Bandung Semalam


Gw memang (numpang) lahir di Bandung, tapi Bandung coret banget alias pinggiran. Rumah almarhum nenek itu jauh banget dari Kota Bandung yang ngehits banget di kalangan anak muda Jakarta tiap akhir pekan. Jadi, walaupun bilang asalnya dari Bandung, sebenarnya gw juga belum pernah ke tempat-tempat penting dan bersejarah di sana. *hiks*

Beberapa pekan lalu, ada libur panjang di akhir pekan. Tumben-tumbenan libur gw kompak sama libur kalender. Keluarga memutuskan untuk silaturahmi ke Tasik, tapi rombongan gw dan tante mampir dulu untuk nginep semalam di Bandung karena udah keburu booking hotel, sementara rombongan enyak-babe-kakak nyusul beberapa jam kemudian langsung ke Tasik.

Mobilitas tante rada terbatas karena ada dua bocil, sehingga gw memutuskan untuk ngebolang aja malam itu.

Janjian lah gw sama si akang Ajat yang udah gak ketemu sekian lama sejak menjalani pelatihan penuh darah dan air mata tahun lalu. Setelah dia menyelesaikan tugasnya sebagai pewarta harapan bangsa (baca: ngetik), motornya dipacu menuju tempat gw menginap.

“Laper Jat! Bawa gw ke tempat makan enak, apa pun!”

Tanpa helm, tanpa jaket (ini krusial) dan hanya mengandalkan kehangatan dari lemak perut, kami pun menembus jalanan Bandung yang agak sepi pada Jumat malam.

Persinggahan pertama adalah Roti Gempol & Kopi Anjis.

Kafe ini ada di dua tempat, nah berhubung gw anaknya buta arah dan amnesia, lupa ya dibawa ke cabang yang mana. Meski bukan akhir pekan, tempatnya rame banget sampe-sampe agak susah mau parkir motor.

Kita bisa milih tempat yang remang-remang adem di taman, yang terang di dalam kafe, atau di teras. Tempatnya mirip rumah tua yang disulap jadi gaul gitu. Pokoknya gw cuma bisa komentar “ini ngegaul Bandung banget”.

Ajat yang tahu betul kalau hobi gw adalah memamah biak serta merta menawarkan BEBERAPA menu.

“Nih, ada nasi goreng, terus mau pesen seblak juga? Sama roti bakar yuk!”

Anjis maneh. Lambung gw gak seluas itu juga, LOL.


     Teman gw merekomendasikan nasi goreng, ada beberapa macam sih, tapi begitu lihat judul Nasi Goreng JAMBAL ROTI, gw seketika langsung ngacay (ngiler). Saat pesanan datang, ohemjyeh, porsinya (bahkan menurut gw) banyak banget! Bisa buat dua orang kelaparan. Atau untuk seorang rakus yang kelaparan. Atau tiga orang yang laparnya tingkat sedang. Enak? 1. Gw lapar banget, 2. Gw suka jambal roti.

Terus gw pun mencicipi satu-dua potong seblak yang mana kurang berkesan karena perut gw udah kenyang. Eh, masih ada roti bakar green tea yang disodorin di depan mata. Nyam-nyam tapi ya so-so aja. Ditutup sama minty milk tea Addc’tea yang segar! Untuk ukuran makan barbar, harga Bandung lebih murah dari Jakarta. Dibanding kafe di Sabang yang selemparan kolor dari kantor Jakarta, makanan di sini bisa lebih murah hampir setengahnya dengan porsi barbarita. Bisa aja nasi gorengnya yang nikmat itu dibagi dua dan tiap orang bisa kenyang dan senang dengan harga 12.000-15.000an!

Duh, kalau gw kerja di Biro Bandung tampaknya bakal rajin nulis di kafe nih…

Persinggahan kedua adalah Koffie Tijd yang menyediakan menu pizza kopi. Niatnya ke sini cuma buat beliin pesanan tante, penasaran aja kaya gimana sih pizza kopi itu. Lokasinya di jalan yang bukan tempat mainstream untuk tempat ngegaul, memang gak banyak tempat makan dan kami hanya mengandalkan google map untuk sampai ke sana. Si Ajat yang orang Bandung aja baru tahu ada kafe-kafe di jalan itu.

