Jalan Jalan Filipina – Intramuros dan makan balut

Sarapan terlezat saat berada di Manila terwujud berkat bumbu pasta creamy instan dan tuna kaleng yang dibeli di mal semalam. Enak, kenyang, murah!

Pasta adalah salah satu makanan populer di Filipina, apakah ini selera yang dipengaruhi kolonial?

Di supermarket ada banyak banget varian pasta dan bumbunya (kalo di kita paling cuma ambil sedikit porsi dari rak). Varian itu gak cuma dari merek sama rasa, tapi juga ukuran. Ada yang guedeee banget, pas buat ngasih makan anggota arisan.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1110

Salah satu tempat yang pasti menarik untuk dilihat-lihat saat main ke negara lain memang supermarket. Kita bisa menemukan barang yang enggak ada di Indonesia atau ada di sini tapi namanya berbeda.

Susu Dancow ganti nama jadi Nido, Pocky jadi Ticky, ada bir namanya Bali Hai dan kebanggaan kita semua: Indomie.

Yang jadi cobaan hidup adalah ketiadaan saus pedas (kalau ada ukurannya gede dan kita males beli karena bakal mubazir). Di negara-negara lain, rindu saus bisa ditekan dengan citarasa lokal yang bisa diterima lidah. Tapi… di sini… sekalinya ada saus kok malah saus pisang #KRAYYYMIERIPER. Oiya ketchup sih buanyaaaak banget. Tapi kan hidup juga butuh unsur pedas, kalau manis doang namanya hanya mimpi. Eaaa.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_101f

Habis makan terbitlah kenyang. Mari kita ke pusat kota. Dari apartemen naik kereta ke daerah yang mirip SCBD, kalo gak salah sih Makati. Nah, iya bener nih Manila emang mirip banget sama Jakarta. Ada daerah yang kumuh, tapi ada yang kece badai. Mal-mal berjejer gitu deh, ampe bingung mau masuk ke mana. Niatnya sih cari makan yang khas Filipina.

Dari rekomendasi teman couchsurfing, kita masuk deh ke restoran yang katanya menyajikan masakan dengan cita rasa asli Filipina.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1065

Pas di Balanga makan cumi beginian lumayan lah rasanya, tapi di restoran ini mah menang mahal doang. Pengunjung kuciwa~ Lumayan terobati sama semangkuk kuah kaldu yang bikin makan siang ada rasanya.

Dari Makati, kami naik grabcar ke Intramuros, kota tua yang kental dengan nuansa Spanyol, karena transportasi umum agak rempong. Emang ya, ojek tuh idola Indonesia, di sini tiada grabbike, hanya ada car car car. Oiya, di Intramuros banyak delman juga loh. Tapi sebagai sesama Asia Tenggara, delman mah udah kagak ada menarik-menariknya. Dulu waktu SMA, sempet ada study tour ke Garut terus kelompok gw meneliti delman (terus kenapa).

Ada teman couchsurfing, namanya Tris, yang bersedia menjadi pemandu di sini. Dia bilang, Intramuros artinya walled city karena dulu kota ini emang dikelilingi benteng.

Kami diajak jalan kaki ke Fort Santiago, katedral dan museum Jose Rizal. Kalo baca di wikipedia, Jose Rizal ini kecil-kecil cabe rawit ye. Badannya kecil (kalo dari patungnya sih enggak beda jauh sama gw) tapi bakatnya banyak banget. Sayang sekali dia harus mati muda, ditembak pula. Di museum Jose Rizal, lo bisa melihat tanda jejak-jejak terakhir Jose Rizal menuju kematian. Ih, kasihan.

Iseng-iseng gw tanya, apakah temennya si Tris banyak yang bernama Jose Rizal, secara dia diagung-agunkan jadi pahlawan di negaranya. Ternyata enggak juga tuh. Hehe.

Teruuuuus… kita naik jeepney ke Rizal Park. Rasanya kayak main ke monas, rame orang, penjual mainan, air mancur joget, lampu-lampu. Terus Tris nyariin penjual balut, telur isi embrio bebek, karena “lo belom ke Filipina kalo belom makan balut”.

Gw dulu pernah lihat balut di Amazing Race. Penampakannya super mengerikaaaaan. Penjualnya kayak jualan es tong-tong, bawa tempat bulet yang kayak tempat nasi uduk itu loh. Nah telurnya di situ semua. Bentuknya persis telur asin, dan ternyata telurnya hangaaat. Kayak baru direbus atau kukus atau entahlah.

Peserta pertama adalah Ati yang enggak kenal takut. Gokil ni anak santai aja buka telur, sedot airnya (yes, berair saudara-saudara) ngunyah-ngunyah dan bilang “enak kok”. Oiya, lebih nikmat kita bisa makan pake saos dari semacam cuka dan potongan bawang plus cabe.

Gw sebagai camera person melihat sendiri detil-detil errrr dari embrio bebek. Uuuu bikin bergidik.

 

Selanjutnya Dachi yang makan. Dia bisa bertahan dan baik-baik saja. Giliran gueeeee… Baiklah. Telur itu terasa hangat di tangan. Tuk tuk. Gw pecahin ujungnya, air mengalir membasahi tangan. Slurrrrp. Sedok-sedot.

Hmm… Yah gak amis sih, sebenarnya rasa telur. Kulit telurnya gw buka lagi… OH MY… mulai terlihat embrio bebek tak berdosa itu. Aaaaaarghhh. Mendingan langsung hap kayak Saipul Jamil dan gak usah lihat bebeknya!

Kunyah kunyah kunyah tanpa melihat visual yang membuat selera hilang, ternyata memang rasa telur! Cuma begitu ada bagian-bagian yang alot jadi rada serem, ini apaan yang gw makan? Kepala? Kaki? Paruh? Tak lupa tambahkan terus itu saos cuka biar tambah lezat. Keringat gw mengucur deras. Ya memang Manila malam itu panas, kerudung bahannya tebal, plus panik!

A post shared by Nanien (@nanience) on Feb 20, 2017 at 6:04am PST

Yeah, I survived!

Mau makan lagi? Enggak deh, makasih. Mendingan makan telur asin aja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s