagi.

Sore sebelumnya, kami ketemuan sama rombongan open trip di terminal Purabaya. Tiba di Ijen tengah malam, menunggu beberapa puluh menit sampai pintunya dibuka.

Sebagai pemula, penting banget nyari temen yang level staminanya sama (atau mau nungguin) biar bisa jalan bareng. Ikrib banget gw sama Maya pegangan tangan selama sekian jam pegangan tangan soalnya kadang suka oleng saking lelah, hahaha.

Dachi yang fisiknya lebih prima bisa jalan lebih cepat, tapi sering berhenti buat nungguin kami geng juru kunci.

Biar lambat asal selamat. Biar langkah pelan asal stabil. Pas ngos-ngosan, ngebayangin aja perjalanan ini bagai jogging tapi versi jalan kaki dan tiada henti.

Sinar-sinar kecil dari senter para pendaki tampak di kejauhan. Alamak! Masih jauh banget! Tapi karena suasana gelap gulita, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain berjalan.

Kalau punya duit banyak sih bisa milih naik “taksi” atau “ojek” yang terdiri dari gerobak berlapis bantal yang akan ditarik oleh abang-abang. Ratusan ribu rupiah saja kalau memang tertarik.

Begitu sudah sampai puncak, jiper rasanya lihat jalanan menuju kawah yang menyeramkan.

Sempit, ga ada pegangan (kalo jatuh ya wassalam), gelap pula. Kalau baca di blog pendaki bule, itu jalanan bener-bener terlihat tidak aman. Indeed.

Udah mau menyerah dan milih lihat api biru dari kejauhan aja, tapi pemandu lokal menarik kami untuk ikut turun ke bawah.

“Sayang, sudah sampe sini!”

IMG_3438

We did it. Sambil nungguin langit terang, ngeliatin api biru dengan kamera terbaik di dunia: mata kepala sendiri.

Untungnya asap belerang tertiup ke arah lain jadi masker yang sudah disewa enggak perlu dipake. Hawa panas yang terasa akibat terus bergerak (sampe keringetan) berganti jadi menggigil seiring datangnya angin pagi. Brrrrr.

Ketika langit sudah terang dan medan pendakian terlihat jelas, sudah pasti keputusan naik gunung tengah malam itu sangat tepat. Gelap gulita, yang bisa dilakukan cuma jalan terus pantang mundur.

Rasanya kayak berjuang mengejar impian. Enggak tahu kapan akan sampe, enggak tahu jalannya bakal berliku atau mendatar,  yang bisa dilakukan hanya terus menguatkan diri untuk terus melangkah, selambat apa pun itu.

Dijamin kalau naiknya pagi-pagi, respons gw adalah “Lo aja deh, gw nunggu aja di mobil.”

IMG_3497

 

Dari Ijen lanjut ke Baluran, Afrika mini versi Indonesia.

IMG_3705

IMG_3633

Mampir sebentar di pantai Bama, lihat-lihat monyet, lihat-lihat tanaman bakau (okelah enggak perlu main ke Pantai Indah Kapuk), menikmati tiupan angin kencang yang membuat jemuran dijamin cepat kering.

IMG_3604

 

Iklan

Emosi Jiwa di Surabaya

Trio Mamam menjajal kegiatan yang tidak berhubungan dengan makan. Biasanya menimbun lemak, sekali-kali kalori juga harus dibakar. Caranya?

N A I K  G U N U N G

Tepatnya ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Tempat dari fenomena api biru yang tiada tiganya (soalnya ada dua di dunia, satu lagi di Islandia).

Gw mengiyakan atas dasar kepercayaan diri atas ketahanan fisik yang ditempa lewat rutinitas berdiri di TransJakarta selama minimal 1,5 jam.

Konon sebaiknya sih olahraga dulu, minimal sepekan sebelum naik gunung.

Gw yang terakhir kali lari beberapa tahun silam pun mulai menyempatkan diri bangun subuh jogging di komplek sebelah. Hasilnya kaki langsung nyeri dan pegal. Meringis tiap naik dan turun tangga.

