Siem Reap-Bangkok 2014

IMG_4802

Sudah 2015 dan masih ada beberapa postingan tertunda yang belum sempat ditulis, termasuk perjalanan awal 2014 ke Siem Reap, Kamboja dan Bangkok, Thailand.

Rangkumannya, selama sepekan kami memilih dua negara berdekatan dengan akses mudah dan murah. Dulu pengennya Myanmar, tapi saat kami ke sana negara tersebut masih memberlakukan visa untuk paspor non diplomatik (iye, walo sesama Asia Tenggara si Myanmar sempet begitu kelakuan). Kalo sekarang sih kayanya udah bebas visa, fiuh padahal penasaran pengen ke sana. Lain kali deh!

Setelah tiba di Bangkok, lanjut naik bis antar negara ke Siem Reap alias direct bus Bangkok-Siem Reap (ceritanya ada di sini dan sini), mengunjungi berbagai peninggalan sejarah (Angkor Wat, Bayon, Angkor Thom, Ta Phrom, Killing Field), terus bergaul di Pub Street, Siem Reap, dan balik ke Thailand setelah melewati insiden tas yang dicampakkan oleh petugas bis di perbatasan karena kami lelet.

Tiba di terminal Mo Chit bagian belakang atau entah mana, kami mengandalkan petunjuk jalan dan bahasa tarzan pada orang-orang setempat untuk menuju terminal bagian depan. Rada rempongs tapi tak apa lah. Sebelum makan, kami beli satu simcard Thailand untuk menghubungi couchsurfer yang bersedia menampung kami selama beberapa hari. Belinya juga pake bahasa tarzan deh, wak wak wik wik wuk wuk wek wek wok wok. Sama aja kaya di sini, di terminal belum tentu orang-orang bisa bahasa Inggris. Alhamdulillah bisa dibeli dan berhasil. Langsung deh kita smsin mbak couchsurfer baik hati itu. Tadinya mau janjian dulu di suatu tempat, tapi karena kami kemalaman jadi disuruh langsung ke rumahnya. Dia pun memberikan ancer-ancer alamat.

Aw, pengalaman pertama couchsurfing! Doki-doki!

Rumah couchsurfer kami terletak di pinggiran kota, jauh dari tempat wisata. Ibaratnya kayak rumah gw yang jauh banget dari Monas lah. Jadi kami harus naik BTS dan ganti-ganti jalur, lanjut taksi sekejap. Udah malam, stasiun sepi, taksi juga nyaris gak ada, fiuh. Akhirnya taksi datang dan kami memberikan alamat pada si supir, let’s go! Taksi pun berbelok ke area seperti perumahan, tepatnya seperti gang besar panjaaaaaaang nan lurus dengan rumah di kanan kiri berbentuk serupa. Tiba di depan rumah couchsurfer dan kami pun berpelukan seperti kawan lama.

Dan si mbak komen,

“Lah, elu betiga? Gw kira bedua doang! Aduh gimana ya tempatnya.”

JREEEENG. Lalu ternyata di rumahnya dia ada couchsurfer lain dari Ukraina, sepasang kekasih. Pas kami datang, mereka masih berkelana di luar rumah. Ya udah, ice breaking, basa-basi sama si mbak yang rupanya tinggal hanya bersama saudaranya (ga sama ortu, jadi kaya kosan). Ada dua sofa panjang nganggur yang langsung diserobot sama dua temen gw, menyisakan gw yang harus berbagi kasur kapuk ala Palembang BERSAMA PASANGAN ITU. Bobo bertiga!

Lalu datanglah sepasang Ukraina itu, kami terlibat pembicaraan yang agak terhambat karena doi ga lancar bahasa Inggris, sementara host kami paham banget bahasa Rusia jadi komunikasi mereka justru lebih lancar. Ya udah, serumah dalam waktu bersamaan pembicaraannya berlangsung dalam bahasa Inggris, Rusia dan bahasa Indonesia. Tapi pasangan Ukraina itu sangat bubbly dan supel, jadi kami langsung akrab. Mereka excited banget beli semangka, sementara kami yang berasal dari negara tropis hanya menatap ah-gw-udah-sering-makan-cuy walo akhirnya dimakan juga setelah dipotong-potongin ama cowoknya. Hehehe.

IMG_4198

Kelar mandi dan bebersih, waktunya tidur! Mbak Ukraina berada di tengah, membatasi gw dan si akang. Gw berusaha basa-basi ngajak ngobrol si mbak tapi dia bener-bener ga bisa bahasa Inggris, jadinya kita cuma ketawa-ketawa aja.

Tidurlah kami. Lalu beberapa jam yang terasa seperti sekian detik kemudian alarm gw bunyi. Subuh-subuh. Waduh! Langsung gw matiin. Si kangmas yang lagi posisi meluk mbaknya terbangun, lalu tidur lagi. Aduh maap ya mas. Ngomong-ngomong si abang ternyata gak pake baju (atasan). Aw aw aw maluuuu. Kayanya doi kegerahan, untung ada kipas angin. Yah bang, coba ente jadi ane yang pake kerudung sepanjang malem.

