Jalan Jalan Jepang – Yontama, si Kucing Kepala Stasiun

Wakayama tak menggugah selera sebelum gw membaca tentang keberadaan Tama, seekor kucing yang jadi kepala stasiun di sana.

APA-APAAN INI?! GW HARUS KETEMU!

Setelah googling, rupanya Tama udah mati dan digantiin sama Nitama (Ni artinya Dua, jadi kayak Tama II) sebagai cat station master di stasiun Kishi, Wakayama.

Yaudah gpp, pokoknya gw mau lihat kayak apa sih kucing yang dijadikan kepala stasiun. Jepang ini memang ada-ada aja deh!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a32

Belakangan, ada teman lain yang excited karena gw ke Wakayama karena itu kampung halaman Hyde Laruku. Oalaah. Tapi fakta ini lumayan juga bisa jadi bahan basa-basi sama orang setempat, hehe.

Gw bertolak dari Kanazawa, naik kereta sekitar tiga jam sampai akhirnya tiba di Wakayama. Dari ujung ke ujung euy.

Di jalan, gw baca-baca lagi informasi soal Nitama. Bagai petir menggelegar ketika membaca bahwa kucing itu punya jadwal kerja yang spesifik, dan kebetulan pada hari itu dia lagi libur! Aduuuuh why why why.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a0d

Jadwal kerja Nitama dan Yontama

Tapi… setiap Nitama libur, ada kok kucing yang menggantikan.

Namanya Yontama (Yon = 4), kucing yang lagi magang (!) jadi kepala stasiun dan ditempatkan di stasiun Idakiso. Iya, atribusi si Yontama itu adalah apprentice cat station master. Cuanet kan!

Hiruk pikuk Kanazawa berganti jadi sepi di stasiun Wakayama. Jejeran rel di sana diisi ragam kereta, ada kereta lokal yang kelihatan tua, ada juga kereta ekspres modern yang gw naikin.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a09

You’re on the right path!

Sempat bingung mencari penunjuk ke mana peron menuju stasiun Kishi sebelum menemukan gambar-gambar Tama versi kartun di lantai dan dinding…

Sepanjang hari itu gw sering banget bilang: YA AMPUN LUCU BANGET! LUCU BANGET! CUANET CUANET CUANET!

Peron menuju stasiun Kishi terlihat out of place di sana. Sangat sederhana, kalau gak dibilang ndeso.

Penjaga peronnya seorang kakek-kakek yang secara cermat melihat Kansai Hokuriku JR Pass yang gw sodorkan, lalu mempersilakan kami masuk tanpa membayar karena perjalanan ke Kishi sudah ditanggung oleh kartu ajaib yang harganya selangit itu.

Di sini gak ada tap in – tap out. Manual.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a0b

Jadwal Kereta

Sayangnya, kami sedikit terlambat karena kereta bertema strawberry (ichigo densha) baru saja lewat. Padahal kereta khusus seperti itu jadwalnya jarang, cuma datang tiap jam.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a3c

Ada empat jenis kereta yang didekorasi: Ichigo Densha, Tama Densha (kucing semua), Omocha Densha alias mainan-mainan dan Umeboshi Densha. Pada hari itu kereta Tama dan Omocha lagi diperbaiki. Huks, padahal kalo dari penampakan tampaknya Omocha Densha super imut karena dalamnya penuh mainan.

Daripada kelamaan nunggu, kami langsung naik kereta biasa (tanpa dekorasi) yang tiba di stasiun. Oh iya, setiap kereta cuma terdiri dari dua gerbong. Kebayang kan betapa ini adalah kota kecil yang penduduknya secuprit.

Di stasiun itu pun turisnya hanya ada kami berdua. Sisanya ada beberapa orang tua atau lansia yang jumlahnya bisa dihitung jari.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a34

Stasiun Idakiso

Berhubung Nitama libur, kami mau datengin si kucing magang aja di stasiun Idakiso.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a37

Di pintu masuk stasiun itu ada kotak kaca transparan besar berisi Yontama! Ooooh, ini toh “kantor” dari kucing magang di Idakiso! Dia duduk santai di dalam ruangannya. Kita dilarang foto pakai flash atau mengetuk-ngetuk kaca.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a36

Gw gak nyangka sih “kantor”nya berupa kotak kaca, kirain dia dibiarkan berkeliaran tapi pakai tali gitu. Jadi, pengunjung beneran cuma bisa lihat dari luar aja, kayak akuarium.

