(Review) Reverse, reuni Tatsuya Fujiwara & Toda Erika

Tatsuya Fujiwara dan Erika Toda adalah salah satu pasangan on screen yang tak terlupakan (at least for me) berkat film legendaris Death Note.

Yaa, waktu itu gw adalah salah satu orang yang kurang setuju sama pemilihan aktris Misa yang harusnya imut-imut lolita tapi yang memerankan malah Erika Toda yang kagak ada aura lolita sama sekali.

Di luar aktingnya Erika Toda yang enggak jelek, tetap saja gw agak gemes lihat Misa yang bersuara rendah, bukannya sok imut dan sengau macam para pelayan di maid cafe.

Tatsuya Fujiwara sendiri lebih familier karena gw sebelumnya nonton Battle Royale yang darahnya crat crot syuur kayak disemprot pakai selang air saking hebohnya.

Nah, kebetulan pas gw lagi ke Jepang tayangan di televisi lagi memperlihatkan behind the scene dua orang ini dalam drama baru. Kayaknya heboh banget aja gitu, udah Kame-Yamapi reuni sekarang giliran mereka.

Niat menonton baru menyeruak lagi setelah didorong oleh mbak Ayu yang lagi suka sama Kis My Ft2 (yang gw anggap mereka dedek-dedek karena debutnya jauh setelah Arashi, tapi ternyata usianya tua2 juga).

Oke deh, mari nonton Reverse.

Rupanya ini drama yang berbau-bau misteri. Empat orang pria dewasa menjalani hidupnya dengan normal, tapi di lubuk hati terdalam mereka punya penyesalan terkait kematian seorang teman sepuluh tahun lalu.

Tatsuya Fujiwara jadi pegawai di perusahaan kecil, kerjaannya enggak jelas, tapi yang pasti dia paling jago menyeduh kopi. Duilah bang kenapa lo gak kerja jadi barista aja deh.

Ada juga temennya yang jadi guru, politisi (mengikuti jejak bapake) sama pegawai kantor terkemuka.

Alur dramanya kayak Syahrini, maju-mundur-syantiik. Flashback mulu ke kejadian saat lima cowok (yang metong si Koike Teppei yang imut banget walo udah kepala tiga) mahasiswa ini liburan ke gunung saat salju.

Empat orang naik mobil, kecuali si anak yang jadi politisi. Dia nyusul naik kereta gegara mengalami kecelakaan gak jelas. Di penginapan, Tatsuya dan Teppei menolak minum alkohol.

Di Jepang, lo gak minum alkohol mungkin sama kayak lo gak suka sambel di Indonesia. Mencengangkan banget deh.

Tatsuya yang emang alergi alkohol tetap menolak, si Teppei akhirnya mau-mau aja minum dua kaleng bir. Yang lain minum wine. Terus, temennya yang naik kereta nelpon minta dijemput di stasiun soalnya gak ada taksi gara-gara hujan salju lebat. Pokoknya bukan kondisi yang ideal buat nyetir mobil deh.

Tatsuya gak bisa nyetir, Teppei baru dapet SIM, sisanya enggak mau karena bilang terlalu mabuk terus ogah kena masalah kalo ketahuan nyetir sambil mabok (“aku udah dapet kerja di perusahaan keren!” dan “aku pokoknya harus jadi guru jadi ga boleh ada catatan buruk!”).

Tebak siapa yang berangkat? Tentu Teppei.

Tapi dia tidak pernah sampai ke stasiun. Beberapa jam berlalu, dua orang selain Tatsuya memutuskan untuk mencari Teppei. Yang ketemu adalah mobil terbakar yang masuk jurang. Jenazah teman mereka pun baru ketemu enam bulan kemudian karena terseret arus sungai.

Fakta bahwa Teppei minum bir sebelum nyetir mereka sembunyikan dari polisi karena somehow takut dan gak mau kena masalah. Rupanya kebohongan ini jadi beban hidup yang masih terbawa sampe satu dekade.

