Jalan Jalan Filipina – Las Casas Filipinas de Acuzar

Tidak mengherankan perintah pertama untuk Nabi Muhammad S.A.W adalah iqra’. BACA.

Akibat tidak membaca, nyaris dapat serangan jantung di Las Casas Filipinas de Acuzar.

img_3333

img_2679

Gara-gara males baca ditambah asumsi semuanya murmer di Filipina, gw pergi ke Las Casas bermodalkan 2000 sekian peso saja di dompet.

Sesampainya di tempat beli tiket (yang mirip tenda darurat) resort milik arsitek tajir ini, mbak petugas bertanya, “apakah Anda sudah tahu harga tiket day trip?”.

Gw menjawab tidak. Dia membuka mulut, “Nine hundred ninety nine peso.”

Gw langsung nengok ke Dachi dan Ati. Memastikan tidak salah dengar kalau itu harga per orang. Mengecek lagi jangan-jangan gw salah mengerti. Mungkin 999 itu harga bertiga. Mungkin sebenarnya 99 peso aja per orang.

“Do you have the pamphlet?” tanya gw.

“No, mam.”

Lah, gimane sih masa brosur aja kaga ada, kan mau mastiin siapa tahu ada tiket lebih murah.

daytour-rates

2a2fb730-f299-44f0-8be3-efdc0032ad61

Ternyata… Ketika baca situs resminya (beberapa pekan setelah kembali ke Jakarta), baru tahu ada layanan shuttle pulang pergi Manila – Las Casas. OMG. Andai tahu ada layanan ini.. Gak perlu rempong puyeng cari bis, penginapan, dsb. Tapi, justru lebih seru ngebolang sih karena Balanga ternyata lebih menyenangkan ketimbang Manila.

Duh lemes. Perjalanan panjang… Kalo balik lagi, males banget…

Begini perjalanannya…

Dari rumah, kami jalan kaki ke jalan raya, manggil abang tricycle ke Terminal Balanga (mereka nyebut “terminal” kayak orang Sumatera gitu “E”-nya). Turun di tempat ngetem jeepney tujuan Bagac.

screen-shot-2016-12-04-at-10-14-08-pm

Rute dari terminal Balanga ke Las Casas

Harusnya bayar 40 peso, tapi karena abangnya bilang kita bakal dianter sampe Las Casas dia minta 70 peso. No idea kita sebenernya dibego-begoin apa gimana, pasrah aja. Diterpa angin gelebuk selama 45-60 menit sampe ada tulisan Las Casas Filipinas de Acuzar. Eh si abang balikin masing-masing 20 peso, kayaknya gegara pintu Las Casas ternyata dipindah lokasi.

Supir jeepney manggilin supir tricycle, bapak tua yang ga bisa bahasa Inggris. Dia bilang 60 peso saat kita minta ke Las Casas. Berhubung gak tau jaraknya jauh apa gak, ya diiyain aja.

Ternyata pagar Las Casas cuma selemparan kolor, maksimal 3 menit jalan kaki dari turun jeepney. Duh… Kok kesel. Berasa ditipu. Di Balanga, jarak yang lebih jauh dari itu aja cuma 40 peso.

Pagar Las Casas dikunci. Ada petugas yang menghampiri kita dan bilang pintunya bukan di sini, tapi udah pindah. Mbaknya menerjemahkan si supir minta tambahan berapa peso, gw minta tolong ditawar biar lebih murah, dia bilang gak bisa.

Kita nawar lagi deh ke abangnya beberapa puluh peso, dan dia langsung mau. Dasar anaknya curigaan, gw mikir jangan-jangan jaraknya gak jauh dan ongkosnya bisa lebih murah. Pffft.

“Semoga jauh letaknya, biar kita gak rugi,” kata gw. 

Ternyata emang jauh, terus masuk ke pedalaman jalan berbatu dengan ranjau tahi kuda di beberapa tempat. 

img_2657

Petunjuk transportasi umum dari situs resmi Las Casas:

Public transportation information from Cubao, Quezon City to Bagac, Bataan

Genesis Bus bound to Balanga, Bataan – PHP 200.00/per person (2 hours drive)

Kenyataannya empat jam!

From Balanga Terminal to Bagac Proper – PHP 47.00/per person (Please advise driver that you are going to Las Casas Filipinas Resort) 45 minutes drive.

Kenyataannya diminta 70 peso kalau mau sampe Las Casas, tapi diralat jadi 50 peso karena pintunya pindah tempat.

