Jalan Jalan Jepang (Dotonbori – Glico Man)

Malam makin larut dan toko-toko di sekitar Kaiyukan mulai tutup. Ampun deh, begini amat desa, sepi jam delapan udah nyaris nggak ada orang. Sebelum pulang, kami mampir ngemil takoyaki di toko depan stasiun. Sebenarnya menu yang tersisa adalah cracker + telor ceplok + takoyaki. Oishiikatta~


Perjalanan masih panjang sodara-sodara… Sebelum ke penginapan, kami mampir dulu di Dotonbori, itu loh, tempat honeymoon Poca-Guri (Jung Joon Young – Jung Yumi di variety show Korea We Got Married) yang ada gambar terkenal Glico Man!


  
 Setelah memutuskan mau ke kanan atau ke kiri begitu keluar stasiun, (Google Map kembali labil) tiba juga di jalan sepi berisi kafe, restoran dan hotel dengan plang besar DOTONBORI.

Kok sepi? Jepang begini amat sih, jam 8-9 malam udah nggak ada orang? Tapi, mana Glico Man?

PANTESAN SEPI SOALNYA SALAH TEMPAT. ROFL.

Salonpas dan Nino

  
Setelah bertanya pada orang lewat, kami akhirnya tiba di sungai dan jembatan yang penuuuuh orang foto-foto. Bedanya 180 derajat sama jalan-yang-sebelumnya-kami-sangka-Dotonbori. Di belakang mereka jelas terlihat billboard atlet lari sedang mengangkat kedua tangan dan satu kakinya. Itu dia si Glico Man!

Sedikit aneh rasanya berada di Osaka tapi lagu yang berkumandang  adalah album Alive-Big Bang. Sebelah gambar Glico itu Lotteria, pantas saja..

Lagi asyik foto-foto, tetiba ada bapak-bapak (kelihatannya mabuk) mendekati Maya, pemilik mata bulat ala Arab (padahal Aceh) yang tak dimiliki perempuan Jepang pada umumnya. Si bapak mabok itu minta tolong difotoin, tapi mukanya nyaris nempel ke muka Maya. Mengerikaaan!

Lalu dia nanya,

“Neparu?” (orang Nepal?)

MAAK… MUKA ACEH DISANGKA NEPAL.

Sambil takut-takut akhirnya Maya motoin itu bapak mabok beserta kawanannya. Kami pun terkikik… Sampai ada lagi mas-mas Jepang lain mendekati Maya minta dipotoin juga. Warbiasak. Neparu digandrungi di Osaka!

Di sekitar Glico Man, berderet restoran, toko suvenir dan tentu toko bebas pajak berisi kosmetik dan goods murah meriah.

Ada yang melesat ke toko kue Pablo, cheese cake yang dalamnya meleleh seperti hatiku saat bertemu dia, ada yang langsung semangat beli oleh-oleh, ada yang menyusuri jalan untuk foto-foto dan mencari tempat duduk karena betis udah berkedut-kedut, punggung sudah butuh sandaran hidup.

Kue Cubit

Kue Cubit

Dotonbori ave masih ramai lancar turis dari berbagai negara (tapi jarang liat yang pakai kerudung) dan kios-kios penjual takoyaki/okonomiyaki antreannya mengular! Hikssss.
Pengen makan okonomiyaki sih, tapi males antre panjang (di sini orang-orang pada hobi banget antre, walau panjang tetap sabar, kalau di Jakarta liat antrean bawaannya pengen kabur cari yang lain) Giliran antre, eh ternyata udah abis okonomiyakinya. Udah terlalu malem sih, makanya kalau mau ke sini lebih baik agak siangan kali ya.


Akhirnya kami mampir beli scallop bakar…eh penjualnya orang China. Lalu merasa terkhianati, kan pengen beli yang asli Jepang kok kita beli dari pendatang juga, ahahaha. Rasanya? Yah biasa aja.

IMG_8712

Pergilah kami ke tujuan akhir hari itu, penginapan!