Tapi, keberuntungan ada di pihak gw.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a1b

Tetiba datang tiga orang Jepang membawa kamera, satu di antaranya adalah ibu yang gw perkirakan adalah pemilik asli Yontama. Lalu petugas stasiun membawa kunci, membuka pintu kaca, dan si nenek itu langsung menggendong Yontama dan meletakannya ke atas tempat pemeriksaan loket.

Langsung deh jepret jepret jepret, pemotretan dadakan. Wuhuw, gw tidak melewatkan kesempatan ini untuk mengabadikan calon penerus Nitama di luar kandang.

Sesi pemotretan usai, petugas stasiun sudah siap memasukannya lagi ke kandang. Gw langsung menyetopnya.

“Sashin, ii desuka?” (boleh poto enggak?)

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a01

Terus dua orang Jepang yang bawa kamera ikut motoin, sambil bilang kawaii kawaii (uhuk) karena gw pasang pose sok imut ala kucing pas foto sama Yontama (dia digendong sama bapak stasiun). Berasa JKT48 deh dipotoin sama fans #PLAK.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a30

Muka datar ala majalah

Ahhh, senangnyaaa! Kayaknya kalo dalam situasi biasa kita gak mungkin rikues minta foto bareng sama kucing, kecuali buat urusan tertentu kayak salah satu video Eat Your Kimchi kali ya (tapi mereka di stasiun lain).

 

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a23

 

Suasana jadi rame ketika ada rombongan (sepertinya study tour) dari China. Layaknya anak-anak abege pada umumnya, berisik banget. Huft, princess lelah dengernya.

Kami bersama-sama menanti kereta ke Kishi, kali ini yang datang Ichigo Densha!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a03

Kishi hampir sama kecilnya dengan Idakiso, tapi lebih rapi dan modern. Ada Tama Cafe dan Museum Tama yang menunjukkan beberapa kostum mendiang Tama waktu dilantik jadi station master.

MQtr2+NJRqOx%ycYm5xiEA_thumb_1a54

“Kantor” Nitama yang juga terbuat dari kotak kaca (tapi IMHO jauh lebih nyaman kantor si Yontama yang punya bagian tersembunyi di bawah, buat ngumpet siapa tahu lelah dipoto paparazzi).

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a53

Kantor Nitama

Libur bos!

Ada pengumuman di situ bahwa Nitama hari ini lagi libur. Hahaha.

Yang menarik dari stasiun Kishi adalah bentuk eksteriornya yang punya hiasan macam kuping kucing. Setelah menunggu sampe rombongan turis abege pada hengkang, stasiun ini serasa hanya milik gw! Kosong melompong.

Ada toko suvenir kecil di bagian luar, pastikan untuk membawa pulang beberapa barang kalau lo suka kucing. Tak seperti Tokyo Banana, pernak-pernik Tama ini gak bisa lo dapetin di bandara.

Sembari menunggu kereta ke arah Wakayama, kami bersantai di Tama Cafe yang dikelola seorang ibu dan anaknya.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a6c

 

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a71

The cutest chair

Gw mesen minuman cokelat atau kopi susu yang dibentuk seperti jejak kaki kucing.

Gw balik ke Wakayama naik Umeboshi Densha yang jauuuuh lebih menarik dari Ichigo Densha.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1a8f

Dalemnya kayak rumah gitu, lantai kayu, kursi kayu dengan bantalan empuk, meja, lemari isi pernak-pernik Tama (lengkapnya sila lihat di video di atas).

Gw salut banget sama upaya Wakayama untuk menggerakkan pariwisata lewat gimmick kayak gini. Dan mereka total banget gitu, dilihat dari pernak-pernik yang lucu dan gak alay. Tanpa Tama (Ni atau Yon), mungkin hampir enggak ada alasan buat turis untuk mampir ke stasiun kecil ini.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s