Jalan Jalan Jepang – Ninja Dilarang Ngorok

Mendaki gunung, lewati lembah/ sungai mengalir indah ke samudera/ bersama teman bertualang!

Cuplikan lirik lagu tema kartun Ninja Hattori hampir menggambarkan persis perjalanan menuju Iga Ninja Museum atau Ninja Museum of Igaryu.

Kereta kami melewati gunung, lembah dan sawah untuk tiba di sebuah desa yang jadi kampung halaman ninja: IGA. Bukan Iga Massardi yang emesh-emesh pakai batik lho.

Butuh hampir dua jam (atau lebih, tergantung pilih rute gimana) untuk sampe ke Iga yang lokasinya 70 km dari Kyoto.

Begini kira-kira rutenya:

Screen Shot 2017-06-26 at 6.32.03 PM

Kyoto – Kusatsu (Shiga) – Tsuge – Igaueno

Transit dua kali dengan kereta yang berevolusi. Dari kereta kota modern, jadi kereta kampuang yang sederhana, daaan berubah menjadi kereta dua gerbong (kayak di Wakayama) yang dihiasi gambar ninja.

IMG_0729

Kereta Ninja di Iga

Kereta terakhir cuma terdiri dari dua gerbong soalnya penumpang memang cuma sekiprit (enggak nyampe 10 orang). Maklum, ini di desa. Begitu sampe di Tsuge, hanya ada enam penumpang tersisa. Turis semua. Sepasang nenek kakek bule, sepasang nenek kakek Jepun dan kami.

Walau letaknya antah berantah, gw yakin kami enggak nyasar karena stasiunnya sudah didekorasi serba ninja. Mulai dari gambar yang menghiasi dinding sampe boneka ninja beneran yang menclok di sana-sini! Kalo malem mungkin serem ya kirain orang beneran lagi ngintip di langit-langit bersiap melempar shuriken.

IMG_0723

IMG_0726

IMG_0812

 

Cuma ada dua cara ke Iga Ueno dari Tsuge, nungguin kereta yang jarang lewat (sejam sekali kira-kira) atau bis. Tadinya mau naik bis, tapi ternyata jadwalnya juga sama aja kayak kereta. Lama!

Nungguin kereta sambil menahan lapar dan dingin (jaketnya kurang tebal). Kalo pas di Okayama, kita pake baju terlalu tebal dan malah keringetan, giliran ke Iga bajunya terlalu tipis! Soalnya enggak nyangka Iga itu ke arah-arah gunung lah jadi dingin menusuk.

Dari Tsuge ke Iga Ueno, kereta yang kami naik tidak termasuk jaringan JR, jadinya harus bayar lagi. Karena ini stasiun kecil di kampung nan jauh di mato, bayarnya juga manual. Sempet bingung bayar ke mana, ternyata ke petugas stasiun sepuh yang jaga peron pas kita mau keluar.

IMG_0736

Stasiun Iga Ueno

Langsung cari mini market terdekat karena lapar berat! Gw beli hamburger nasi, jadi nasi kepal jumbo dalemnya keju sama daging sapi terus dipanasin di microwave biar meleleh kejunya. Yum!

Pas lagi celingak-celinguk mencari jalan ke arah museum ninja (kotanya sepi, cuy, gak ada yang bisa ditanya) ada seorang ibu menghampiri.

Terus dalam bahasa Inggris yang lancar banget (bahkan logatnya bukan Jenggris) dia nanya, ada yang bisa dibantu? Ternyata dia emang kerja di bagian pariwisata untuk membantu turis-turis asing gitu, pantesan lancar bener bahasa Inggrisnya.

Tapi di luar itu semua, rata-rata orang di desa tuh memang jauh lebih ramah dan berinisiatif untuk membantu kalo lihat muka-muka asing kayak gw kebingungan cari jalan.

Di Wakayama ada ibu paruh baya yang mastiin kita enggak nyasar mulai dari halte sampe stasiun. Dia ngasih tahu kita harus naik bis apa ke stasiun, terus di dalam bis dia berdiri dari bangkunya ke arah kami untuk ngasih tahu berapa lama lagi turun (“haltenya di paling ujung”) dan berapa ongkos yang harus dikeluarin.

