Jalan Jalan Jepang – (Gagal) Main salju di Tateyama Kurobe Alpine

Manusia berencana, Tuhan menentukan.

Mau ketemu salju rasanya doki-doki kayak ketemu gebetan baru. Pagi-pagi sudah semangat melesat ke stasiun Kanazawa, naik shinkansen gak sampe setengah jam.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_18d9

Dari stasiun JR Toyama, kita harus jalan kaki sebentar ke stasiun Dentetsu Toyama, beda perusahaan gitu deh.

JR Toyama gedungnya megah, mirip lah kayak stasiun gede pada umumnya. Sementara Dentetsu Toyama lebih membumi alias kuno. Gw kira pagi-pagi bakal sepi, ternyata antrean loket Tateyama Alpine Kurobe sudah mengulaaaar. Kebanyakan turis China, ada juga beberapa turis Indonesia. Semuanya udah pake kostum buat main salju.

Petugas dengan sigap menghampiri dan mengarahkan kami ke antrean. Dia juga ngasih secarik kertas berisi daftar harga tiket. Makin jauh tujuan, tentu makin mahal. Gw cuma mau lihat snow wall dan main-main salju, jadi pilih yang paling dekat dan murah dari Toyama, yaitu Murodo.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_18dd

Harganya lebih mahal dari perkiraan dan apa yang di situs resmi. PP Toyama-Murodo itu harganya 6000-an yen. Kalau mau sampe ujung banget, harga sampe 13.000-an yen.

Di loket antrean, kami dikasih tiket tulisannya hampir semua bahasa Jepang. Yang gw ngerti cuma tulisan Toyama – Murodo. Terus ada keterangan jam. Petugasnya nunjuk-nunjuk keterangan jam, gw ho oh ho oh aja dah biar cepet.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_18de

Kalo udah beli tiket, lanjut ke antrean baru menuju kereta lokal.

Begitu kereta datang, kelakuan barbarita dimulai. Ada yang lari sampe jalan cepet (gw) biar dapat duduk di kereta. Untung gw masih kedapetan duduk di gerbong belakang. Kereta lokal yang kami naiki berujung di Bijodaira. Nah, isinya bukan cuma turis lho, tapi banyak juga orang lokal, sebagian besar anak-anak sekolah berseragam.

Kereta lokal ini tempat duduknya kayak kereta antarkota, bukan memanjang kayak kereta Bogor-Kota. Bocah-bocah berseragam pada gak kedapetan duduk, jadi mereka berdiri di ujung gerbong.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1987

Berhubung ini kereta dan stasiun zadul, pembayarannya juga rada manual. Ada mesin khusus untuk bayar di dalam kereta yang juga dilayani petugas soalnya stasiun arah Bijodaira memang kampuang nan jauh di mato! Boro-boro mesin tap in tap out, kadang stasiunnya aja kelihatan kayak gudang. Gw penasaran banget gimana rasanya tinggal di daerah situ, kayaknya sepi banget dan sejauh mata memandang ga keliatan penampakan generasi dewasa muda.

Mentok yang lo liat ya lansia (yang masih aktif naik sepeda atau bawa mobil) sama anak sekolah. Tipikal daerah kampung di Jepang di mana lansia bertaburan. Yang muda pada minggat ke kota besar demi segenggam berlian.

Kayak Indonesia? Iya. Tapi setidaknya di kampung Indonesia lo pasti menemukan sosok anak-anak muda atau 30-an lah ya. Gw melototin jalanan beneran cuma liat kakek-nenek!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1982

Sejam perjalanan, kereta melewati desa-desa dengan hamparan sawah, sakura, sampe sungai. Rasanya kayak ke tempat syuting All About Lily Chou Chuo atau drama Nino Stand Up!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1984

Sampai di stasiun terakhir Tateyama, ada antrean lagi naik cable car ke Bijodaira. Di sini ada lebih banyak manusia! Padahal kami sampe jam 8 pagi loooh.

Terus ada layar monitor yang menunjukkan nomor antrean dan jam keberangkatan. Ooh, jadi di tiket yang gw beli itu, tulisan 09.00 artinya giliran naik cable car jam 09.00. Bagus deh, jadi enggak rebutan karena semua udah teratur.

Sembari menunggu, kita bisa makan di restoran atau ke toko suvenir yang juga menjual peralatan untuk ke gunung, mulai dari jaket, sarung tangan, syal, heat pad, jas hujan sampe payung.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1974

Tisha yang lemaknya tipis beli syal, gw beli heat pad. Tadinya dia mau gesek debit aja karena gak bawa cash (abis buat beli tiket Tateyama), ternyata gak bisa, harus kartu kredit. Lah mana ada ATM di gunung? Untung gw ada duit tunai.

Jadi, kalo ke Tateyama jangan lupa bawa uang tunai (kalo ga punya kartu kredit) dengan jumlah lumayan ya siapa tahu mau beli macem-macem.

Cable Car

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_196b

 

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1964

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1968

Bentuknya unik, miring gitu. Perjalanan cuma hitungan menit dengan pemandangan pohon-pohon dan gunung berhias salju di kejauhan.

Cable car ini dulunya dipake buat ngebawa bahan untuk membangun dam di Tateyama. Setelah dam selesai dibangun, cable car tetap beroperasi buat membawa turis ke atas gunung. Mantap kan gan, naik gunung tinggal berdiri atau duduk syantik!

