Emosi Jiwa di Surabaya

Trio Mamam menjajal kegiatan yang tidak berhubungan dengan makan. Biasanya menimbun lemak, sekali-kali kalori juga harus dibakar. Caranya?

N A I K  G U N U N G

Tepatnya ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Tempat dari fenomena api biru yang tiada tiganya (soalnya ada dua di dunia, satu lagi di Islandia).

Gw mengiyakan atas dasar kepercayaan diri atas ketahanan fisik yang ditempa lewat rutinitas berdiri di TransJakarta selama minimal 1,5 jam.

Konon sebaiknya sih olahraga dulu, minimal sepekan sebelum naik gunung.

Gw yang terakhir kali lari beberapa tahun silam pun mulai menyempatkan diri bangun subuh jogging di komplek sebelah. Hasilnya kaki langsung nyeri dan pegal. Meringis tiap naik dan turun tangga.

Tiba akhirnya hari pertama menuju Surabaya. Drama babak pertama dimulai ketika si food journo terjebak macet dan akhirnya ketinggalan pesawat. Ya udah, gw dan Dachi akan jalan-jalan syantik sebelum Maya tiba di Surabaya dengan penerbangan selanjutnya.

Ternyata gagal syantik, yang ada kucel dan kumal akibat drama taksi online.

Sama seperti di Jakarta dulu, taksi yang dipesan secara online lagi dimusuhin di Surabaya, tepatnya di tempat seperti bandara. Bahkan ada yang ditelanjangin di bandara Juanda saking pada emosi para pengendara taksi konvensional.

Biar aman, kami mesen taksi Blue Bird lewat fitur Go-Bluebird di Gojek. Pertimbangannya, bentuk luarnya Blue Bird jadi supirnya aman dari amuk massa. Rupanya kami lagi apes, dapet supir yang paranoid setengah mati. Dari bandara kami disuruh jalan lurus terus sampe hampir ke pintu keluar yang dekat jalan tol.

Satu, jauh.

Dua, panas.

Tiga, bawa ransel berat.

Sepanjang jalan udah ada banyak taksi yang klaksonin, nawarin jasa siapa tahu kami mau naik. Kalau enggak inget sama si supir yang udah dipesen, rasanya pengen nyetop mobil mana aja yang lewat.

Ternyata supir yang paranoid itu lagi parkir di pinggir jalan, tapi dia enggak berani mendatangi kami karena takut terlihat mencurigakan alias ketahuan dipesan lewat aplikasi. Padahal taksi-taksi lain juga santai aja mau berhenti di tengah jalan naikin penumpang.

Gw ama Dachi udah jalan kaki jauh sampe ngelewatin taksinya, tapi dia masih enggak mau membiarkan kami masuk dengan klaim di sebelahnya ada petugas bandara.

Dachi pun naik pitam setelah supir meminta kami untuk jalan lebih jauh lagi. Mending cancel aja deh daripada dikerjain begini. Momen ketika Dachi marah-marah di telepon itu sungguh epic, untung gw abadikan. Kalau lagi sedih, biasanya gw suka nonton video Dachi ngomel. Mayan terhibur.

 

 

Setelah memutuskan hubungan yang tidak baik-baik, kami jalan ke luar gerbang bandara untuk naik Damri yang lagi berhenti. Penuh bisnya, jadi harus berdiri dengan ransel segede alaihim gambreng. Untung jarak dari bandara ke terminal Purabaya enggak terlalu jauh.

Dari situ lanjut naik bis tanpa AC dengan kondisi busuk seperti Mayasari P6 jurusan Kampung Rambutan – Grogol dua dekade silam. Minta kondekturnya turun di pengadilan karena menurut mbah Google, lontong balap Pak Gendut yang kami incar ada di dekat situ.

Perjalanan lumayan panjang, tapi gak masalah karena ongkosnya murah meriah.