Pas sampe stasiun dia juga masih inisiatif ngasih tahu arah yang benar (padahal udah di depan stasiun loh) biar kita enggak nyasar. Kasihan kali ya liat dua cewek mungil bawa tas ransel menjulang hampir melebihi kepala sendiri.

Dia juga nanya, mau kemana (Kyoto) dan mengucapkan “itterasshai!” (selamat jalan). Uh,  berasa pamitan sama nenek sendiri.

IMG_0808

Loker di stasiun Iga Ueno

Oke, balik lagi ke Iga. Jadi, kalau lo naik kereta sampe Iga Ueno, yang perlu lo lakukan hanya lurus terus, lalu belok ke kiri menyeberangi rel. Lurus lagi sampai jalan menanjak, terus setelah lewat lapangan parkir, belok kiri dan kita akan tiba di pintu gerbang sebuah taman.

 

IMG_0798

Belok kanan ke arah museum ninja

IMG_0737

Mini Fushimi Inari

“Museumnya ada di bagian dalam taman, jalannya menanjak kayak mau hiking,” kata si ibu-ibu penunjuk jalan.

Memang beneran menanjaaaak hosh hosh hosh. Tapi tempatnya rame sama rombongan anak SMP yang lagi study tour. Gw pun antre bersama bocah-bocah untuk masuk ke rumah ninja di mana dua orang petugas siap memberi demonstrasi tentang ruangan-ruangan rahasia yang ada di rumah itu.

IMG_0797

Pertama, ada pintu berputar yang bisa menyembunyikan kita secepat kilat di ruangan tersembunyi. Di situ mereka bisa ngumpet terus manjat ke lantai dua untuk kabur lewat jalan rahasia.

Ninja juga bisa kabur lewat pintu kecil di pojok ruangan  yang cocok buat kucing tapi bisa dibuka pake daun dan jadi tempat kabur selama badan lo fleksibel.

Petugas yang kedua ngeliat kami di antara pengunjung lokal, jadi dia langsung gesit nurunin layar putih kecil (kayak buat nayangin presentasi di kelas) berisi penjelasan dalam bahasa Inggris. Thanks God.

Rumah ninja juga punya sudut tersembunyi buat ngintip situasi luar dari sela dua kayu yang berjajar.

(Dari analisis bahasa tubuh) Sepertinya ninja zaman dulu, orang Jepang pada umumnya, lebih pendek dari yang sekarang. Mungkin yang cowok rata-rata tingginya kayak cewek Jepang zaman sekarang. Yang cewek berarti jauh lebih mungil lagi. Makanya letak “kayu hiasan” buat ngintip juga enggak terlalu tinggi.

Nah, yang gak kalah menarik adalah tempat buat nyimpen barang-barang berharga di dalam lantai! Tinggal pindahin pintu kayu dan pembatas lantai, jreng jreng, ternyata lantai bisa diangkat sehingga lo bisa ambil guci berisi barang berharga.

Bukan permata atau emas, tapi gulungan perkamen (makimono) berisi rahasia penting yang harus diantar ninja si mata-mata. Rencengan duit juga disimpen di situ.

Katana alias pedang juga disimpan di bawah salah satu panel lantai kayu. Kalau di film, pedang ninja digambarkan panjang banget, padahal aslinya pedangnya enggak sepanjang itu.

Kalo kepanjangan, pas lagi berantem dan diayunkan ke arah lawan malah nyangkut ke langit-langit yang pendek. Itulah mengapa pedang ninja yang disimpan di dalam rumah ukurannya pendek. Lihat lengkapnya di video ini ya:

Dari situ kami diarahkan ke ruangan pameran barang-barang ninja. IMHO, perjalanan ke Iga adalah hari yang paling produktif untuk otak karena stok ilmu pengetahuan seputar ninja langsung menggunung.

Untuk bisa jadi ninja, perlu kemampuan dan pengorbanan luar biasa. Tes seleksi jadi pegawai Kementerian Luar Negeri dan Bank Indonesia (yang gw gagal masuk dulu) enggak ada apa-apanya sama tes jadi ninja.