Koffie Tijd juga menawarkan suasana homey (rumah tua juga sih) yang enak banget buat ngerjain tugas semalam suntuk, ngobrol berjam-jam, nulis segala macem (berita, curhatan patah hati, curhatan gebetan baru, novel, cerpen, artikel, dsb).

Mengingat awalnya gw cuma pengen take away, kami milih tempat duduk di luar, ternyata di dalam rumahnya masih banyak ruangan luas dengan sofa-sofa empuk yang bikin aaaah….pengen ke sana lagi deh (malem-malem tapinya). Lagian saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.00-22.00, kalau duduk di dalam bakal lupa waktu karena keasikan ngobrol.


Begitu melihat menu, niat ngebungkus berubah jadi “yuk kita coba juga sekalian”. Kami memesan Pizza yang ada marshmallow chocolate dan kalau ga salah rasa mochaccino (buat dibawa pulang). Pizza-nya tipis dan renyah dengan topping yang manis dan yummy. Berasa makan apa ya… Crepes? Tapi cocok lah buat ngemil cantik. Pizza yang dibawa pulang udah keburu dingin soalnya gw baru balik lewat tengah malam. Huiks. Tapi tampaknya enak kalau dimakan panas-panas.

Dari Koffie Tijd, lanjut mengunjungi Biro Bandung yang sudah tak berpenghuni (udah jam berapa woy) di Braga. Gw baru pertama kali ke daerah ini loh. Waktu kesana, daerah Braga masih dipercantik untuk perayaan Konferensi Asia Afrika pada 24 April 2015

credit Antara Foto.

 
   “Jat! Jat! Ini gedung apa? Itu apa? Wooow. Ini apa? Potoin gw dong Jat!”. Sodara-sodara, untuk pertama kalinya gw melihat Gedung Merdeka, Museum KAA, Alun Alun dan Masjid Bandung. Aih aih aih aih… Enak banget kerja di Biro Bandung, tempatnya strategis pisan. Ngesot dikit udah bisa gahul kemana-mana. Temen gw mah udah bosen kali ya, sedangkan gw masih terkesima dengan segala gedung-gedung tua itu.

Eh sama kali ya ama Jakarta, ngesot dikit sampe Monas.

Rumput sintetis di Alun Alun terasa dingin seperti hati himono onna dan basah karena beberapa jam lalu turun hujan. Walau udah nyaris tengah malam, tempatnya masih ramai oleh orang yang bersantai dan tentunya foto-foto. Gw pun ingin lari ke sana ke mari, tapi dengan plastik bungkusan pizza yang gede itu, gw khawatir dicolek pengunjung alun alun, “Ceu, jualan oncom?”.

Alun Alun ini paling asyik dikunjungi ketika matahari bersinar santai, pagi atau sore lah. Atau kalau mau adem ya malam-malam saja. Dan tentunya JANGAN AKHIR PEKAN atau Anda akan berakhir menjadi bagian dari cendol manusia.
Perjalanan berlanjut dengan lancar tanpa kemacetan (“Ya iyalah Nien, ini malem, Jumat pula. Kalau pagi-pagi beuuuh macet pisan” ujar temen gw) ke Gedung Sate. Tadinya mau diajak masuk ke Gedung Sate, tapi mengingat sudah tengah malam, kami khawatir ditangkap satpam.

Obrolan berlanjut di lapangan Sabuga, persis depan Gedung Sate, sampai pukul 01.00 WIB setelah melewati fase ada kucing nimbrung agresif yang memaksa duduk di paha salah satu dari kami serta didatangi pengamen bencong. FYI, udah jam segitu, depan Gedung Sate masih rame sama wisatawan lokal yang sibuk berfoto-foto.

Gw pun balik ke hotel dan…. bertapa di kamar mandi akibat terpaan angin malam di Bandung! LOL.

Yuk lah kapan-kapan lagi kita ke Bandung, asal jangan akhir pekan biar gak emosi jiwa akibat terjebak macet 😀

Iklan

3 pemikiran pada “Bandung Semalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s