IMG_3291
Lontong Balap Pak Gendut

IMG_3293

Lontong balap ini letaknya di trotoar, barengan sama makanan kaki lima lainnya. Gw sama sekali enggak pernah tahu atau mendengar tentang lontong balap, jadi tiada ekspektasi.

Kalau kata orang-orang ini lontong enak pake banget, buat gw ya enak saja. Beda selera sih ya. Gw lebih suka yang gurih-gurih gimana gitu, sementara ini rasanya lebih kalem dan tidak meledak-ledak.

Meskipun begitu, rasanya tidak sehambar yang gw kira karena ada sambal pedas. Yang enak itu sate kerangnya, imut-imut tapi lumayan juga harganya. Satu orang bayar sekitar 20.000-an udah termasuk segelas es kelapa.

Kelar makan, leyeh-leyeh di hotel sambil nungguin Maya. Berhubung mager, kami wisata kuliner dengan mengandalkan Go-Food.

Makan rujak cingur, gado-gado dan sate klopo Ondomohen yang ternyata ENAK BANGET. Tak ada foto karena makanan sudah kadung dilahap. Terlalu barbar.

Malamnya kembali berburu makanan. Kali ini bebek Palupi jadi incaran.

Yang wajib banget dicoba di restoran ini adalah bumbu kuning, kayak minyak gurih di ayam ungkep, enak banget kalo dicampur ke nasi panas.

IMG_3299

Masih lanjut lagi loh… Pencinta jahe ingin memuaskan hasrat untuk minum yang hangat-hangat sebagai upaya mencegah penyakit masuk angin yang lazim di kalangan alumni remaja (mbak-mbak).

Melihat dari Google Map, yang paling dekat dengan review positif adalah Angsle & Ronde Pak Imam depan Bonnet Manyar Kertoarjo. Cus ke sana!

IMG_3306

IMG_3308
Wedang Ronde
IMG_3311
Angsle pakai santan

Tempatnya kecil, cuma beberapa meja dan kursi plastik di depan toko yang sudah tutup. Kami lagi beruntung karena pas lagi agak sepi jadi pesanan langsung datang.

Soalnya baru beberapa menit berlalu, tiba-tiba pembelinya seabrek-abrek ngantre panjang. Lucky!

Dua-duanya enak. Harganya juga oke di kantong, hanya 8000 rupiah.

Di sini, kami juga ketemuan sama Nyanya dan Omo yang kebetulan lagi di Surabaya juga. Jodohhhh pasti bertemu… Dua tahun lalu kami (dengan rencana berbeda) kebetulan sama-sama liburan ke Jepang dan akhirnya ketemuan di Kyoto.

Emang ya saking macet Jakarta sampe ketemuan pun susah, mending sekalian berjumpa di tempat yang jauh aja dah. Ketemuan enggak sengaja selanjutnya di mana ya, Maroko? (Aamin).

Tujuan makan selanjutnya ditentukan oleh Nyanya – Omo yang pengen makan rawon syaiton. Ngikut aja lah soalnya kami belum ada rencana mau melahap apa lagi.

Cus ke warung pojok persis di depan toko tekstil Moro Seneng. Ketika mas-masnya masih mendirikan tenda, calon pengunjung sudah mulai berdatangan. Pertanda bagus nih.

Bener aja, begitu warung siap melayani pengunjung, tempatnya sudah lumayan penuh. Sayang sekali kami ke sini dalam keadaan kenyang, jadi cuma pesan nasi rawon+pecel dengan topping paru kriuk (bisa nasi rawon saja, nasi pecel saja atau dicampur kayak pesanan kami).

Biasanya makanan apa pun akan terasa kurang enak saat perut kenyang, TAPI INI ENAK BANGET SAUDARA-SAUDARA!

Bayangin aja gimana kenikmatannya akan berlipat ganda andai ke sini dalam kondisi perut kosong!

IMG_3341

IMG_3332

IMG_3334

 

Iklan

2 pemikiran pada “Emosi Jiwa di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s