Tiba akhirnya hari pertama menuju Surabaya. Drama babak pertama dimulai ketika si food journo terjebak macet dan akhirnya ketinggalan pesawat. Ya udah, gw dan Dachi akan jalan-jalan syantik sebelum Maya tiba di Surabaya dengan penerbangan selanjutnya.

Ternyata gagal syantik, yang ada kucel dan kumal akibat drama taksi online.

Sama seperti di Jakarta dulu, taksi yang dipesan secara online lagi dimusuhin di Surabaya, tepatnya di tempat seperti bandara. Bahkan ada yang ditelanjangin di bandara Juanda saking pada emosi para pengendara taksi konvensional.

Biar aman, kami mesen taksi Blue Bird lewat fitur Go-Bluebird di Gojek. Pertimbangannya, bentuk luarnya Blue Bird jadi supirnya aman dari amuk massa. Rupanya kami lagi apes, dapet supir yang paranoid setengah mati. Dari bandara kami disuruh jalan lurus terus sampe hampir ke pintu keluar yang dekat jalan tol.

Satu, jauh.

Dua, panas.

Tiga, bawa ransel berat.

Sepanjang jalan udah ada banyak taksi yang klaksonin, nawarin jasa siapa tahu kami mau naik. Kalau enggak inget sama si supir yang udah dipesen, rasanya pengen nyetop mobil mana aja yang lewat.

Ternyata supir yang paranoid itu lagi parkir di pinggir jalan, tapi dia enggak berani mendatangi kami karena takut terlihat mencurigakan alias ketahuan dipesan lewat aplikasi. Padahal taksi-taksi lain juga santai aja mau berhenti di tengah jalan naikin penumpang.

Gw ama Dachi udah jalan kaki jauh sampe ngelewatin taksinya, tapi dia masih enggak mau membiarkan kami masuk dengan klaim di sebelahnya ada petugas bandara.

Dachi pun naik pitam setelah supir meminta kami untuk jalan lebih jauh lagi. Mending cancel aja deh daripada dikerjain begini. Momen ketika Dachi marah-marah di telepon itu sungguh epic, untung gw abadikan. Kalau lagi sedih, biasanya gw suka nonton video Dachi ngomel. Mayan terhibur.

 

 

Setelah memutuskan hubungan yang tidak baik-baik, kami jalan ke luar gerbang bandara untuk naik Damri yang lagi berhenti. Penuh bisnya, jadi harus berdiri dengan ransel segede alaihim gambreng. Untung jarak dari bandara ke terminal Purabaya enggak terlalu jauh.

Dari situ lanjut naik bis tanpa AC dengan kondisi busuk seperti Mayasari P6 jurusan Kampung Rambutan – Grogol dua dekade silam. Minta kondekturnya turun di pengadilan karena menurut mbah Google, lontong balap Pak Gendut yang kami incar ada di dekat situ.

Perjalanan lumayan panjang, tapi gak masalah karena ongkosnya murah meriah.

IMG_3291

Lontong Balap Pak Gendut

IMG_3293

Lontong balap ini letaknya di trotoar, barengan sama makanan kaki lima lainnya. Gw sama sekali enggak pernah tahu atau mendengar tentang lontong balap, jadi tiada ekspektasi.

Kalau kata orang-orang ini lontong enak pake banget, buat gw ya enak saja. Beda selera sih ya. Gw lebih suka yang gurih-gurih gimana gitu, sementara ini rasanya lebih kalem dan tidak meledak-ledak.

Meskipun begitu, rasanya tidak sehambar yang gw kira karena ada sambal pedas. Yang enak itu sate kerangnya, imut-imut tapi lumayan juga harganya. Satu orang bayar sekitar 20.000-an udah termasuk segelas es kelapa.

Kelar makan, leyeh-leyeh di hotel sambil nungguin Maya. Berhubung mager, kami wisata kuliner dengan mengandalkan Go-Food.

Makan rujak cingur, gado-gado dan sate klopo Ondomohen yang ternyata ENAK BANGET. Tak ada foto karena makanan sudah kadung dilahap. Terlalu barbar.

Malamnya kembali berburu makanan. Kali ini bebek Palupi jadi incaran.

Yang wajib banget dicoba di restoran ini adalah bumbu kuning, kayak minyak gurih di ayam ungkep, enak banget kalo dicampur ke nasi panas.

