Jalan Jalan Jepang – Ngekos di Kyoto

IMG_0662
Camilan kala ngekos di Mukomachi

Kalau mau dapat airbnb murah, pilihlah lokasi pinggiran kota. Pas di Kyoto, gw nginep di daerah pemukiman bernama Mukomachi, 8 kilometer dari pusat kota.

Apartemennya strategis banget, terletak di antara dua stasiun. Stasiun JR sama line lain (kalo gak salah Hankyu).

Dari stasiun JR Mukomachi bisa ditempuh sekitar lima menit jalan kaki, sementara dari Hankyu bisa ditempuh semenit karena beneran selemparan batu. Nyaris sebelahan.

Dari semua Airbnb yang pernah gw inepin, apartemen Mukomachi salah satu terbaik. Dekat sama stasiun, luas, ada dapur, TV, AC, mesin cuci, jemuran, kulkas, alat masak dan sepeda! Intip seperti apa di video di bawah ini.

 

 

Kalo deket sama stasiun, otomatis banyak tempat jajanan dan toko kelontong atau pasar. Sepanjang jalan menuju apartemen isinya restoran, izakaya (bar) yang gak sempet kami datengin sampe pasar!

Mau ke mal? Ada AEON yang jaraknya cuma 2-3 km. Gak masalah karena bisa naik sepeda ke sana.

Host juga baik banget, responsif dan rajin ngasih petunjuk via LINE. Kami dikasih hadiah berupa magnet kulkas bentuk sashimi, ada air minum gratis juga di kulkas.

Yang kurang cuma lift, tapi bawaan kami lumayan enteng kan (cuma satu koper sama ransel doang). Lagipula pas awal kami pake layanan takyubin (semacam TIKI) biar kopernya langsung dikirim ke penginapan.

Yoi, begitu nyampe apartemen, dua koper sudah menanti dengan manis.

Seumur hidup gw belum pernah ngekos, jadi apartemen ini rasanya kayak kosan karena kita harus ngurusin apa-apa sendiri, termasuk soal makan.

Untung roommate gw suka masak tapi porsi makan sedikit, jadi gw tinggal bantu-bantu nyuci piring aja (saat dia masak) dan ngabisin sisa makanan dia (ha!).

Kita belanja di swalayan terdekat (jalan kaki tiga menit), kali ini bentuknya kayak Kramat Jati zaman dulu. Kuno euy, tapi isinya total lokal. Kami doang yang turis. Kayaknya sepanjang di Mukomachi emang gak ada turis dah.

Swalayan di sini punya fitur yang memaksimalkan kata “swalayan” itu sendiri alias self service. Ada mesin kasir otomatis, jadi kita sendiri yang nempelin barcode barang, masukin sendiri barang ke plastik. Bayarnya tinggal masukin duit aja, nanti kembaliannya keluar. IH GAUL ABIIIIIZ.

Karena ga ada rice cooker, kami beli sepaket nasi yang tinggal dipanasin semenit di microwave (ini enak dan pulen banget!). Lauknya campur-campur, ada yang beli jadi (salad dan sayur), tuna kalengan, ada yang beli mentah kayak telur. Minumnya tentu ocha yang botol 2 liter.

Biar empat sehat lima sempurna, kami juga belanja susu, yoghurt sama buah-buahan. Sebelnya, buah di Jepang mahal-mahal. Jadi ya pilih kotak strawberry paling kecil (biar murah) buat temen makan yogurt. Sedih deh gak ada pepaya, padahal biar gak sembelit.

Di sini gw mulai kangen pedas, soalnya semua makanan bumbunya manis. Ku butuh rasa gurih! Ku butuh rasa pedas! Agak nyesel gak bawa bumbu nasi goreng soalnya tiap pagi kita cuma bikin nasi gila, nasi campur tuna kalengan dan telur yang bentuknya mirip sama makanan kucing. LOL.

Biar keliatan kayak makanan manusia, kita beli miso instan yang tinggal ditambah air panas. Apesnya lagi karena gak ada keterangan bahasa Inggris,  yang kita beli ternyata rasa kerang. Enak sih, tapi tetap gak seenak miso biasa.

Tapi kehadiran miso membuat menu makanan kami jadi lebih manusiawi dan homey. Setidaknya ada yang hangat dan gurih.

Lima hari ngekos di Kyoto berlalu tanpa banyak konflik, mungkin selain “ayo banguuuun udah siang jangan tidur lagiii!”.

Faktor U (gw bahkan sakit punggung gegara ransel) dan durasi liburan lumayan lama kali ya, jadi gak ada tuh yang namanya buru-buru. Kita tahu diri aja, udah lewat fase ABG. Jarang olahraga pula. Kalo dipaksain nanti malah sakit, kan nyusahin temen juga.

Mau berangkat,  santai sarapan dulu sambil nonton TV terus leyeh-leyeh. Makan malam kalau bisa di rumah, desert beli dulu di perjalanan. Entah itu Pablo, entah itu cheesecake Rikuro no Ojisan. Tak perlu antre tiga jam di Gandaria City karena tokonya bertebaran di stasiun seperti indomaret.

Iklan

Satu pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang – Ngekos di Kyoto

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s