Jalan Jalan Filipina – Mabuhay Manila

Selamat tinggal Balanga, kami bertolak ke ibukota. Mabuhay Manila!

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1200
Sawah di Balanga

Berbeda di airbnb Jepang atau Korea di mana interaksi dengan host sangat minimal, bahkan tidak bertemu muka.

Di Filipina, kami menyerahkan kunci langsung pada sang pemilik ketika check out. Kali ini si dedek anaknya pemilik gak datang, tapi ada saudaranya yang lain yang mampir ke rumah.

IMG_3363
Kue keju yang kuning enak banget

Sebelum ke terminal, mampir dulu ke Starbucks karena itu satu-satunya yang familier di jalanan Balanga yang penuh tricycle. Pelayannya ramah dan kelihatan penasaran sama kita. Di sela jelasin menu dan mesen ini itu, dia nanya-nanya.

Dari mana? Ada sodara di sini? Ngapain ke sini?

Begitu tahu kami dari Indonesia dan ke Balanga buat main aja, dese semacam “Lah ngapain ke mari, emang ada yang menarik?”.

IMG_3361
Yang ditangkap telinga Filipina saat gw menyebut nama

Iya sih mas, kalau ga ke Las Casas mah saya berasa lagi ke kota kecil di Jawa Barat aja ini mah. Gak terlalu banyak yang bisa dilihat. Kalaupun ada ya… sama aja kaya Indonesia. Bedanya cuma gak paham bahasa tagalog aja. Btw harga Starbucks di sini sedikiiiiit lebih murah.

IMG_1094

Bagaikan dijemput taksi, abang tricycle yang kami panggil pun masuk ke lobi gerai kopi untuk mengantar kami ke terminal bis Genesis. Di sini kayaknya beneran lumrah banget pake tricycle, macem gojek gitu kali ya. Mau ke hotel kek, mau ke pasar kek, cus tricycle.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_100a
Tricycle

Terminalnya ya gitu aja deh. Genesis itu kayaknya semacam nama perusahaan bis, kayak Hiba Utama atau Primajasa. Jadi, kami ke terminal yang khusus bis Genesis. Tinggal nunggu bis dengan tujuan yang dimaksud aja. Selama beberapa puluh menit menanti dengan sabar hingga muncul yang ke arah Manila.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1009
Bis AKAP Filipina

Bis berhenti di beberapa tempat, menaikturunkan penumpang, melewati jalan tol, kemudian lalu lintas lancar berangsur-angsur berubah jadi padat. Ngecek di Google Map, merah semua euy tanda macet. Sepertinya sudah mau sampai kota nih.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_1014

Hujan menyambut kami di Manila! Turun di MRT (tempat naik bis ke Balanga waktu nyampe pertama kali). Naik tangga penyeberangan yang panjaaaaang, hampir menyaingi jembatan Semanggi, ke arah kereta.

Walau terlihat kuno dan kusam, jembatan penyeberangan di Manila setidaknya terintegrasi sama pusat perbelanjaan (yang lebih mirip Kramat Jati dari luar) dan stasiun. Antrean menuju stasiun panjangnya minta ampun, soalnya ada pemeriksaan tas, ibarat mau masuk ke mal gitu deh. Gw nanya arah sama petugas yang lagi meriksa terus dia jawabnya ketus mampus. Idih.

Singkat cerita, kami berhasil tiba di stasiun yang benar. Begitu menginjakkan kaki di kereta, syukur menyeruak di hati karena stasiun dan KRL arah Kota-Bogor jauh lebih keren. Stasiunnya memang besar, tapi suram dan gelap kayak masih dalam tahap pembangunan. Kalau Bogor atau Kota kan besar tapi banyak sinar matahari gitu ya, di sini mah gelap. Kayaknya vampir betah.

Penginapan airbnb di Manila letaknya sangat strategis.

Persis di depan stasiun dan bersebelahan sama mal. Anggap saja lokasinya di hotel sebelah Margo City, terus ceritanya depan Margo itu stasiun Depok. Tinggal jalan kaki, sampe deh! Tetapi lagi ada pembangunan dan, sama seperti Indonesia, trotoarnya kacrut. Sayangnya lagi, gak ada penghubung langsung antar mal dan apartemen. Jadi harus jalan kaki muter-muter ngelewatin trotoar bau pesing.

Kamar kami di lantai 27 jadi bisa memandang Manila dari atas gitu deh. Imut dan minimalis, setiap ruang dimanfaatkan secara efisien. Kasurnya ada di atas tangga, lucu banget.  Dachi yang anti tidur sekasur sama makhluk lain memilih tidur di sofa yang bisa dijadiin kasur.

UNADJUSTEDNONRAW_thumb_101a
Sekali-kali makan di restoran mol, harganya serupa sama Jakarta

Setelah bebersih dan istirahat, malam itu kami melipir ke mol untuk makan malam dan nonton bioskop di SMCinema. Kebetulan Fantastic Beasts and Where to Find Them baru tayang.

Tiap deret bangku di bioskop punya ruang lebih luas ketimbang bioskop di Jakarta yang serba sempit (tapi bangkunya enakan di Jakarta, lebih mewah dan empuk). Ada spot khusus untuk kursi roda di kanan dan kiri, jadi sangat memudahkan difabel.

Nonton film dengan logat Inggris tanpa subtitle, alhasil ada beberapa bagian yang gw gak gitu nangkep dia ngomong apa. Wekekeke.

Film berakhir nyaris tengah malam, tapi suasana jalanan depan mal tetap ramai dan berisik. Entah ini berhubungan sama klakson mereka atau apa ya, kayaknya nongkrong di depan terminal Kampung Rambutan aja gak seberisik ini.

Di lantai 27, bunyi klaksonnya masih kedengeran! Adaptasi dari rumah sepi antah berantah di Balanga jadi apartemen yang tak pernah sunyi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s