IMG_3299

Masih lanjut lagi loh… Pencinta jahe ingin memuaskan hasrat untuk minum yang hangat-hangat sebagai upaya mencegah penyakit masuk angin yang lazim di kalangan alumni remaja (mbak-mbak).

Melihat dari Google Map, yang paling dekat dengan review positif adalah Angsle & Ronde Pak Imam depan Bonnet Manyar Kertoarjo. Cus ke sana!

IMG_3306

IMG_3308

Wedang Ronde

IMG_3311

Angsle pakai santan

Tempatnya kecil, cuma beberapa meja dan kursi plastik di depan toko yang sudah tutup. Kami lagi beruntung karena pas lagi agak sepi jadi pesanan langsung datang.

Soalnya baru beberapa menit berlalu, tiba-tiba pembelinya seabrek-abrek ngantre panjang. Lucky!

Dua-duanya enak. Harganya juga oke di kantong, hanya 8000 rupiah.

Di sini, kami juga ketemuan sama Nyanya dan Omo yang kebetulan lagi di Surabaya juga. Jodohhhh pasti bertemu… Dua tahun lalu kami (dengan rencana berbeda) kebetulan sama-sama liburan ke Jepang dan akhirnya ketemuan di Kyoto.

Emang ya saking macet Jakarta sampe ketemuan pun susah, mending sekalian berjumpa di tempat yang jauh aja dah. Ketemuan enggak sengaja selanjutnya di mana ya, Maroko? (Aamin).

Tujuan makan selanjutnya ditentukan oleh Nyanya – Omo yang pengen makan rawon syaiton. Ngikut aja lah soalnya kami belum ada rencana mau melahap apa lagi.

Cus ke warung pojok persis di depan toko tekstil Moro Seneng. Ketika mas-masnya masih mendirikan tenda, calon pengunjung sudah mulai berdatangan. Pertanda bagus nih.

Bener aja, begitu warung siap melayani pengunjung, tempatnya sudah lumayan penuh. Sayang sekali kami ke sini dalam keadaan kenyang, jadi cuma pesan nasi rawon+pecel dengan topping paru kriuk (bisa nasi rawon saja, nasi pecel saja atau dicampur kayak pesanan kami).

Biasanya makanan apa pun akan terasa kurang enak saat perut kenyang, TAPI INI ENAK BANGET SAUDARA-SAUDARA!

Bayangin aja gimana kenikmatannya akan berlipat ganda andai ke sini dalam kondisi perut kosong!

IMG_3341

IMG_3332

IMG_3334

 

Kebun Binatang di Danau UI

Geng Bins akhirnya berkumpul setelah rencana pertemuan selalu berakhir wacana di grup WhatsApp.

Berlagak sibuk serasa menteri yang harus ngurusin negara, susaaaaah banget ngumpulin orang-orang ini buat ketemuan.

Pada sibuk juga sih emang, sibuk ngurus anak, sibuk liputan akhir pekan (uhuk), sibuk piket akhir pekan (uhuk), sibuk ini dan itu.

IMG_3136

Ternyata seru juga lho piknik di pinggir danau UI dekat Balairung. Seharian sejuk dan matahari enggak terik. Gelar tikar (thanks Nyanya) dan bawa makanan buat sharing. Angin sepoi-sepoi bikin ngantuk. Orang-orang yang berseliweran pun cuma sedikit. Kebanyakan melirik dikit lihat kami pada heboh piknik, wekekeke.

IMG_5033

Gw bawa bacang dan jajanan pasar, Della bawa (baru beli deket kampus) air mineral beberapa botol gede kayak mau ngasi minum anak Marching Band latihan, Nyanya bawa pasta, Odah bawa somay, Maya bawa donat Animo, Dachi bawa anggur, Rivanie bawa “bekal anak sekolah kalau renang” alias indomie goreng diberi sentuhan saus cabai khas Padang buatan ibunda plus nugget.

Sylvi bawa puding, Hesty bawa nasi kepel Dapur Mama Thia (hasil rikuesan gw, haha!), Anggi bawa brownies, Susi bawa kue pie, Dechu bawa… Dia bawa apaan ya? Yang pasti dia bawa anaknya yang bermuka datar dan menggemaskan!

