Petualangan Pendekar Tongkat Narsis di Sumba – Prakata (1)

Pendekar tongkat narsis akhirnya menginjakkan kaki ke pulau Sumba, mau silaturahmi sama Pendekar Tongkat Emas.

Terima kasih Miles Films 🙂

pendekartongkatemas

Baca tulisannya di sini.

Ah, setiap perjalanan rasanya dibumbui drama. Waktu mau ke Kamboja, pusing sepusing-pusingnya karena kartu kredit eror mulu pas mau bayar bis Bangkok-Siem Reap, waktu mau ke Jepang mendadak layar handphone mati total beberapa jam sebelum berangkat, sedangkan sebelum ke Makkah-Madinah otak mau meledak karena jadwal berangkat dimajuin jadinya harus ngejar kuota tulisan tiga kali lipat dari biasanya kalau mau lulus, ibarat mobil udah mau copot itu injekan gas karena diteken sekuat tenaga.

Drama apa yang terjadi sebelum berangkat ke Sumba?

1. Belum boleh cuti.

Tahun ini gw kembali menjadi anak baru, artinya belum boleh cuti selama setahun. Bagaimana caranya biar diizinkan? Awalnya gw ingin mengajukan ini jadi liputan, lumayan banget dong kantor ga perlu ngeluarin duit tapi dapet tulisan tentang Sumba. Soalnya biro NTT cuma ada di Kupang dan tulisan tentang Sumba setahu gw belum banyak. Yang memberatkan hanya rencana gw yang pergi 10 hari.

Menunggu, menunggu, menunggu. Lalu ada petir menggelegar di tengah siang bolong karena gw terancam ga diizinkan mengingat waktunya terlalu panjang.

Ah, pasrah. Kalau bukan rezeki ya udah bye bye tiket gratis, semoga dapat rezeki dari tempat lain untuk jalan-jalan lagi.

Solusi datang izin libur maksimal lima hari. Beneran liburan, ga perlu pake liputan apa lagi oleh-oleh tulisan.

YEAAAAAAAAAAAAAAAY!

2. Pusing bikin itinerary.
Referensi perjalanan ke Sumba di internet itu gak segampang mau jalan-jalan ke luar negeri di mana udah jelas naik dan turun di stasiun mana untuk berkunjung ke daerah apa. Setelah baca-baca gugel, gw biasanya mendesah pusing dan guling-guling di kasur. Gak ada teman berdiskusi soal itinerary karena bu Jenderal terima jadi aja. Mau pilih lokasi yang menantang secara fisik, tapi ntar kasian bu Jenderal. Lalu aku harus bagaimanaaaaa~

Solusi datang berupa Ipeh, temen kuliah (sekarang sekantor) yang dulu pernah liputan ke Sumba. Gw teror dia dengan berondongan pertanyaan (hotel apa? angkutan gmn? makanan gimana?) sampe akhirnya dia ngasih gw itinerary dan naskah program televisi hasil liputan. Proses ngasihnya juga penuh drama, dari mulai whatsapp, sms, line gw gak direspon (ternyata hape dia rusak) sampe teknis macem pas-mau-kirim-email-ke-gw-rupanya-internet-mati atau pas-mau-ngeprin-itinerary-kabel-printernya-ipeh-ilang.

Okeh, dapet satu sumber dari Ipeh, tapi tetep aja gw bingung mau bikinnya kaya gimana karena dari dulu kalau bikin itinerary selalu beramai-ramai, gw akan menyumbang ide tapi untuk mikirin dari A-Z gak pernah.

IMG_9836.JPG

Jawaban kegalauan datang dalam bentuk lain: Rizu! Ini anak emang jago merencanakan banyak hal, termasuk lomba-lomba karaoke yang menjadikan nienju senior JKT48 *plak*. Saat bertemu di kondangan (gw sekalian minjem kamera Rizu), gw curhat belum bikin itinerary dan dia langsung bersemangat bantuin bikin.

“Gw semangat nih kalo bikin yang beginian!” kata dia sembari mencari-cari pulpen dan kertas, sayangnya karena lagi di kondangan di tas kami hanya ada lipstik. Ah, inilah untungnya punya teman yang berbeda 180 derajat sama lo.

Abis kondangan, layaknya anak-anak gahul Jekardah, kami menyepi ke kafe terdekat untuk menyusun rencana perjalanan (sebenarnya ke situ karena nagih traktiran ulang tahun si Riju).

Kami gugling tempat-tempat yang harus dikunjungi, stalking instagram Eva Celia dan mereka yang pernah ke Sumba untuk nyari nama-nama tempat. Lalu Rizu menggambar pulau Sumba dan menandai titik-titik tempat yang harus dikunjungi sekaligus rute terbaik.

Basically gw cuma nyebutin nama tempat dan apa bagusnya, lalu Rizu yang memetakan. Sore menjelang, kami harus pulang dan tahap perencanaan ditunda.

Beberapa hari kemudian gw menginap di Kepu dan melanjutkan tahap perencanaan (yang tertunda karena sesi curhat persiapan menjelang perkawinan by Tiwi dan sesi rekaman lipsync ala Shinta Jojo menjelang tidur) dengan nelpon-nelponin hotel. Ada hotel yang bisa dibooking via telpon, sisanya “nanti datang saja langsung!”.

Soal transportasi, tadinya mau “gimana nanti” tapi karena pergi sama nyokap kan kasihan kalau bersusah-susah, jadi prinsipnya “nanti gimana”. Dari Ipeh yang pernah wawancara salah satu dosen UI dari Sumba Barat, gw dapat kontak warga setempat yang gw hubungi untuk rental mobil+supir+guide selama lima hari.

(Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s