Bijodaira

Ada antrean lagi! Tapi lagi-lagi sudah terjadwal rapi.

Giliran kami (geng ‪jam 09.00‬) belum dipanggil. Sembari menanti, keluar dulu deh (ngikut turis2 yang pada heboh keluar bangunan) buat foto syantik dengan pemandangan salju. Terus ada pengumuman suruh masuk bangunan karena ada bis yang mau sampe.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1914

Bijodaira itu semacam terminal ya, jadi dari tadi turis memenuhi jalan yang harusnya jadi tempat parkir.

Kami menunggu agak lama karena kata petugas saljunya masih dibersihin di atas. (Bisnya kan jalan di antara dinding salju).

Nomor antrean kami akhirnya dipanggil. Cus naik bis ke Murodo! Pemandangan salju dimulai dari level rendah, salju sedikit – salju numpuk – salju tebal – dinding salju!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1918

Rasanya kayak nonton film deh. Supir bis mengemudi dengan handal di jalanan yang berkelok-kelok, mirip kayak ‪jalan mau pulang kampung ke Jawa Barat‬. Tapi pemandangan serba putih, bukan warung kecil yang jualan ubi cilembu.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_191b

Lalu… Kabut turun. Ada bunyi tuk tuk tuk kecil terdengar di jendela. Butiran es!

Eh, salju juga turun! Mood semakin “wow kayak di pelem ini maaaaak uhuy gela gela gela!”.

Dinding salju yang dilewati semakin tinggi, makin mirip sama foto promosi di situs resmi Tateyama.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1928

Pada satu persimpangan, kami melihat bis turun ke arah berlawanan. Lalu, bis kami juga puter balik.

LOH. Apa ada jalan lain? Apa harus balik lagi? Ada apa? Ada Apa Dengan Cinta?

Supir ngomong pake bahasa Jepang, gagal paham. Tapi gw cuma nangkep “maaf”. Hm, firasat buruk.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1932

Eh beneran balik lagi ke Bijodaira. Di situ lihat monitor, tulisannya: Area Cancelled.

Layanan bis dari Bijodaira ke Murodo dibatalkan hari itu karena cuaca buruk. Yang kasian tuh orang-orang yang udah pada booking hotel di ujung gunung satu lagi.

Ada bapak-bapak Korea pake telepon umum, nelpon hotel buat ngabarin reservasinya terpaksa diundur sehari karena cuaca buruk. Untung gw nginep di Kanazawa!

Kata petugas, bakal ada refund nanti di loket tempat beli tiket di Dentetsu Toyama. Beban di hati agak plong. Udah siap-siap rugi bandar sih soalnya kan ini kendala gak bisa ditebak, bukan salah mereka, namanya juga alam.

Anyway, antrean balik ke cable car panjang banget! Ah, selow aja, mending makan dulu lah.

Kita emang udah beli sushi buat bekal, niatnya mau makan di salju. Apa boleh buat, isi dulu perutnya sembari nunggu antrean sepi. Bahkan di situ kita sempet bikin video Unboxing Sushi (pembahasan menyusul).

Gw pikir pembatalan ini cuma sementara, artinya kalo cuaca udah oke, bis bakal jalan lagi. Jadi gw sama Tisha keluar dari bangunan buat foto syantik dengan latar belakang salju. Sempetin lah buat kenang-kenangan.

Eh ya ampun, baru ngerasain cuaca satu digit celcius berapa menit aja udah “ADUH GA BISA MENCET KAMERA TANGAN GW DINGIN BANGET!”.

Mungkin ini sebabnya banyak orang ga suka musim dingin.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1946

Lagi asyik foto, petugas tergopoh-gopoh menghampiri, dia bilang cable car terakhir udah mau berangkat jadi cepetan ke sana.

LAAAH. Maap ya pak, kaga ada pengumuman bahasa Inggris jadi kite selow bener di sini. Lari-lari deh takut ditinggal, untung masih keburu walau ga dapet kursi.

Begitu sampe di stasiun Tateyama, turis-turis masih foto di luar cable car sampe petugas terpaksa ngusir (dengan sopan).

Kembali naik kereta lokal sambil terkantuk-kantuk. Sampe loket Dentetsu Toyama langsung nyodorin dua tiket.

DUITNYA DIBALIKIN FULL

Kalau gak ada orang Indonesia gw udah pengen jerit-jerit norak horeee duit balik horeee bisa jajan makanan mahal horeee.

Sedih gak? Pastinya. Tateyama Kurobe Alpine Route ini harusnya highlight dari perjalanan kami. Tapi namanya juga alam, mau gimana lagi?

Untungnya juga, kami gak bawa koper karena nginepnya di kota lain yang jaraknya cuma 28 menit shinkansen. Ibaratnya mau ke Bogor, tapi nginep di Jakarta. Cuma modal ransel kecil aja buat pergi seharian.

Jadi gak pake repot harus ngambil koper-koper di stasiun. Sebagian besar turis itu ngambil rute menuju Tokyo, jadi nanti kopernya bakal dikirim ke sisi lain gunung. Berhubung batal, rempong dah itu koper berjejer di stasiun buat diambil kembali. Mungkin mereka harus naik shinkansen langsung ke arah Tokyo, atau cari penginapan di Toyama.

Lagipula kami sebenarnya sedikiiit lagi udah sampe, lumayan udah liat preview…salju turun, ngerasain dinginnya minus satu derajat, Dan semuanya gratis.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s