Kenyang banget makan semua perbekalan ini… Diselingi haha hihi terus kadang diem saking udah capek ketawa. Yang udah kawin pada bawa suami (kecuali Dechu karena suaminya lagi di bandara). Yang punya anak pada bawa anak. Yang masih jombs membawa beban hidup saja.

 

Lanjut piknik ke mana lagi nih?

Jalan Jalan Jepang – Harajuku & Johnny’s Shop

Harajuku yang terkenal itu jadi tempat persinggahan di hari pamungkas. Jajanan apa yang wajib dibeli di Harajuku? Tentu saja crepes! Kalau di Jakarta, Momi & Toys adanya di mal mewah, di sini bentuknya gerobak pinggir jalan euy! Ya enggak gerobak juga sih, tapi memang di pinggir jalan.

Takeshita Street penuuuuuh turis, termasuk Indonesia. Di sini gudangnya toko-toko baju lucu, tapi ukurannya gak ada yang sesuai ama gw. Huft, cewek Jepang kurus-kurus.

Salah satu yang menyebalkan di Jepang adalah mahal-mahal euy! Kaos kaki lucu aja harganya tiga kali lipat dibandingkan Korea. Huhuhu. Jadi kebanyakan sih cuma cuci mata aja di sini, sambil mengeluh “uh harusnya dari kemarin gw ke sini biar bisa seharian”.

IMG_9509

Makan siang di Takeshita Street

Habis itu Dachi, gw dan Maya memutuskan untuk pisah. Dachi mau ke Solamachi, sementara gw yang belum puas di Harajuku masih pengen lihat-lihat. Apalagi belum sempet ke Kiddyland. Modem internet diberikan ke Dachi, gw dan Maya ngandelin public Wi-Fi gratisan yang ternyata tidak bisa diandelin…

IMG_9517

Purikura alias foto box yang bikin mata jadi lebih besar

Gw tuh pengen banget ke Johnny’s Shop, tapi ya buta arah. Udah ngikutin peta, tapi tak kunjung terlihat. Nanya sama mbak-mbak pegawai toko, dia sama sekali gak bisa bahasa Inggris. Akhirnya dia pake Line Translate yang ujungnya tidak bisa dimengerti juga.

Gw mencari korban lain, perempuan yang lewat langsung gw cegat. “Jyaniisu shop doko desuka?”.

Rupanya dia tahu tempatnya! Bukannya ngasih petunjuk, dia nganterin sampe depan toko yang letaknya memang tersembunyi. Dese jalan cepeeet banget, gw aja ngos-ngosan, sementara si Maya ketinggalan (pasti dia saat itu lagi sebel banget sama gw yang ngotot mau ke Jonis padahal kaga niat beli).

A post shared by Nanien (@nanience) on May 7, 2017 at 6:27pm PDT

 

Terus si Jonny’s Shop ini masang pengumuman gak boleh moto. Begitu si Maya udah ngeluarin hengpong buat cekrek-cekrek, kami ditegor satpam. Setelah dijelasin kami cuma mau poto di depan plangnya, dia akhirnya ngebolehin.

Uuuuuu senangnya, pas banget abis itu hujan makin deras jadi kayak “cepetan cepetan potonya keburu basah!”.

Pas lagi sumringah, gw diliatin gitu sama para cewek-cewek yang lagi antre masuk ke toko (kayanya antre ke kasir) Jonis. Meheheh. Biarin aja norak, namanya juga datang dari jauh.

Nanggung dong masak gak masuk sih (walo tetep ga niat beli). Kami masuk deh, buat lihat-lihat seperti apa tokonya. Ya ampyun, minimalis banget. Palingan yang dijual foto-foto si artis gitu. Gw udah dapet satu, dikirimin Satoko.

Lagian kalo gw lebih minat sama barang yang bisa dipake, misalnya kaos atau tas Arashi. Itu biasanya dijual pas konser, tapi kapan ya gw bisa nonton konser mereka? Semoga masih sempat, sebelum mereka bubar kaya SMAP. Huhuhu.

IMG_9520

🙂

Dari Jonis, gw ke Kiddyland. Ini nih salah satu pelajaran penting.

