Jalan Jalan Filipina – Pasar Malam di Balanga City

img_3353

Butuh sekitar sejam untuk balik dari Las Casas Filipinas de Acuzar ke terminal Balanga. Malam telah tiba dan perut keroncongan. Di terminal, selain ada jeepney, ada juga tricycle yang berseliweran. Kami langsung nyetop abang-abang yang baru nurunin penumpang, bilang mau ke night market deket hotel Royal Crown.

“How much?”

“30”

“All? Per head?”

*abangnya ngangguk di dua pertanyaan itu*

Lah, jadinya 30 per orang apa udah bertiga ya? Yaudah, siap-siap aja bayar 90 peso, siapa tahu pasar malem dari terminal emang jauh.

Ternyata pasar malem deket toh, apalagi abangnya lewat jalan tikus. Kami kasih lah itu 90 peso. Pas kita udah jalan menjauh, dia manggil lagi, ngebalikin 60 peso.

Waaah ternyata maksudnya 30 bertiga. Murah banget dan terharu karena abangnya jujur bangeeeeeet, gak mengambil kesempatan dalam kesempitan dari turis yang clueless.

Apalagi beberapa jam sebelumnya sebel sama abang tricycle karena di Las Casas disuru bayar 60 peso padahal jaraknya cuma selemparan kolor.

Pasar malam dadakan yang cuma ada sampe akhir tahun 2016 ini gak terlalu besar. Makanannya mulai dari tipe warteg sampe cemilan macam takoyaki.

Menunya mirip-mirip, yang tipe warteg punya ikan bakar, ayam bakar, cumi bakar sampai tentunya babi babi baboy.

Untuk jajanan seperti dorayaki dan sebangsanya, ada topping atau isian yang sepertinya lumrah di sana, yaitu cokelat mehong seperti Hershey’s dan sebangsanya. Di restoran siap saji juga cokelat-cokelat mahal ini biasa jadi pilihan topping gitu deh.

Anyway, di sini gw jadi kaum minoritas, mencari-cari makanan yang sekiranya halal.

img_3349

Setelah bolak-balik kayak setrikaan, kami berhenti di satu kios menunya serba bakar. Ada pusit (cumi-cumi) mentah yang harganya berbeda, tergantung ukuran.

Gw dan Ati memutuskan untuk berbagi lauk pauk. Kita mesen pusit isi cacahan tomat dan ayam bakar, sementara Dachi pilih sisig, cacahan daging dari kepala babi yang disajikan di atas hotplate.

img_3351

Harganya standar, kalau dirupiahin ya 30 rebuan sih.

Yang menarik, nasi disajikan di atas piring berlapis plastik. Bisa juga nih ditiru kalo males cuci piring. Eh, kalo di kita sih biasa pake kertas cokelat yang sering dipake di rumah makan Padang yak?!

Rasanya gimana?

Filipina membuat gw sungguh bersyukur lahir jadi orang Indonesia yang makanannya ENAK ENAK ENAK ENAK ENAK! Juga bikin gw kanget berat sama sambal. Di rumah, makanan sesederhana telor ceplok pun jadi nikmat asal ada sambal.

Pusitnya lumayan lah karena ada bumbu kecap asin + sedikit irisan cabe rawit, tapi tentu kalah telak kalau bumbunya kecap manis + rawit + bawang merah + irisan tomat!

Ayam bakar rasanya standar, tapi ini juga penyelamat karena akhirnya ada yang enak di lidah.

Lalu, bagaimana dengan rasa daging babi di hidangan sisig? Kata Dachi sih jauh lebih enak daging babi di Indonesia.

Rupanya bumbu makanan memang Filipina kurang cocok sama lidah kami.

img_3352

Habis makan, tenggorokan seret. Lihat-lihat sekitar, pada asik minum kelapa.

“Ate! (artinya sister, mungkin kayak kita manggil ‘mbak’) buko, three!”

Kelapa dalam bahasa setempat disebut Buko. Ada dua pilihan, buko murni atau buko yang sudah dikasih gula. Kami pilih buko yang belum diapa-apain. Segar!

Perut kenyang, hati senang, ayo pulang!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s