Jalan Jalan Jepang (Kuromon Ichiba – Osaka Akuarium Kaiyukan)

Tadaima! Saya baru saja pulang dari tanah kelahiran Sakurai Sho. Ngapain?

Niatnya mau mempengaruhi dia supaya jadi mualaf dan berganti nama jadi Sakurai Sholaiman, kemudian disunat, diajarin solat, diserahkan ke guru ngaji, lalu jadi rebutan fangirl muslimah di Indonesia. 
Ketemu? Yah, ada sih perkembangan dibandingkan tahun lalu, kali ini ketemu baliho yang gedean, bukan cuma poster imut di lawson. Fufufu.
Geng Jalan Jalan Jepang kali ini merupakan rombongan ciwi-ciwi kece dari geng Yellow Jacket makara jingga. Gayanya koper, dompet masih semi backpacker. Kalo dompet ala koper sih kemana-mana kami naik taksi lah..

Tapi kalo naksi bisa jadi nggak bisa makan seminggu, cuma bisa nenggak air keran sama patungan onigiri.
Anyway, rute kami adalah Osaka-Kyoto-Tokyo selama enam hari yang tidak direkomendasikan bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun karena melelahkan! (Kecuali kalo naik shinkansen ya)
Sehari di Osaka, sehari di Kyoto, sisanya Tokyo. Cukup? Puas? Ya nggaklah!
Sebenarnya enam hari saja rasanya belum puas mengitari hanya satu kota. Rencana perjalanan kami memang ambisius, ingin melihat banyak tempat dalam waktu singkat.

Apa daya, kami hanyalah kaum pekerja Indonesia yang cutinya hanya sekepret *nangis di pojokan*.

Izin libur lima hari aja udah deg-degan, bandingkan sama ipar (kerja di negara lain) yang kalo cuti bisa sebulan. Huaaaaaa.

Rute ini cucok bagi usia mahasiswa atau remaja tingkat awal-menengah-akhir yang masih belum renta.
Kami alhamdulillah kuat, berkat izin Tuhan YME, juga asupan tolak angin, antimo dan counterpain secara berkala karena tubuh dipaksa berjalan kaki lebih banyak dari biasanya.
Hari Pertama
Jakarta – KL – Kansai
Berangkat dari Jakarta pada malam hari, tiba di KL nyaris tengah malam, tiba di Kansai pagi hari.

Awalnya kami ingin mandi di lounge airport lantai 2 dekat McD (bayar sekitar 500 yen, informasi ada di mbak-mbak customer service) tapi kami memutuskan hanya lap-lap cantik plus ngelenong demi menghemat waktu.

Sebelum bebersih, prioritas utama adalah membeli tiket HARUKA-ICOCA. Tiketnya bisa dipesan secara online (bayar di tempat), jadi tinggal kasih print out aja mau beli berapa tiket dan gambar apa (gw pilih Hello Kitty).


Pemesanan cek aja di web resminya, kita harus masukin identitas dan paspor, nanti paspornya dikasih lihat ke petugas. Kalau rame-rame, cukup diwakili satu orang saja.

Tiket Haruka adalah tiket yang menghubungkan Bandara Kansai ke stasiun besar, bisa dibeli sejalan atau pulang pergi. Kami beli yang one way karena pulangnya kan dari Haneda. Sementara ICOCA itu semacam tap cash atau e-money untuk bayar tiket kereta, bis, lawson, dsb.

Di mana beli tiket HARUKA-ICOCA?  Di JR ticket office of Kansai Airport Station.

Letaknya di lantai dua, seberang bandara (ada jembatannya), di depan pintu masuk stasiun. Tanya aja sama customer service di depan bandara yang selalu siap memberi informasi di mana ini di mana itu tapi nggak ada pilihan di mana rumah Sho.

Di situ juga ada money changer kalau-kalau emang ada yang mau menukar pundi-pundi rupiah jadi lebih tipis dalam bentuk yen.

Memang kenapa sih beli tiket Haruka-Icoca? Karena lebih murah tentunya dibanding beli sendiri-sendiri tanpa paket. Cek aja di web resminya ya kalau mau tahu berapa penghematannya.

