Jalan Jalan Jepang – Dirubung gagak di Toyama

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1997

Toyama tak pernah masuk rencana perjalanan, tapi rupanya kami berjodoh dengan kota (terkesan) tua yang asyik dijelajahi dengan sepeda.

Sayang seribu sayang, petugas informasi hanya menyarankan tempat-tempat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki tanpa menyebut kalau kota ini punya 20 pos rental sepeda yang ada di berbagai titik.

Mungkin juga dia bilang gitu karena rikuesnya adalah, Tempat apa yang cocok kalau kami cuma mau jalan-jalan setengah hari aja di sini, sebelum balik ke Kanazawa sore-sore naik kereta?

Sebenarnya keterangan soal sepeda ada di peta yang dikasih ke kami, lagi-lagi memang gak teliti aja sih.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1993

Belakangan baru nyesel kenapa gak nyewa sepeda karena lelah jalan kaki berkilo-kilo mencari toko permen yang ada di peta tapi gak ada di Google Map.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19a8

Salah satu sudut seru di Toyama City

Mau nanya orang kok kota ini sepi (kita jalan kaki ke pelosok), yang ada hanya gagak, merpati dan trem. Iyak, kayaknya salah satu karakter dari kota-kota rada tua ini (analisa sotoy) adalah trem.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19b8

Matsu River Boat Cruise

Toyama City Hall, Tower Observation

Tujuan pertama adalah balai kota Toyama, 15 menit jalan kaki dari stasiun. Di sana kita bisa lihat pemandangan dari atas secara gratis. Mengandalkan Google Map, kami tiba di depan gedung perkantoran tua. Bener gak ya ini tempatnya?

Di dalam, rasanya kayak balik ke tahun 1990-an. Kesannya tua walau gak lapuk. Resepsionis menunjukkan arah lift untuk naik ke Observation Tower.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19aa

Ada empat lift, tapi cuma satu yang punya petunjuk bahasa Inggris “Observation Tower”. Kayaknya ini gedung isinya lansia semua sama hantu deh. Sepi banget! Yang muda cuma mbak resepsionis.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19b4

Ada dua turis China dan satu orang bapak-bapak di menara observasi. Enggak istimewa sih, tapi ada teropong yang punya fitur audio english guide.

Pengoperasiannya manual, jadi ada tuas yang harus kita putar 10-20 kali, terus otomatis ada suara dalam bahasa Inggris yang menjelaskan tempat apa yang lagi kita lihat. Penjelasan akan berubah setiap teropong digeser.

Misalnya lagi di atas Monas, teropong ngadep ke Tanah Abang, nanti ada penjelasan Tanah Abang itu tempat apa sih, bla bla bla, geser lagi teropong ke arah Gambir, audionya juga langsung ganti jelasin soal Gambir.

Untuk ukuran kota tua, saya terpana.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19b6

Di luar City Hall, anak TK dan seniornya

Jalan kaki sedikit dari City Hall, sampe di Toyama Castle Park. Sejenak duduk di taman deket Matsu River Boat Cruise sambil ngabisin sisa sushi.

Perlahan tapi pasti kok semakin banyak merpati yang mengelilingi. Alamak, mereka pasti mengincar sushi!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_19bc

Baru inget ada sisa roti di tas, bagian luarnya itu loh yang cokelat-cokelat keras kurang enak dimakan. Potek kecil-kecil, lempar buat para penggemar merpati yang merubung.

Makin lama makin banyak yang dateng! Yang ngasih makan jadi ngeri sendiri. Suara merpati diwarnai sama kwak kwak gagak.

Terdengar bunyi kepakan sayap yang lebih heboh, merpati pada terbang kocar-kacir. Ternyata gagak yang tadinya cuma nangkring di pohon ikut tergoda sama remah roti.

Arogan banget itu gagak, langsung agresif mengusir kawanan merpati yang udah standby duluan. Begitu beberapa gagak mendarat di dekat kaki, giliran gw yang ngacir. Ngeri banget lo, gagak!

Gagak rupanya kalo rebutan makanan emang heboh banget. Beberapa hari kemudian, di Kyoto, supir taksi ngelempar makanan ke udara. Sekelompok gagak rebutan berisik banget, sampe bikin pejalan kaki kaget, kirain ada apa.

Ih, barbar banget gagak kayak ibu-ibu rebutan naik gerbong wanita!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1986

Setelah dirubung gagak, kami jalan gak jelas juntrungannya. Mau ke museum, udah pada tutup karena udah sore.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_199a

Niatnya cari toko permen yang ada di peta (padahal gak jelas kaya gimana, semata karena permen aja jadi minat) tapi malah nyasar ke pemukiman sepi.

Balik lagi ke jalan utama, nemu convenience store, jajan dulu deh. Demi menghindari sembelit, beli dulu sayur mayur alias salad. Pilih yang paling murah tentunya tanpa ngecek-ngecek lebih lanjut.

Begitu dibuka… gak ada dressingnya. ROFL. Pantesan murah! (akhirnya dimakan mentah begitu saja)

Overall, kalau bosan atau gak mau ke kota yang sesak turis kayak Tokyo, Osaka dan Kyoto, coba deh mampir ke kota yang namanya jarang lo denger seperti Toyama ini.

Tenang, sepi, (agak lebih) santai dan nuansa retro alias zadul!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s