Bagac Proper (corner of Las Casas), Tricycle – PHP 10.00/per person (5-10 minutes)

Kenyataannya diminta 20 peso per orang (kalo ke pintu yang lama), dan dua kali lipat ke pintu masuk yang baru.

Kembali ke tiket. Gak ada yang lebih murah, tapi ada paket lebih mahal sudah termasuk makan. Kami pilih yang paling murah, 999 peso. Ada voucher botol air mineral yang bisa diambil di restoran yang tersedia dan handuk dingin yang akan dikasih pemandu.

img_2708

Walking tour ada tiap jam. Tapi kami laper banget karena sampe Las Casas pas banget jam makan siang. Isi perut aja dulu, baru tur jalan kaki sama pemandu.

DCIM100GOPROGOPR5013.

Risotto dan pasta hitam

Ada dua macam restoran di Las Casas, restoran Filipina di hotel dan restoran Italia. Di hotel, restorannya ga jelas ada di mana. Yang ada malah acara konferensi, pas kita nanya di mana restorannya, panitia bilang gak ada. Errrr… Masa resepsionis atau petugas hotel juga nihil, jadi ya udah, mau gak mau ke restoran Italia…

Tempatnya remang-remang. Kayaknya banyak jin. Cuma ada sepasang tamu dan kami. Meski ini restoran Italia, pemandangannya sawah.

 

img_2623

Biaya hidup dua hari habis dalam sekali makan

Begitu lihat menu, subhanallah… mahal banget. Berasa makan di restoran kece Jakarta, tapi kalo di Jakarta udah ketahuan bentuk dan rasanya. Yah… Lasagna aja kalo dihitung dalam rupiah udah 100 rebu lebih. Huft. Maklum, biasa makan kenyang di Jollibee cuma sepertiganya.

Untunglah restoran ini menerima kartu kredit, jadi bisa ngutang dulu pake CC Dachi.

Pilihan gw standar saja, lasagna. Rasanya pun standar. Harganya jauh dari standar. Dachi makan pasta tinta cumi yang rasanya IMHO sedikit amis, yah kayak ikan.

Ati makan risotto jamur yang seperti nasi gak mateng (emang gitu ya risotto, tapi gw gak suka versi ini).

img_2621

Untuk rame-rame, kami pesen pizza bla bla bla lupa namanya. Pizzanya enak, krenyes-krenyes, saosnya enak, tapi toppingnya gw kurang suka. Lembaran tipis ikan asin tapi kayak ikan yang belum mateng.

img_2670

Las Casas Filipinas de Acuzar ini seperti Taman Mini Indonesia Indah versi jauuuuh lebih mini. Isinya replika rumah-rumah milik orang-orang terkemuka di Filipina.

img_3318

 

 

Banyaknya rumah-rumah cantik membuat Las Casas jadi salah satu tempat kece buat foto prewed.

img_3272

img_3265

Dalam kastil yang pengap lembab

img_3258

Sebagian rumahnya bisa disewa buat tempat menginap, ada yang punya kolam renang di dalam ruangan.

img_2707

img_2671

Nanas punya arti khusus untuk Filipina

img_2657

Gazebo putih di kanan bisa buat nikahan

Di salah satu rumah, ada sofa yang pendek banget!

Tempat duduknya sama tinggi kayak mata kaki kita. Kata pemandu, itu karena sofanya disesuaikan sama tinggi orang Filipina zaman dulu, khususnya Gloria Macapagal. Wih, imut banget yak? Gak heran sih, karena Jose Rizal aja ternyata enggak jauh beda tingginya sama gw.

img_2690

Dari rumah-rumah yang ada di sini, kita bisa belajar tentang secuil sejarah orang-orang terkenal di Filipina.

Yang paling gw ingat adalah sebuah rumah di mana suaminya menyekap sang istri gara-gara dia ketahuan selingkuh sama kapten kapal. Kita lihat kamar di mana sang istri disekap. Dari jendela kamar, sang istri yang jadi tahanan rumah melemparkan surat minta tolong .

BTW, mereka masih satu keluarga sama orang-orang terkenal di Filipina dah, makanya rumah mereka dihadirkan di sini, tapi gw lupa siapa, wekekeke.

img_2675

Tebak, apa yang aneh di foto ini?