Tiket sudah di tangan! Selanjutnya adalah mencari kamar mandi. Tujuh koper besar memenuhi koridor. Alat lenong dan baju ganti dikeluarkan.

Jadilah ruangan make up kamar mandi didominasi oleh kami, orang-orang Jepang yang mau dandan langsung mundur begitu melihat ruangan ramai.
Pengkhianatan itinerary pun dimulai.

Harusnya kami sudah sarapan/brunch di Kuromon Ichiba. Eh tapi… ternyata lama di adegan cuci muka, ganti baju, sikat gigi, pake sunblock, pinjem-pinjeman lipstik, pake eyeliner dan BLUSH ON (akan dibahas yang kapital ini nanti di postingan lain). Namanya juga perempuan, masa lusuh sih? Biar belum mandi, yang penting terlihat sudah mandi.

Perlenongan selesai, mari menyeret koper ke stasiun. Dengan tiket Haruka, kita bisa naik gerbong non reserve seat.

Eh, tempat enak buat naro koper udah dipake sama turis di depan, akhirnya dengan segala upaya biar ga turun bero, mbak-mbak ini ngangkat koper segede alaihim gambreng ke rak yang agak tinggi (kalo di Jakarta udah ada mas-mas yang bantu, di sini mah kagak ada sist), sambil doki-doki takut keretanya keburu jalan, apalagi temen-temen di belakang masih antre masuk gerbong.

Koper aman, mari duduk manis menuju stasiun Shin Osaka. Dan hujan pun turun… pemandangan berganti-ganti, mulai dari perumahan sampai sawah hijau membentang.

Sebagai alumni remaja yang baru melewati titik seperempat abad, badan ini sudah menjerit minta istirahat. Kalau usia masih belasan kayaknya masih bisa segar bugar melewati perjalanan panjang dengan transportasi yang murmer.

Kalo sekarang sih kepala migrain, tolak angin sudah ditenggak beberapa bungkus (udah minum aja masih pusing, gimana kalo gak minum sama sekali?).

Sakit kepala sih harusnya sembuh kalau udah tidur, tapi balik lagi ke itinerary yang ambisius, the show must go on!

Setelah tidur-tidur ayam di kereta, kami pun tiba di Shin Osaka. Cobaan berikutnya adalah nyasar!

Berbekal bahasa Jepang pas-pasan, kami menemukan baggage room buat naro koper sehari. Baggage room ini ada di lantai satu di luar stasiun. Bentuknya kayak gudang, jadi bukan loker, sehingga koper segede gaban pun aman. Kalau mau naro di loker juga boleh aja sih, loker ada di dalam mau pun luar stasiun, tapi lebih murah di baggage room.


  
Buat koper yang gedenya bisa dimasukin anak TK lagi tiduran, butuh loker yang medium-large (500-700 yen), sementara di baggage room satu barang semalam tarifnya 420 yen. Tapi, di baggage room ada jam operasional, jadi kita nggak bisa naro atau ngambil di luar jam itu.

Setelah mengurangi beban hidup, kami balik lagi ke stasiun untuk pergi ke Namba. Kembali nyasarrrrr dan kebingungan harus naik line apa, transit di mana. Sebenarnya gampang sih kalau tenang dan menelaah jalur di peta, tapi namanya baru sampe, masih adaptasi (tapi hari-hari berikutnya masih sering nyasar).

Tibalah di Namba. Hujaaaaan makin mengguyur dan kami masuk ke ruangan pusat perbelanjaan terdekat untuk beli payung.

Yang lain beli harga 700 yen, gw melipir ke bagian rada dalem mencari yang lebih murah karena niatnya cuma mau pake itu di Jepang, gak perlu bawa pulang ke Jekardah. yang buat dibawa pulang yang lebih mahal dikit lah biar awet. Dapetlah yang harganya 300 yen (yang emang kualitasnya kacrut karena patah-patah dan kebalik pas kena angin di Tokyo).

Berbekal Google Map, kami mencari Kuromon Ichiba.