Jangan belanja di hari terakhir, apalagi kalo lo mepet mau ke bandara. Selama beberapa hari awal gw menahan diri gak belanja karena memang mau ngabisin duit di Kiddyland.  Setan shopping yang selama beberapa hari dirantai pun melepaskan diri. Woooooo beli ini, beli itu.

IMG_9524

Hujan di Omotesando

Si Maya mau beli sesuatu di toko lain, jadi kita janjian di luar Kiddyland. Terus, hujan deras. Sama-sama gak punya koneksi internet jadi gak bisa kontak-kontakan dan…. gw belanjanya lama. Mohon maaf lahir batin ya, May.

Janji ketemuan sama Dachi di Solamachi pun molor. Aduh, yang emosi bakal nambah lagi nih. Ofkors mbaknya masang muka lempeng tapi tetep serem. Mohon maaf lahir batin ya, Dach.

Kita balik lagi ke stasiun Ikebukuro buat ketemuan sama Anggi dan Rizka. Konflik mencuat di jam-jam terakhir. Namanya udah capek, bawaan berat, belum tahu di mana halte buat nunggu bis ke bandara. Naik lift ini, ternyata keluarnya di tempat yang berbeda. Turun lagi, cari lagi lift lain. Hectic lah. Pergi sama rombongan gede, pasti ngandelin salah satu. Jadinya kalo satu rempong cari arah, sisanya ya diem aja.

Tetiba si Anggi meledak emosi sambil nyari informasi soal airport bus. Kopernya yang gede ditinggalin karena dia mau lihat jadwal di halte dan setelah sekian detik berlalu enggak ada yang mau rela geretin.

Mau tak mau gw tarik dah itu koper yang rodanya dua. Koper gw juga rodanya dua. Bisa kebayang kan gw kayak narik gerobak, tapi dua biji? Pas lagi nyebrang zebra cross, dua pria Jepang memandang gw seakan terpukau.

“Sugoi!” kata salah satu dari mereka.

ADUH MALU. Gw takut disangka otaku abis belanja banyak di Ikebukuro gitu ampe bawa koper gede dua biji.

Ternyataaaaa bis ke airport udah lewat. Pilihannya nunggu jadwal selanjutnya atau naik kereta (yang belum jelas di peron berapa, dsb). Dan kami pun balik lagi ke dalam stasiun (ngos-ngosan). Karena buru-buru, bawaannya udah gak tertib lagi biar bisa cepet masuk ke kereta sampe hampir nabrak nenek-nenek.

Suasana lumayan tegang. Yang bete, yang diem, yang yang yang digoyang goyang yang. Tapi waktu itu gw mikir “ini bakal jadi cerita kocak kalau kita inget-inget di kemudian hari” xD

IMG_9534

Kereta ke bandara, luas dan ada tempat buat koper

Begitu sampe di bandara, udah ada Yuni dan Dyah yang ngantre duluan. Uh, super hectic lah, takut ketinggalan soalnya mepet gitu. Dag dig dug juga semoga bawaannya gak melewati jatah berat bagasi (maklum budget airlines).

Perjalanan berakhir dengan aman. Konflik sudah meredup. Hati senang dan banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk traveling bareng teman-teman di kemudian hari. Apa aja hikmahnya? Entar aja lah kalo mood bakal ditulis.

Goodbye Tokyo!

Jalan Jalan Jepang – Shibuya, Asakusa, Akihabara

IMG_9376

Shibuya 109! Tempat ini jadi latar belakang utama komik GALS, salah satu favorit yang masih nangkring di rak buku gw.

Pada hari itu, rombongan tujuh orang berpencar jadi tiga tujuan. Gw sama Anggi menjelajahi Shibuya, Asakusa, Tokyo Solamachi dan ditutup dengan Akihabara.

Gara-gara kehujanan di gunung Fuji, sepatu gw basah kuyup dan tidak memungkinkan dipakai hari ini. Dodolnya, gw gak bawa alas kaki cadangan. Akhirnya gw pinjem sandal jepit (lupa punya siapa) dan berniat beli sepatu aja di Tokyo.

Antimainstream banget. Di tengah Shibuya yang penuh dengan orang trendi, ada satu orang jalan pake sendal jepit LOL.

