Jalan Jalan Jepang – Manga Cafe & Museum Ghibli

A post shared by Nanien (@nanience) on May 7, 2017 at 6:42am PDT

Ada satu kesamaan yang kami rasakan setelah tidur berjam-jam di bis malam dari Kyoto – Tokyo: kaki bengkak!

Mungkin ini berhubungan dengan peredaran darah karena kami tidurnya sambil duduk kali ya? Sepatu gw kan emang ngepas gitu, tapi pas pagi-pagi mau sampe Ikebukuro, kok susah banget masukin kaki. Kirain gara-gara masih teler ngantuk jadi pake sepatu aja sulit. Ternyata semuanya mengalami hal serupa. LOL.

IMG_9021

Dari terminal bis Ikebukuro, kami geret koper menuju stasiun Ikebukuro bersama anak-anak berseragam yang lagi jalan kaki menuju sekolah. Ih lucu banget lihat bocah-bocah dengan seragam sailor alias seifuku dengan tas penuh gantungan boneka-boneka heboh.

Di stasiun Ikebukuro lagi-lagi ada hambatan: gak jelas di mana lokernya. Gak nemu peta, orang yang bisa ditanya, eskalator atau lift, terus lagi rush hour jadi orang-orang banyaaaak banget. Kebayang gak tujuh orang bawa koper gede turun naik tangga, celingukan ngalangin jalan di stasiun penuh orang? Ini Tokyo loh yang skala ramenya lebih tinggi ketimbang Osaka/Kyoto.

Masalah koper aman, saatnya mandi! Sehari semalam belum tersentuh air looh. Kami kan menyesuaikan dengan budaya sekitar, mandi sekali sehari pas malam mau tidur. Berhubung malam sebelumnya kami di bis, badan jadi agak-agak lengket gitu deh. Tapi, mandi di mana?

Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani.

Manga Cafe alias Manga Kissa!

Kafe penuh manga ini menyediakan fasilitas ruangan untuk menginap. Kalau lo suka nonton dorama, mungkin pernah lihat adegan orang nginep di Manga Cafe karena murah meriah.

IMG_9023
Di lift menuju manga cafe

Gw sebenarnya agak doki-doki masuk ke manga cafe karena penampakan dari luar mencurigakan. Pun dari referensi yang ada di kepala, tempat ini sepertinya dihuni oleh para pervy (korban dorama dan komik). Stereotipe negatif lah pokoknya.

IMG_9050

Kami disambut oleh penjaga berpakaian rapi yang nyaris gak bisa bahasa Inggris. Komunikasi dijalin lewat kalkulator dan bahasa tubuh. Intinya, tujuh orang mau mandi, bayar berapose?

IMG_9046
Ada Java dan Indonesia Curry

Rupanya kami diharuskan menyewa ruangan untuk memakai kamar mandi yang jumlahnya hanya DUA. Oh, baiklah. Kembali hompimpa untuk menentukan giliran.

Disewalah tiga ruangan selama (kalo ga salah) dua-tiga jam, dengan perhitungan gantian mandi tujuh orang, cewek-cewek pula.

IMG_9036
Bisa buat nginep berhari-hari

Gw dan Yuni berada di ruangan yang dikhususkan untuk tiga orang. Ruangannya cuma tertutup bagian samping, atasnya sih kebuka, jadi bisa aja ngintip orang sebelah lagi ngapain.

IMG_9047
Ada majalah yang covernya Sho

Alasnya empuk, jadi bisa dipake tidur. Ini emang cocok banget buat orang yang suka main game berjam-jam, browsing internet dan baca komik tanpa diganggu. Mau makan tinggal pesan, pokoknya serba ada.

Manga Cafe penuh sama rak-rak komik dan majalah. Genrenya macem-macem, dari yang semua umur sampai 18+.

IMG_9049
Pas mau keluar dari manga cafe, gw melihat salah satu pengunjung, turis asing bawa koper gede banget. Wah, ternyata ada juga yang ke sini bawa-bawa koper jumbo! Buat berhemat kali yaa.

Sudah bersih, wangi, menor, kami pun mengucapkan selamat tinggal pada penjaga manga cafe.

Kembali ke stasiun, kemudian menuju pinggiran Tokyo, (kalau gak salah) Yamato Ginza. Kami janjian sama Satoko, temen yang dulu belajar bahasa Indonesia di UI, untuk nemenin muter-muter.

IMG_9108
Ceritanya muka datar biar kaya pose di majalah

Perbedaannya janjian di Jepang sama Jakarta adalah soal ketepatan waktu.

“Saya sampai jam 13.01 ya,” tulis Satoko waktu itu. Gileee sampe ke menit-menitnya loh!

Kalo di Jakarta janjian pasti begini deh, “Gw nyampe kira-kira setengah tiga-an ya.”

Mungkin baru sampe jam 3 atau jam 4. Hanya Allah yang tahu.

IMG_9135

Senangnya ke pinggiran Tokyo yang bukan tempat turis. Beneran full orang lokal. Ada beberapa orang (mostly lansia) yang gak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu ketika melihat muka-muka Asia Tenggara, sebagian berkerudung pula. Sampe ada nenek-nenek bawa kamera SLR minta izin mau fotoin kita.

