Jalan Jalan Jepang – Salah Naik Shinkansen

IMG_0388Selalu ada drama di tiap perjalanan.

Gw cukup kesulitan saat bikin itinerary karena selalu bingung mana shinkansen yang bisa dinaiki sama JR Pass saat buka-buka Hyperdia. Ampe pusing mata karena bolak-balik ngecek.

Dari analisis sotoy, gw menyimpulkan bahwa kereta shinkansen yang gak punya gerbong non-reserved seat berarti gak bisa dipake dengan JR Pass (daripada pusing mikirin Nozomi dan Mizuho, nama shinkansen yang gak boleh dinaiki).

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b62
Skrinsot ini dikirim ke Tisha saat sudah di dalam kereta Nozomi

Soalnya, shinkansen ternyata ada banyak macemnya. Pusing kali kepala Princess.

Suatu hari, di tengah perjalanan dari Wakayama menuju Kyoto, kami memutuskan naik shinkansen nozomi dari Shin-Osaka (cuma satu stasiun ke Kyoto). Sebelum masuk, gw cuma mikir betapa Nozomi sepertinya sudah sangat gw hafal di kepala. Mungkin karena mirip sama nama orang.

Begitu baru duduk, iseng googling.

ALAMAKJANG JR PASS GW GAK BISA DIPAKE BUAT NOZOMI GIMANA DONG HARUS BAYAR DONG OMAIGAT GIMANA DONG.

Kebetulan lagi gw sama Tisha duduknya berjauhan karena gerbongnya penuh, apalagi kita bawa ransel gunung yang segede alaihim gambreng. Masing-masing bawa modem wifi, tapi entahlah punya Tisha dinyalain apa gak jadi kalau pun kirim whatsapp belum tentu nyampe.

Dengan panik gw bilang kalau kita salah naik kereta, apes-apesnya sih bayar beberapa ribu yen (NOOOOO!). Begitu ada petugas kereta masuk ke gerbong, hati rasanya mencelos.

Biasanya mereka akan memeriksa tiket, lalu kita tinggal menyodorkan JR Pass saja. Berdasarkan pengamatan, kayaknya bisa gitu bayar di dalam gerbong. Jadi gw siapin aja duit, just in case.

Ternyata petugasnya cuma numpang lewat! Mungkin karena jarak Shin-Osaka dan Kyoto hanya hitungan menit.

Begitu kereta sampe di Kyoto, kami cuma ketawa lega.

TETAPI…

Kami gak bisa keluar dari stasiun! Tiap kali nunjukkin JR Pass, dibilang “nggak bisa lewat sini, ke gerbang lain” sampe ditolak dua kali. Percobaan yang ketiga, petugas yang melihat JR Pass Kansai-Hokuriku bilang kalau kami harus bayar karena salah naik shinkansen.

HOW DID SHE KNOW THAT? 

Dengan berat hati, kami bayar aja. Dia bilang, “Oh, mau bayar aja?”. RUPANYA gw gak denger dan paham penjelasan dia sebelumnya gara-gara logat Jepanglish.

You can pay or you can go back to Shin-Osaka. This (JR Pass) cannot be used in Kyoto.

Gw baru nyadar dia sepertinya ngomong gini setelah kelar bayar.

Rupanya, JR Pass Kansai Hokuriku emang gak bisa dipake untuk shinkansen ke Kyoto. Mentok itu cuma Shin-Osaka.

Makanya lo harus teliti pas liat peta yang tertera di JR Pass. Si petugas tahu kita salah naik shinkansen bukan karena punya kekuatan sakti atau sistem yang terlalu canggih, tapi sesederhana dia ngelihat kami berada di tempat yang salah.

(peron shinkansen sama lokal memang beda, jadi ketahuan kalau abis naik shinkansen).

Nyesel abis karena baru nyadar kalau dia menawarkan solusi terbaik, lo balik aja ke Shin-Osaka, terus balik ke Kyoto pakai kereta lokal. Bedanya cuma gak jauh cuma berapa menit secara Shin-Osaka sama Kyoto selemparan kolor.

Gw pun dirundung duka. Uang melayaaaaaaang. Sedih, pusing, bokek. Sebenarnya gak bokek-bokek amat sih karena duit buat ke Tateyama kan full refund.

Tapi tetap sedih aja duit hilang gara-gara kecerobohan dan rasa terlalu percaya (kami beberapa kali nyasar karena gw suka sotoy pas lihat bis ‘itu dia!’ dan si Tisha ngikut-ngikut aja).

Rasa sedih  masih terasa setelah sampe “kamar kos” kami di Mukomachi, pinggiran Kyoto. Sempet nyasar juga tuh sebelum sampe ke sana, gara-gara naik kereta yang berlawanan arah.

Rupanya gundah gulana yang gw rasakan sebenarnya bermuara pada masuk angin.

Olala, gw pusingnya lahir dan batin. Pusing mikirin denda shinkansen sama pusing secara harafiah. Niat untuk jalan-jalan di Kyoto sore itu gagal total karena gw masuk angin level maksimal.

Minum tolak angin tiga sachet, makan takoyaki yang dijual deket kosan biar bisa muntah karena perut kosong. Setelah makan-muntah beberapa kali, kepala lebih ringan dan badan jauh lebih enakan.

Malam itu gw tidur sangat awal, jam 7-8 udah terkapar di futon yang empuk. Keesokan paginya, badan sudah segar banget.

Kayaknya masuk angin diakibatkan kurang tidur di Wakayama plus belum makan nasi deh. Gw baru tidur sekitar jam 2 pagi gara-gara onsen dulu, terus pagi-pagi sarapannya roti, bukan nasi.

Tapi beneran, buat gw nasi itu seakan jadi tameng untuk penyakit masuk angin. Sebenarnya bisa sih diganti sama roti, cuma ya harus banyak kali ya. Udah beberapa kali nih masuk angin pas lagi perjalanan jauh gara-gara belum makan nasi.

Pernah teler banget di Abu Dhabi gara-gara di hotel cuma ada makanan ala bule. Makan di KFC juga cuma ada kentang. Kepala pusing banget, tapi langsung sembuh pas siang itu diajak makan di restoran Indonesia dan ketemu nasi.

Dasar perut Indonesia!

Iklan

Satu pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang – Salah Naik Shinkansen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s