Ada juga rumah yang mirip sama rumah panggung di Indonesia. Interiornya juga serupa lah. Di ruang makan, lantai terdiri dari kayu yang renggang biar kalau ada sisa makanan jatoh, bisa disantap sama hewan peliharaan yang kandangnya di kolong rumah.

Kata Ati si keturunan Bugis, “Ini mah rumah nenek gw!”

img_2699

Fesyen Filipina masa lampau, itu bahu mancung banget

Kelar muter-muter sambil mendengarkan penjelasan pemandu, cuaca sudah mulai bersahabat. Sore telah tiba, yang tadinya panas menyengat jadi adem.

Suasana jadi romantis karena langit mulai berubah warna, jelang matahari terbenam.

img_3319

img_3325

Terus… Orang-orang mulai berdatangan. Oooooo… jadi tempat ini justru ramenya pas sore! Banyak juga kali ya yang merupakan tamu hotel, kalo yang udah tuwir dianterin pake mobil listrik, ada yang naik delman, ada yang naik jeepney, ada yang naik motor, ada yang jalan kaki aja kayak kami bertiga.

img_3332

Para tamu hotel bisa menghabiskan malam di pantai yang letaknya persis di depan Las Casas. Pantainya bersih, tapi pasirnya hitam biasa aja kayak di Ancol gitu lah. Khusus untuk peserta day trip seperti kami, pantai hanya boleh diakses sampe pukul 6 sore.

Untuk balik, kami harus ke resepsionis gitu minta semacam bon-keterangan-pulang yang harus dikasih ke penjaga di gerbang. Minta sama satpam untuk panggilin tricycle karena ini antah berantah banget tempatnya.

Belasan menit kemudian, abang tricycle datang. Kami melewati jalan berbatu dengan ranjau (tahi kuda) yang belum dibersihkan di satu sudut. Hanya ada lampu dari tricycle karena jalan ini benar-benar gelap gulita!

Tiba di jalan besar, baru kelihatan ada kehidupan, itu juga masih remang-remang sih. Ceyem abis kalo sendirian. Kita diturunin abangnya di depan sebuah kantor (bukan terminal), pake bahasa isyarat dia bilang tunggu aja di sono karena jeepney menuju Balanga City bakal lewat situ. Bismillah aja lah moga-moga beneran lewat.

Beberapa menit kemudian, dia balik lagi, bilang kalo jeepney ada di ujung jalan. Naik lagi deh ke tricycle. Beberapa ratus meter dari situ, terlihat jeepney ngetem di tempat yang mirip spot cuci mobil di pinggir jalan.

Kali ini model jeepney-nya agak beda dari yang kita naikin pagi-pagi. Ada jendelanya (yang pagi beneran kebuka sampingnya) jadi gak masuk angin kena angin malam. Cuma, bau knalpot merasuk sepanjang jalan. Aigoooo. Mabok knalpot, mana hujan deras, jadinya serba salah mau nutup apa buka jendela. Untung udah biasa naik kopaja, jadi gak culture shock. Malah di sini lebih enak karena gak umpel-umpelan.

Anyway, jeepney itu bagian dalemnya kayak angkot. Tempat duduknya menyamping. Bodi mobilnya gede, kayaknya satu sisi bisa muat 10 atau belasan orang.

Berhubung gw naik dari ujung, ongkos ditagih dari sebelum jeepney berangkat. Nah, gimana kalo lo baru naik dari tengah rute? Penumpang yang baru naik akan menyodorkan uang secara estafet ke penumpang lain. Nanti yang paling deket sama supir bakal ngasih ke abangnya, terus kembaliannya juga dikasih sama abangnya secara estafet ke penumpang di belakang dia.

Habis itu abangnya bakal tereak kenceng, kayaknya nanyain tujuan si penumpang, terus penumpangnya balas tereak.

Jadi, siap-siap aja bertugas jadi kenek dadakan kalo lo duduk deket pak supir yang sedang bekerja, mengendarai jeepney supaya baik jalannya, hey! Tuk tik tak tik tuk..

TIPS BERWISATA KE LAS CASAS FILIPINAS DE ACUZAR:

  1. Pakai tabir surya
  2. Pakai topi atau penutup kepala karena panas banget
  3. Bawa minum dan makanan sendiri karena di sini serba mahal dan gak ada pilihan. Mending kalo mahal tapi enak, kalo mahal tapi so-so… Kan kesel.
  4. Siapin kartu kredit kalo gak bawa duit cash banyak
  5. Pakai sepatu atau sendal yang nyaman karena di sini turnya jalan kaki
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s