Keempatnya bertemu lagi di reuni sekolah, di sana sudah ada bapak tua mantan polisi (yang dulu jadi Kinpachi sensei) berlagak macam stalker. Dia yang dulu ngurusin kasus Teppei. Kasusnya dianggap sebagai kecelakaan, tapi dia bersikeras ini mungkin pembunuhan. Si Kinpachi sensei (maap gw males banget gugling nama asli) membuntuti setiap orang untuk bertanya lagi soal hal-hal yang belum mereka ungkap.

Pada saat yang sama muncul surat ancaman untuk keempat orang ini. Dunia mereka amburadul. Pekerjaan pun terancam.

Tatsuya stresssss berat dan akhirnya mulai bertanya-tanya, apakah ada fakta tersembunyi yang tidak dia tahu soal kejadian itu? Soalnya empat orang ini ada di tempat yang berbeda. Tatsuya di rumah, satu di stasiun, dua lagi nyebar pas lagi nyari Teppei. Jadi ada empat sudut pandang untuk kejadian yang sama.

Di tiap episode, kita dikasih lihat sudut pandang dari tiap orang yang ternyata menaruh kecurigaan pada teman yang lain. Di episode 2, curiga sama si B. Di episode 3, kok kesannya si C yang bunuh, dst.

Penonton diajak untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang benar, siapa yang bohong, siapa pembunuhnya, benarkah dia hanya kecelakaan?

Twist-nya lumayan meski bakal terasa lebih klimaks kalau dibikin berakhir di episode 9 di mana gw beneran “YAAMPUUUN CIYAN ABIS GAK NYANGKA” (ada 10 episode, finalnya yah kurang greget).

Akting semuanya bagus-bagus, enggak ada yang gengges, meski mata gw masih haus lihat ikemen. Dari semua pemeran enggak ada yang beneran gw suka banget visualnya sih, not even Tatsuya Fujiwara. Kalau soal Kamenashi Kazuya, gw sebel banget sama alisnya yang dicukur.

Kalo si Tatsuya… rambutnya itu lho. So last decade (imao, yang gak setuju jangan marah-marah apalagi melaporkan saya pada polisi cuma gara-gara tersinggung). Mas kayaknya ngehits banget rambutnya kalo memang kita masih di era 2006. Ibarat liat Kevi* *p*i*io yang rambutnya setia pada model zaman lagu Laruku Ready Steady Go masih sering diputar di Prambors.

GANTI MODEL RAMBUT GITU LOH MAS TATSUYA FUJIWARA. MASA IYA KAGA BISA BAYAR STYLIST BUAT NYARI MODEL KEKINIAN TAPI CUCOK AMA MUKA SITU?

Kayak baru siuman dari koma sekian bulan terus lupa nyukur rambut. Gondrong ya gondrong tapi kagak rapi bener dah kesannya, bukan gondrong yang bikin “wow wild man wow sexy”.

Uhuk. Soalnya gw nonton film “Erased” juga semacam kesel sama rambutnya. Demikian.

Oiya, jadi gimana reuni Tatsuya Fujiwara dan Toda Erika? Di sini jadi kebalik, dulu Misa cinta mati sama Light, sekarang Tatsuya yang jungkir balik naksir sama Toda Erika. Mbaknya makin kurus ya dari waktu ke waktu, tapi rambutnya cakep. Walau gw kangen lemaknya di masa Ryusei no Kizuna. Entah perasaan gw aja apa gimana, ada yang beda dari Toda Erika selain lebih kurus kering. Gusi semakin gelap? Ah, entahlah. Mungkin pengaruh usia bertambah. Tapi aktingnya tetap oke oke aja.

Reverse adalah tipe drama yang bikin lo jarang ketawa (ada sih unsur lucu tapi dikit banget) dan serius. Berhubung gw nonton drama buat hiburan, gw lebih suka genre komedi atau romcom yang ringan dan bikin ngakak.

Buat gw ini drama mayan, bikin gw niat nonton sampe tamat tapi enggak akan gw ulang lagi. Once is enuff.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s