Sila pilih mau ditemani siapa?

Tapi kok… sepertinya…ini red district… begitu banyak plang kyabakura (cabaret club) dan para pria berambut mencuat di pinggir jalan yang siap menawarkan jasa menemani mbak-mbak minum sake.

Ada pula cewek-cewek modis yang “jualan”, ngegodain cowok-cowok yang lewat dengan nada centil. Penampilan mereka nyaru sama perempuan di sini pada umumnya, stylish tapi bukan yang murahan norak gitu. Kalo nggak liat sendiri mereka lagi ngerayu-rayu sih gak akan ketahuan kalo mereka lagi “usaha”.

Belum selesai kami terkaget-kaget, mata kembali membelalak melihat hotel-hotel di sekitar penginapan… Kok, itungannya mulai dari per satu jam. Love Hotel? Penginapan kami apaan dong? Jangan-jangan hotel begituan juga?
Rombongan yang tampak seperti ibu-ibu pengajian mau ziarah ke masjid Jepang akhirnya tiba di tujuan: Business Hotel! Bukan Love Hotel untungnya…


Kami pun masuk ke kamar masing-masing (ada yang bertiga, ada yang berempat, semua ditentukan berdasarkan hasil gambreng) yang beralaskan tatami serta futon.

Akhirnya ketemu air setelah dua hari nggak mandi… hehehe. Seperti biasa, ruang bebersih terdiri dari dua bagian, satu khusus toilet, satu lagi bathtub dan shower, di antaranya ada wastafel. Jadi, tiga orang bisa bebersih barengan, ada yang buang hajat, mandi dan cuci muka sambil sikat gigi.

Penginapan menyediakan yukata sebagai baju tidur, untunglah, jadi bawaan berkurang karena nggak perlu bawa baju tidur. Setelah semua mandi, kami kembali berkumpul untuk makan Pablo. YUMMY! ITU DALEM CISKEKNYA MACAM MELELEH SEPERTI HATI GADIS YANG SEDANG JATUH CINTA dan menghitung hutang piutang (karena banyak yang nalangin ini itu).


Belajar dari itinerary yang ambisius vs realita pedih (so little time so much places to go), kami memutuskan untuk mengeliminasi Arashiyama dan fokus ke kuil Fushimi Inari saja. Lagipula, di Fushimi Inari kami akan bertemu dengan Nyanya-Omo yang sedang pacaran halal. Dua orang ini pergi ke Jepang dengan rute yang terbalik dengan kami, yakni Tokyo-Kyoto-Osaka.

“Besok jam tujuh (atau delapan ya?) sudah siap ya!” kami bersepakat.

Keesokan harinya… Kamar gelap, gw mencari handphone untuk mengecek jam. Terkesiap seketika melihat waktu telah berlalu lebih lama dari kesepakatan semalam. Belum lagi ada beberapa missed call whatsapp yang tak terjawab.

“GUYS BANGUN! UDAH SETENGAH SEMBILAN!”

Gonjang ganjing beberes barang (dan nggak mandi karena baru beberapa jam lalu setelah bebersih) dan mengangkat telepon dari kamar lain (“sori baru banguuuun”, “kami udah di Kyoto #bohong #nadasupersebal). Kemudian bertemu di lift dalam suasana dijutekin, wekekeke.

Mari ke Kyoto!

Iklan

6 pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang (Dotonbori – Glico Man)

  1. Hahahahaha. Rempong banget sih sis sis ini. Masih ga percaya rasanya kita janjian ketemu di Kyoto while janjian di kuningan susye banget.

    Gue berharap ketemu Heiji Hattoriiiii, setelah gue cek, ternyata dia masih tokoh fiktif, belom jadi nyata.

    • Bisa. waktu itu yang antre teman saya sih, lumayan rame tapi enggak sampe berjam-jam kayak di Jakarta, hehe. Cobain aja, kok banyak yang bilang enakan rasa di Jepang daripada Jakarta 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s