Tapi gw sama Anggi ternyata kepagian, soalnya toko-toko belum pada buka.

Aduh, mamak! Mana perut mendadak sakit ingin mengheningkan cipta. Begitu gedung dibuka, ambil langkah seribu ke toilet.

IMG_9473

Seharian dipake selama hujan, masih kinclong.

Hari itu juga hujan turun deras. Tapi saking bersihnya jalan, sepatu baru sama sekali tidak punya jejak becek, tanah kotor atau apalah. Cuma basah aja tok.

IMG_9390

 

Tujuan berikutnya adalah kuil Sensoji di Asakusa. Walau hujan, tempat ini tetap ramai lho!

Banyak jajanan seru di sini, tapi karena terlalu banyak orang, ditambah payung-payung jadi asa riweuh dan males aja. Lagian kami udah beli bekal onigiri di Lawson, jadinya cari pojokan kering di Sensoji, terus brunch sambil memandangi Tokyo Sky Tree di kejauhan.

IMG_9411

Kenyang, lanjut lagi ke Tokyo Sky Tree. Di sini Anggi galau lamaaaaaaa banget mau beli pouch/tempat hape/tempat kartu kereta Minnie Mouse di toko Disney. Untung akhirnya dia beli sih, hahaha.

IMG_9454

Kita juga mampir ke toko Ghibli yang gede dan lengkap di sini. Di dalam Sky Tree itu ada pusat perbelanjaan namanya Solamachi yang akan membuatlo kalap. Kafe lucu, barang lucu, makanan enak, pokoknya serba ada.

Setelah terpapar nuansa tradisional macam kuil, Solamachi adalah pilihan tepat bagi pelancong yang kangen suasana mal buat belanja. Kalo ga punya duit ya lihat-lihat saja sambil meringis miris. Atau ikuti cara gw, pergi ke toko-toko kue yang ada tester. Lumayan camilan gratis.

Di lantai-lantai atas, deket tiket menuju menara observasi, ada toko yang menjual segala barang bergambar maskot TV-TV Jepang sampe tokoh anime! Dari chibi maruko-chan sampai anime yang entah apa lagi gw gak kenal, lengkap banget. Intinya sih kalau lo demen banget belanja, Solamachi adalah tempat wajib kunjung.

IMG_9461

Next, Akihabara! Gak afdol kalau ga mampir ke tempat kakaknya JKT48. Selemparan kolor dari stasiun JR Akihabara, lo bisa masuk ke AKB48 Cafe & Shop. Siapa tau mau beli foto-foto member gitu… Kebanyakan yang dateng sih semacam bapak-bapak yang baru pulang kerja.

Pastikan lo mampir juga ke toko elektronik Yodobashi-Akiba yang bisa ditempuh dengan jalan kaki kalau mau cari barang elektronik atau mainan seperti gundam.

Malam itu kami ketemu senpai yang ngasitau tempat makan beef katsu. Emang ya Tokyo tuh serba sempit, dari luar boro-boro kelihatan kaya warung atau restoran. Letaknya di basement, jadi kita harus turun tangga di sebuah bangunan kecil yang berlokasi di sebuah gang di Akihabara. Kirain mah gudang…

IMG_9483

Restorannya di bawah tangga

Restorannya imut banget. Mungkin kapasitasnya mentok cuma belasan orang. Bentuknya kayak bar, jadi kita duduk menghadap dapur di mana koki sibuk masak. Cuma ada satu meja isi empat orang di pojok untuk mereka yang datangnya rombongan.

IMG_9476

Thanks God ada english menu (kalau ke restoran Jepang, tanya punya english menu apa gak, kalo gak lo bingung deh mau mesen apa).

Gw mesen beef katsu yang dalemnya rare dengan harga 1.200 yen. Mahal ya? Iya, TAPI EMANG ENAK BANGET! Jauh lebih setimpal ketimbang unagi 4.000 yen. Mehehhehe.

Beef katsu ini luarnya renyah kriuk, dalamnya lembut. Salad kentangnya juga enak banget. Pokoknya semua sajiannya memuaskan.

IMG_9480

Ngeliatnya aja jadi laper, oh beef katsu

IMG_9481