Jalan Jalan Melbourne – Nonton Layar Tancep Ilegal

Wisata apa yang pastinya dipilih sebagian besar turis Indonesia? Wisata MAL! Wisata belanja! Itulah yang membuat tuan rumah Melbourne mengajak gw ke pusat perbelanjaan Chadstone, berlindung dari terik matahari dan ngadem di dalam ruangan berpendingin udara.

“Ini keren banget bangunannya!” si tuan rumah berpromosi.

Iya sih, futuristik gitu lah. Langit-langitnya transparan, memperlihatkan birunya langit Melbourne. Selebihnya ya sebelas dua belas dengan mal-mal Jakarta yang megahnya ampun-ampunan.

DSC04344

Kalau duitnya berlimpah sih seneng main ke mal, kalau ngepas yah… main aja ke toko bertuliskan SALE. Lumayan tergoda lihat tas khas Melbourne yang lagi diskon. Ternyata merek itu ada di Jakarta tapi harganya MAHAL BANGET.

Beneran, kalau ada teman atau saudara yang bisa dititipin, gak usah beli di Indonesia. Perbandingan harganya selangit. Contohnya, tas yang gw incar harga aslinya Rp1 juta (belum diskon), nah di Lotte Shopping Avenue Kuningan, harganya Rp2 juta (atau lebih dikit, lupa). Edan kan.

DSC04545

DSC04374
Shrine of Remembrance

Setelah belanja dan beli buah ceri sekilo buat camilan + asupan vitamin, kami balik lagi naro-naro barang, kemudian lanjut jalan-jalan sore ke Kebun Raya Bogor-nya Melbourne alias Royal Botanical Garden yang letaknya selemparan kolor dari bangunan Shrine of Remembrance.

Yang mana sih si Shrine ini? Itu loh, salah satu latar belakang foto mesranya Chelsea Islan sama pacar. Dipajang kok di Instagram dia. #InfoTakPenting.

The Shrine ini salah satu dari banyak memorial perang yang gw lihat di Australia. Iya, banyak banget. Ke Geelong ada, ke Brighton Beach juga ada.

Kalau di Indonesia sih lebih banyak warung sama alfamart/indomaret ketimbang war memorial.

The Shrine petang itu sepi banget. Ada sih segelintir orang, tapi ya sudah mereka cuma duduk-duduk manis di tangga. Karena kesorean juga gw ga bisa masuk sih (kata Lescha) ke dalam bangunannya. Duh, sore-sore gitu padahal pengen jajan.

Kalau ngebayangin ini Jakarta, di halaman luas tanpa manusia itu pasti sudah diisi dengan berbagai gerobak kaki lima. Bisa jajan cantik sambil menikmati petang di Melbourne.

 

Tak jauh (kalau jalan lumayan olahraga) dari The Shrine kita bisa menikmati pepohonan rimbun di Kebon Raya Melbourne alias Royal Botanic Garden.

DSC04441

DSC04394

Banyak tempat buat piknik, duduk-duduk menghirup udara segar, bahkan ada rumpun bambu yang kalau diatur sedemikian rupa mirip Arashiyama di Kyoto, Jepang atau di pintu masuk tempat golf di Senayan.

DSC04423
Arashiyama versi Melbourne

DSC04435

DSC04440

Lagi asyik jalan-jalan, terlihat balon besar berukuran segiempat yang ternyata merupakan layar untuk layar tancep. Woelaaah pake balon cuy, lebih canggih dikit. Udah ada ratusan orang berkumpul di depannya.

Tapi enggak kelihatan itu acara apaan, film apaan, tempat masuknya di mana, serba enggak jelas.

Sebagai pencinta gratisan, gw mencari tempat-tempat untuk bisa nyempil dan nonton tanpa bayar apa-apa. Ternyata sulit, saudara-saudara. Daripada ditangkep polisi karena menyelinap secara ilegal, mendingan jalan-jalan aja lagi.

Mau nonton juga enggak tahu bayar berapa, enggak tahu film apa plus enggak bawa perbekalan dan jaket.

Gw mungkin bisa diselamatkan oleh lemak dari hembusan angin dingin Melbourne, si Lescha yang stok lemaknya gak seberapa sih bisa tersiksa kalau maksain nongkrong ampe malem.

 

DSC04451
Lebih enak salad Pizza Hut dan dressing salad Jepang

 

Setelah berjalan jauh, nemu deh tempat duduk menghadap danau buat “piknik” yang isinya cuma salad diskon 50 persen karena udah mau basi. BTW ini gw nemunya cuma di Coles jauh. Pas nyari di deket rumah diskonnya enggak sampe 50 persen. SEBAL.

“Pelit banget sih, lo? Segitu udah murah banget!” begitu kata temen kalau gw misuh-misuh ga dapet diskon besar. Yaaah… gimana ya. Gw kan cuma tahu diri aja, menyesuaikan pengeluaran sama pendapatan 🙂

Kalau duitnya dihemat kan masih ada dana buat jalan-jalan ke tempat lain lagi, nyihihi.

Balik ke soal layar tancap. Kita tuh duduk di tempat yang bisa ngintip sebagian kecil layar. Gak begitu keliatan, tapi yang pasti bisa denger lah audionya.

Screen Shot 2018-06-20 at 11.27.02 AM

Di dekat tempat duduk kami tuh ada mas-mas bule yang mondar-mandir aja. Kirain calo tiket apa gimana, ternyata dia emang penjaga tiket yang ngecekin cap di tangan penonton yang keluar venue untuk ke WC.

Dari dia kami mengetahui kalau film yang diputar adalah “Thor”. Kirain “Thor” yang dulu, ternyata film “Thor” terbaru yang sayang banget belum gw tonton. Kalau tahu dari awal, gw mungkin udah meneguhkan hati untuk ngeluarin duit bayar tiket nonton….

Beberapa bulan kemudian akhirnya gw menonton Thor Ragnarok itu, dan emang itu pelem jauh lebih bagus dari dua pelem sebelumnya.

Salad tuntas. Film dimulai. Tapi leher enggak kuat buat ngintip-ngintip ke layar. Pulang aja deh, lagian udah gelap jelang Magrib (jam setengah sembilan malam waktu setempat).

Balik lagi ke rute awal, lewatin The Shrine yang sekarang terlihat megah karena ditimpa lampu sorot. Langit juga lagi cakep-cakepnya nih, blue hour.

Sebelum pulang, mumpung latar belakangnya bagus, kami bikin video klip ala Raisa, Isyana, TWICE dan IU dulu sambil joget-joget ngelilingin api yang jadi pajangan di halaman The Shrine. Untung bule-bule yang lewat pada cuek, enggak tereak “orang gila! orang gila!”.

DSC04493

DSC04527
Cuplikan video klip 90-an “Lagi Chayank Malah Ditinggal”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s