IMG_9550

IMG_9120

IMG_9114
Ada dewi persik
IMG_9106
Perintilan yang minta dibeli

IMG_9546

Malah kalo kita lagi foto-foto, ada aja orang yang menawarkan diri jadi juru foto biar bisa full team terabadikan. Iiiih, baik banget ya orang-orang pinggiran kota!

Di sana ada koridor isi toko-toko lucu kayak di Pasar Baru yang bikin hati lemah ingin menggelontorkan yen di dompet. Alhamdulillah pendirianku teguh beriman seperti Jakarta.

Btw,  Satoko juga baru pertama kali ke area pinggiran ini. Jadi kita sama-sama mengeksplorasi daerah pemukiman sebelum muter balik ke stasiun. We’re going to Museum Ghibli!

IMG_9148
Kuburan, sebelum Yura Yunita – Reza Rahadian syuting di kuburan, kita sudah duluan loh pose-pose syantik di peristirahatan orang Jepun.

Dari sini, semua kami serahkan pada Satoko. Hati lega karena kami tak akan nyasar. Maklum, nyasar adalah hal lumrah dari awal sampe. Namanya juga masih adaptasi sama jalur di stasiun yang bercabang dan bikin pusing.

IMG_9154
Tiket PP Mitaka-Museum Ghibli-Mitaka Station

IMG_9155

Museum Ghibli ada di Mitaka. Turun kereta, kita bisa naik bis untuk tiba di Museum Ghibli. Beli tiketnya di mesin, masukin duit receh gitu. Bisnya didesain lucu-lucu!

Oiya, beli tiket Museum Ghibli gak bisa on the spot. Harus pesan dulu, terus pengunjung dapat jatah datang hanya di jam tertentu. Kalau ngaret, bye! Waktu itu kita mesen dari jauh hari, minta tolong Satoko yang domisilinya di sana. Pas banget waktu itu sisa tiket yang tersedia untuk hari di mana kami akan datang sesuai sama jumlah rombongan. Rezeki!

IMG_9171

Museum Ghibli menarik, penuh dengan berbagai pernak-pernik dari animasi Ghibli. Kami juga bisa nonton film pendek dan melihat sketsa pembuatan film.

IMG_9200
Totoro di pos satpam

Sayangnya, gak ada keterangan bahasa Inggris! Padahal kan seru juga ya lihat apa sih yang jadi inspirasi judul ini, gimana sih proses bikin Spirited Away (misalnya), dsb.

Jadi lo cuma bisa menyerap informasi dari gambar aja. (Ini pengalaman 2015, gak tau yang terbaru gimana ya).Padahal sebagian pengunjung adalah turis asing yang belum tentu bisa berbahasa Jepang.

Kita juga bisa menjelajahi atap museum di mana terdapat robot dari Laputa Castle in the Sky. Pas banget waktu itu lagi matahari terbenam, cantik dan romansa!

IMG_9166

Pencinta Ghibli, siap-siap bawa duit lebih karena lo bisa barbarita di gift shop. Sebenarnya toko yang jual pernah-pernik Ghibli gak cuma di sini, ada juga yang jauh lebih besar di Solamachi (malah lebih enak belanja di situ), ada toko kecil di Asakusa juga, bahkan di Hongdae Korea kayaknya gw pernah liat deh pas lagi iseng jalan kaki. Jadi gak perlu khawatir kalo ga sempet ke Mitaka tapi pengen beli cemacem perGhiblian.

IMG_9184

IMG_9180

IMG_9178

IMG_9191

Di museum ini juga ada kafe yang harganya lumayan, tapi kami jajan juga karena penampakannya lucu-lucu!

IMG_9215

Kembali lagi ke pusat kota sambil mengeluh “Laper… makan yuk! Terserah deh di mana, pokoknya mau makan!”.

IMG_9557

IMG_9554

Sushi jadi pilihan, letaknya antah berantah, pokoknya ini tempat rekomendasi senpai deh. Nyelip di antara gedung-gedung yang padat di Tokyo.

Gw mesen deh sea urchin yang kayaknya wow banget gitu kalo muncul di acara-acara Arashi.

“Sumimasen, uni hitotsu kudasai!” (Permisi, sea urchin satu dong bang).

Terus si Anggi nyela karena logat gw masih bener-bener gaya orang sunda, kok malah kayak nanya sama orang Padang. “Uda, uni mana? Uda, nasi padang mana?”.

Pas mau bayar, Satoko bilang “kalian bayar 500 yen saja”. Disubsidiiii! Auwooo makasih Satoko *kecup basah*.

IMG_9214

Malam ditutup dengan menikmati kerlap kerlip lampu Tokyo dari Tokyo Metropolitan Government Building. Dari sini lo bisa lihat Tokyo Tower dari jauh tanpa bayar :p

Di dek observasi, banyak perintilan menarik (dan ada Sailormoon!) yang OMG lucu anet lucu anet lucu anet. Kalau ga sempet ke Kiddyland, bisa kok belanja di sini.

IMG_9233
Latar belakang Tokyo, tadinya mau beli kacamata ini tapi  dapat ancaman “gw nanti pura2 ga kenal lo”
Iklan

Satu pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang – Manga Cafe & Museum Ghibli

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s