IMG_0752

Namanya juga mata-mata, ninja juga harus pandai menyamar biar enggak ketahuan kalau dia adalah agen rahasia. Ninja bisa berpakaian seperti pendeta Budha, petani sampai pedagang.

Ninja juga harus menguasai kemampuan agar bisa melewati banyak rintangan, baik itu di darat, laut dan udara. Eh, maksudnya darat atau air. Seperti James Bond, ada peralatan-peralatan canggih yang bisa dipakai untuk membantu ninja menyelesaikan misi.

b3d7c43265b24c8c0fd571dc7154992890790eb8_hq

Credit: http://aminoapps.com

Salah satu yang keren adalah mizugumo (mud shoes) alias alas kaki untuk mengapung di atas lumpur. Alas kaki yang permukaannya luas dan membutuhkan keseimbangan tingkat tinggi ini dipakai kalau mau melewati rawa-rawa saat menyusup ke dalam kastil.

Screen Shot 2017-06-26 at 6.59.31 PM

Tekko Kagi

Senjata yang mirip kuku Wolverine. Karena ujungnya terbuat dari besi, rasanya akan seperti dicakar sama macan atau beruang. Aw.

Selain dipakai untuk berantem, tekko-kagi ini bisa dipakai untuk bertani kok. Two in one. Soalnya ninja emang harus pinter memanfaatkan banyak alat untuk dipakai berantem.

Screen Shot 2017-06-26 at 7.04.55 PM

Shuriken

Shuriken adalah senjata berbentuk bintang yang dipakai dengan cara dilempar ke arah musuh. Bentuknya ada macem-macem sih, enggak selalu punya empat sisi tajam.

Yang gw baru tahu, alat ini berbahaya bukan cuma karena tajam, tapi karena sebelum shuriken itu dilumuri dengan racun.

Sebagai kamuflase, ninja sering menyamar jadi petani. Tapi profesi ini ternyata dipilih bukan tanpa sebab, soalnya ninja bisa sekalian menanam tanaman obat yang bermanfaat kelak tanpa terlihat mencurigakan. Namanya juga petani, mau nanam apa pun, bebassss!

Jadi ninja sama beratnya kayak trainee idol K-pop. Setiap hari harus latihan. Bedanya, mereka enggak latihan nyanyi dan nge-dance, tapi latihan membuat bubuk mesiu, melatih ingatan biar bisa menyampaikan pesan tanpa membawa barang fisik yang bisa dicuri.

Ninja juga harus tidur tanpa mengeluarkan suara. Enggak boleh ngorok! Kalau kata Rasul, tidur sebaiknya miring ke kanan agar jantung tidak terbebani oleh organ tubuh lain. Ninja sebaliknya, mereka tidur miring ke kiri untuk melindungi jantungnya siapa tahu ada yang tiba-tiba menghunuskan pedang.

Uh, enggak tenang banget hidup kayak ninja. Persis seperti hidup wartawan saat piket kerja di akhir pekan. Waspada!

IMG_0815

Nah, kemampuan lain ninja yang gokil abis adalah memanfaatkan jarum jadi kompas sampe punya metodi tersendiri untuk memprakirakan cuaca.

Bau badan juga a  big no no buat ninja. Kalau lagi menyusup ke rumah orang, terus ketahuan gara-gara bau badan… Beuh. Mati konyol. Makanya, ninja menjaga pola makan biar badannya enggak bau.

Gak ada tuh namanya makan daging, apalagi pete, jengkol dan durian. Ninja juga rajin madni dan cuci baju. Sebelum beraksi, mereka benar-benar menjaga diri agar tidak berbau. Di sisi lain, wewangian juga tidak dipakai kalau mau bekerja.

Karena mereka harus bersembunyi di gunung, ninja harus pinter menemukan air. Ada beberapa metode yang wow banget deh. Mulai dari nyari lubang jangkrik atau lubang semut (karena di situ ada air) sampe mengamati bentuk gunung untuk mengetahui apakah di sana ada sumber air.

Ninja juga bermain kode yang bentuknya kayak cacing joget sampe pake beras berwarna.

Ya kaaaaaaan jadi ninja lebih susah dari lolos tes trainee untuk debut jadi idol K-pop!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s