Cosmo Clock 21 tidak seromantis itu

Ferris wheel atau kincir hampir selalu jadi setting untuk adegan romantis dalam dorama. Biasanya sih di akhir-akhir cerita, pas mau nembak atau ngelamar. Yang klise sih berakhir dengan adegan kisseu kisseu.

Sejauh ini Cosmo Clock 21 di Yokohama adalah satu-satunya kincir yang pengen banget gw datengin, murni gara-gara anime Honey and Clover.

Tadinya sih gw kira ferris wheel di situ cuma fiksi, tapi belakangan sering lihat kincir serupa (yang ada jam di tengahnya) di dorama live action sehingga gw mikir kayaknya ini kincir emang ada di dunia nyata.

(Cosmo Clock ada di detik 1.35)

Anime yang biasa disebut Hachikuro itu entah kenapa beneran masih nyangkut di hati walau sudah lebih dari satu dekade berlalu. Tema cinta bertepuk sebelah tangan yang dirasakan oleh banyak karakternya kali ya yang related sama cinta monyet gw dulu. *mata menerawang*

Sebenernya gw udah pernah ngeliat si Cosmo Clock 21 ini pas pertama kali ke Jepang, setelah berkunjung ke museum Surat Kabar di Yokohama. Tapi waktu itu cuma lihat sekilas dari jendela bis. Itu pun udah agak histeris sendiri.

DSC01978

Saat itu gw bertekad kapan-kapan harus bisa menjejakkan kaki ke sana, ke Yokohama, ke tempat syuting banyak dorama. Juga ke Cosmo Clock 21.

Ketika berkunjung ke Osaka, gw dan teman-teman mampir ke akuarium Kaiyukan. Ada Tempozan ferris wheel di sana, tapi gw yakin yang di sana bukanlah ferris wheel yang ada di Honey and Clover soalnya enggak ada jam di bagian tengahnya.

Cosmo Clock 21 langsung terhampar nyata di depan mata begitu kita keluar dari stasiun Minato Mirai. Sebenarnya dia itu bagian dari taman bermain mini gitu.

Gw waktu itu duduk aja di bangku-bangku yang tersedia teras yang nyambung sama stasiun/mal/gedung. Pemandangannya langsung menghadap ferris wheel ini.

Nongkrongnya sambil nyeker, sepatu dilepas, ditaro di bagian yang terkena sinar matahari karena hari itu cuaca terik tapi anginnya sejuk.

Sepatu gw basah kuyup gara-gara hari sebelumnya diterpa taifun di Tokyo (terus enggak punya sepatu lain). Sebenarnya udah ngakalin naro tisu yang banyak di sol sepatu, tapi masih lembab.

Surprisingly, entah kenapa tiap kali sepatu yang basah kuyup di Jepang enggak pernah bau walau dibiarin basah semaleman. Kaki pun enggak bau. Udah dua kali kejadian kayak gitu loh.

Setelah sepatu kering, gw mulai berjalan mengikuti papan petunjuk Cosmo Clock 21 bersama rombongan mamah-mamah muda Jepang dan stroller berisi bocah-bocah menggemaskan.

Teringat kata Yuni yang nekat naik ferris wheel ini sendirian waktu ngebolang, “Tapi diliatin orang Nien (karena sendirian).”, gw agak-agak pengen ikutan naik juga walau tiada teman.

Kayaknya siang-siang kurang asyik ya, terus sepi pula tempatnya, ya sudah gw melipir dulu ke Cupnoodles Museum sampai sore, lalu kembali bersantai di Akarenga (Red Brick Warehouse) yang sekarang isinya toko-toko lucu serta restoran.

DSC01967
Akarenga

Jelang magrib, balik lagi ke Cosmo Clock 21. Langitnya udah cakep banget tuh, warna-warna senja yang romantis. Mana udaranya dingin pula. Kalau ada Sho mungkin udah gw kekepin.

DSC01983
Senja di Yokohama, pemandangan aslinya yang dilihat mata lebih romansa

Kepalang tanggung, ayolah kita jabanin itu ferris wheel. Gpp bayar tiket kan penghematan sudah dilakukan siang tadi dengan menyantap onigiri murah di Lawson.

Petugas tidak memberi pandangan “cuma-sendirian-naik-kincir?-kasian-amat” saat gw membeli tiket Cosmo Clock 21. Saat itu emang lagi sepi, enggak ada yang antre tapi yang naik lumayan banyak. Rata-rata sih keluarga karena itu kincir ternyata luas. Bisa muat sampai delapan orang lah.

DSC01987

 

DSC01997

Pemandangannya cakep deh, apalagi udah senja gitu. Sampai suatu ketika menuju puncak, angin mulai menderu kencang, suaranya yang masuk ke lubang angin terdengar horor, menggoyangkan tempat gw duduk…

DSC01991
Sebelum ketakutan

ADUH HARI INI BELUM NELPON MAMAH NGASIH TAHU MAU KE YOKOHAMA, TERUS KALAU INI KENAPA-KENAPA ORANG RUMAH ENGGAK AKAN TAHU GW LAGI DI MANA. ADUH TAPI GW BAWA PASPOR KAN YA JADI KALAU ADA APA-APA SETIDAKNYA TUBUH GW BISA DIIDENTIFIKASI.

Beneran, gw waktu itu takut membayangkan kemungkinan terburuk. Ada di ruang tertutup, jauh dari permukaan, sendirian di negeri orang, kalau tetiba ada masalah yah susah deh. Langsung baca-baca doa minta keselamatan. Boro-boro romantis. Deg-degan sih iya, tapi untuk alasan yang berbeda.

Di luar itu semua, pemandangannya cakep!

DSC01995

Karma kali ngetawain Agnes dulu di Asiatique. Ya kalo rame-rame sih gw enggak takut ya, tapi kayaknya pas di ferris wheel lain anginnya enggak pernah segila ini.

Turun dari Cosmo Clock 21, langit udah gelap dan pemandangan semakin syantik berkat lampu-lampu dan bulan sabit yang bersinar cerah.

Malam di Yokohama ditutup dengan makan subway tuna, sambil kembali duduk di teras menghadap ferris wheel yang kini dihiasi lampu-lampu interaktif (cek di video di atas penampakannya).

Dadah Yokohama, sampai jumpa kalau memang kita berjodoh lagi!

DSC02010

DSC02005

DSC02011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s