Hemat gw, jangan hanya mengandalkan teknologi, tanyalah orang sekitar! Setidaknya kuasai kosa kata “lurus” (massugu), “kiri” (hidari) dan “kanan” (migi) karena nggak banyak orang bisa bahasa Inggris. Mereka bakal sedikit (atau sangat) lega kalau kita menunjukkan kemampuan (walau secuplik) bahasa Jepang. Soalnya kadang ada yang jadi nggak bisa bantu karena dia ga bisa berbahasa Inggris. Tapi oh tapi, di sini mah bahasa tubuh sangat berguna. Tunjuk-tunjuk aja sana sini.

Intinya, Google Map entah kenapa kerap membuat kami tersasar!

Oiya, perhatikan juga pintu keluar stasiun yang terdekat dengan tujuan karena setelah jalan kaki jauh rupanya ada pintu stasiun deket Kuromon. Ya elah, kagak usah pake adegan keujanan dong sebenarnya. Lagi-lagi excuse-nya adalah “hari pertama… masih adaptasi…”


Sampe di Kuromon (sebenarnya gw nggak yakin itu Kuromon apa bukan soalnya sama sekali nggak ada tulisan latinnya, tapi di situ banyak banget deretan pertokoan, restoran, jajanan, pachinko, suasananya mirip Pasar Baru tapi lebih bagus dan meriah, mari anggap itu Kuromon karena bapak-bapak di jalan bilang itu Kuromon) kami kelaparan. Jam makan siang udah lewat dan perut masih belum diisi.

Bingung mencari tempat yang sekiranya enak dan ramah di kantong, kami tertarik pada satu restoran yang memasang tulisan “staf kami senang belajar bahasa Inggris jadi ayo masuk”.

 
Masuklah kami…


Biar aman gw pesan nasi dengan topping ikan (mentah, gatau ikan apaan) berbumbu shoyu. Ada yang pesan yakisoba (mie goreng) atau mie lain yang mirip mie gila.

Lagi apes aja neng, bayar mahal (400-500 yen) tapi rasanya nyehh. Pilihan gw masih mending lah, rasanya bisa diterima di lidah karena cuma shoyu doang kan. Yang pada emosi adalah mereka pemesan yakisoba karena nggak enak, cuma kerasa saos doang. Yah elah, enakan indomie telor.

Sebagai pelepas dahaga, kami memesan mizu aja (air putih). Di beberapa blog, gw membaca bahwa sebagian besar restoran menyediakan air putih secara cuma-cuma (tapi kita harus pesan, gak dikasih otomatis). Eh, di restoran ini masa bayar loh. Mungkin karena area turis jadi lebih mahal gitu kali ya. Hiks.

Akhirnya kami mengenyangkan perut dengan membeli TAKOYAKI! Uwauwauwauwa. Gede dan enak! Tadinya berlagak pilon, ngebawa bungkusan takoyaki ke dalam restoran terus siap-siap makan… Namanya juga turis…Eh, langsung dilarang pake bahasa tubuh, nyeh.


Perut kenyang, kami pun bergerak pergi ke Osaka Akuarium Kaiyukan. Rombongan terbagi dua, mereka yang masih kuat mengelilingi akuarium dan rombongan ingin santai karena bahu rasanya sudah teriris oleh ransel berat berisi baju ganti selama di Osaka-Kyoto (enaknya sih kalo pake tas gunung, tapi nanti kalo foto kurang kece dong masa bawa gembolan #plak #beautyispain).

 Aku tentu saja di rombongan kedua. Terus ternyata ada paket tiket Santa Maria Cruise+Tempozan Ferris Wheel, ya udah mari bersantai di kapal Santa Maria yang berlabuh di belakang akuarium.


  

Oiya, akuarium ini romansa banget, kayaknya jadi tempat syuting Nagareboshi (Aya Ueto + Yutaka Takenouchi) yang memperlihatkan lautan biru penuh ubur-ubur cantik…

Kami naik Tempozan (satu kabin bertujuh muat loh!) yang semua bagian kabinnya transparan (antre 15 menit). Ternyata bagian lantainya nggak terlalu transparan tetapi cukup membuat orang yang takut ketinggian merasa panik. Kincir ria Tempozan ini tidak seseram Mekhong di Bangkok yang goyangannya di puncak terasa dahsyat.


bersambung ke Dotonbori dan Glico Man!

Iklan

2 pemikiran pada “Jalan Jalan Jepang (Kuromon Ichiba – Osaka Akuarium Kaiyukan)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s