Jalan Jalan Jepang – Rezeki Sailormoon

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1aa7

Salah satu tantangan pergi ke kota minim turis adalah penginapan. Beruntung ada couchsurfer yang rela diinepin semalam di Wakayama. Dia menyarankan kami untuk nonton Tuna Cutting Show di Kuroshio Market, Marina City sebelum ke rumahnya.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1ab1
Kuroshio Market

Naik bis (beli one day pass di stasiun) ke Marina City di ujung. Karena kesorean, tuna cutting show udah kelewat, huft (cuma ada tiga kali jadwal dalam sehari). Ya udah, muter-muter Kuroshio Market yang gak terlalu gede.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1acd

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1acf

Tadinya hampir gak ada yang pengen dibeli, sampe akhirnya kami tiba di konter tempat jual sushi! Daaaan… sushi segar (ini pasarnya di pinggir laut, cuy) ini diskon karena sudah sore. Yiiihaaa!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1ac9

Perut (agak) kenyang, langsung menuju ke Porto Europa, taman bermain dengan arsitektur ala Eropa yang letaknya selemparan kolor dari Kuroshio Market.

Masuk ke situ gratis, cuma bayar kalau mau naik permainannya. Tentu saja kami bersemangat, kan niatnya cuma merasakan suasana ala Eropa (selain di Kota Wisata Cibubur).

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1af2

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b10

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1ada
Masuk gratis, main bayar

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1aee

 

Balik lagi deh ke halte bus, nungguin yang ke arah stasiun Wakayama. Sempet khawatir, karena sepi banget jangan-jangan kami terjebak gak bisa balik.

Ternyata kami salah naik bis, malah nyampe ke stasiun lain. Tapi, no problemo berhubung turun di stasiun JR, bisa lanjut ke stasiun Wakayama tanpa biaya.

Stasiun yang tadinya sepi banget jadi rame anak sekolah dan orang kerja, jam pulang kantor sih, sekitar jam 6 sore.

Berbekal petunjuk dari Google Map, kami jalan kaki ke dalam perumahan yang sepi banget nyaris gak ada orang (padahal baru jam 18.30 waktu setempat). Jangankan perumahan, jalan raya pun sepi!

Sempat planga-plongo karena nyasar di antah berantah, akhirnya kami dijemput sama ibunya host couchsurfing. Rupanya Google Map mengarahkan kami ke bagian belakang rumahnya, eaaaa.

Rasa canggung tentu tak terelakkan di setiap pertemuan pertama, tak terkecuali sama host gw kali ini.

Berhubung dia jauh lebih pendiam, gw merasa harus terus ngomong biar lebih cair. Walau ternyata sepertinya banyak momen di mana dia ngangguk-ngangguk sama “hoo” “ooh” “hmm” aja padahal gak ngerti gw ngomong apa. Hahaha!

Suasana lebih mencair ketika kakak, ibu dan dua temannya datang ke rumah. Percakapan berlangsung dalam campuran Jepang dan Inggris.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b37
Makan malam di rumah couchsurfing

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b47

Karena gw bisa sepik sedikit-sedikit, temen-temennya memberondong dalam bahasa Jepang seakan gw benar-benar mengerti.

Ada satu orang ibu-ibu (teman kakaknya) yang kelihatan banget tertarik dan penasaran sama, walau gak bisa bahasa Inggris, dia terus berusaha untuk ngajak ngobrol. Ih, baik banget ini orang. Langsung serasa main ke rumah saudara, gitu deh (lebay).

Yang ditanya mulai dari umur, kerjaan (begitu sebut profesi kami, mereka langsung “woooow” dan langsung gw koreksi “selow ajee, bagian lifestyle ama hiburan kok bukan yang serius-serius”), kenapa pakai kerudung, kenapa tidak pakai kerudung (ke Tisha), benarkah di Indonesia ada yang dipukul gara-gara ketahuan ciuman (dia baca berita, mungkin itu di Aceh), Jakarta itu di mana, gw dulu sekolah apa, dsb.

Gw nanya soal rumah Hyde Laruku, ternyata dia bahkan gak tau Hyde yang mana mukanya. Terus gugling dulu, baru ngasih liat layar handphone ke gw (“yang ini?”). Rumah Hyde kayaknya gak jauh, cuman kalo naik bis repot sih. Yang pasti rumahnya yang punya bentuk unik (konon) dijaga sekuriti.

Abis makan malam (plus roll cake dan minuman cokelat, dijamu banget), lanjut ngobrol-ngobrol, kali ini sama salah satu teman kakaknya yang lain. Ketika lagi ngobrolin soal anime (anime apa yang terkenal di Indonesia?), nyambung ke topik Sailormoon. Rupanya dia juga suka banget sama Sailormoon! Terus dia bilang bakal ngasih goods alias pernak-pernik Sailormoon buat gw.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b52
Oleh-oleh Wakayama

Kirain mah basa-basi ya, ternyata beneran dikasih BANYAK BANGET! Ada beberapa pulpen yang bentuknya kayak tongkat buat berubah wujud (MOON PRISM POWER, MAKE UP), kartu-kartu, sapu tangan dan komik.

Tentu kami tidak lupa swafoto. Sebagai orang Indonesia yang gila banget sama media sosial, gw kadang lupa kalau fenomena itu gak terjadi di semua tempat.

Jadi, agak-agak kaget ketika mendengar sebagian besar di rumah itu bahkan tidak punya Instagram dan Twitter. Mereka lebih excited lagi pas gw ajak foto pake boomerang sampe akhirnya penasaran dan pada donlot juga.

Malam ditutup dengan onsen (pemandiannya buka sampai jam 2 pagi), sayangnya gw lagi haid jadi gak bisa ikutan.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1b4d
Nunggu di tempat onsen sambil nonton sinetron

Cuma Tisha aja yang mandi bareng sama kakak dan temannya host couchsurfing kami, tapi dia bisa menikmati walau terkendala bahasa.

Gw kira tempat onsen bakal sepi ya tengah malam (iyak, kita ke sana nyaris tengah malam), ternyata rame banget! Terutama sih gerombolan siswa atau mahasiswa gitu. Banyak juga orang tua atau mbak-mbak.

Sambil nunggu, gw nonton televisi yang nayangin News Zero. Sayangnya hari itu bukan giliran Sho yang muncul.

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang – Rezeki Sailormoon

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s