IMG_4209

Pagi-pagi sarapan indomie (masakin buat orang serumah), lalu berangkat bareng pasangan itu ke Chatuchak Market. Tadinya mau naik taksi ke stasiun, tapi mereka nunjukin moda transportasi baru yang murah: semacam angkot. Betuknya kaya bemo, bayarnya pas turun ke bangku depan. Yang jadi peer adalah menyeberang jalan, udah mobilnya ngebut gila, ga ada zebra cross, ga ada lampu lalu lintas untuk pejalan kaki nyebrang. Modal nekat aja. Kalo ga ada si abang, kami kayanya mendingan naik taksi di jalan yang searah untuk muter balik ke stasiun. Gpp lah keluar lebih asal nyawa aman. Bener aja, pas nyebrang (si abang jadi tameng), mobil yang ngebut gila pun ngerem mendadak sampe berdecit dan nyaris bikin tabrakan beruntun. Atau gw hanya panik dan paranoid sehingga penglihatannya jadi berlebihan? Ih, ngeri!

Di Chatuchak, kami berpisah karena mereka pengen liat-liat buah eksotis macam mangga. Kalo ciwi-ciwi Jakarta ini malah pengen liat barang-barang lucu yang biasa bertebaran di Mangga Dua. Ya udah, bye bye kalian, sampai jumpa kapan-kapan lagi (duo itu langsung cus ke tempat lain dengan ranselnya yang jumbo). Setelah nyobain sekian makanan wajib (mangga plus ketan, teh thai), dua teman saya hunting kaos-kaos lucu. Sedihnya kaos di sana memang lebih friendly buat cewe-cewe langsing dan jarang ada yang jual kaos tangan panjang. Ya sudah, gw lihat-lihat saja lah. Iyeee, emang bener kaosnya murah-murah banget, dan yang pasti orang Indonesia yang belanja BANYAAAK banget. Berasa ke Mangga Dua deh, percakapan di sana sini pake bahasa Indonesia.

IMG_4270IMG_4251

IMG_4274

Lanjut ke Asiatique naik BTS lanjut perahu gratisan (yang gugling soal ini mentemen gw jadi gw tinggal ngikutin mereka), naik bianglala Mekhong yang mehong, makan makanan halal dan beli tas ransel diskonan yang kalo dirupiahin cuma beberapa puluh ribu. HOREEEE.

Nyampe rumah si host nyaris tengah malam, pintunya gak dikunci dan kami pun tepar.

Keesokannya kami bersiap, si mbaknya pun berangkat kerja dan kami sekalian pamit pulang menyudahi pengalaman couchsurfing perdana yang mengesankan. Beneran sih ini mah nebeng bobo sama mandi, kebayang kalo rumah gw yang jadi host pasti ortu udah hebohan “ini mau dikasi makan apa?” “anterin gih kesini, kesana, kesitu” lalala lilili. Ya maklum pasti kasian kalo ke Jakarta terus disuruh naik angkot ya, kalo di luar kan transportasi umumnya oke, ga usah manja.

Sambil membawa ransel alaihim gambreng, kami naik taksi saja ke stasiun pada Senin pagi. Ramai sekali tapi tertib! Bandingin sama Senin pagi di Tanjung Barat yang barbar..Ya tertib sih, jadwal keretanya terjadwal dan frekuensinya sering. Aman lah! Dalam kondisi bawa ransel jumbo, alhamdulillah masih bisa masuk dan berdiri agak nyaman. Kalo mau keluar pun orang-orang Bangkok pada sopan gitu bilang permisi. Yang berada di depan pintu kereta juga langsung menyingkir tahu diri. Gak perlu siap-siap dorong-dorong orang saat kereta tiba di tiga stasiun sebelum turun karena sulit menembus keramaian di depan pintu kereta. BTS-nya pewe banget meski emang tarifnya jauh lebih mahal dari bis biasa. Tapi bis kena macet!

IMG_4394

Kami memutuskan untuk cus ke hostel VX The Fifty Hostel di Sukhumvit. Untuk menuju ke sana, turunlah di stasiun BTS On Nut, keluar ke sebelah kiri lalu jalan terus sampai nemu perempatan dan beloklah ke kiri. Dari situ lurus aja beberapa ratus meter (ada ojek kalo males jalan, tapi kami sedang menghemat uang) dan hostelnya ada di sebelah kiri. Nyaris setahun lalu, hostelnya super kece! Dekorasi oke, modern, lucu dan cozy. Lobinya aja mirip kafe. Stafnya baik, kamar mandi bersih dan banyak. Kami milih kamar isi 8-10 dan kebetulan penuh semua sama turis Tiongkok. Yang jadi peer adalah tangga bunk bed yang jaraknya jarang-jarang, tinggi dan semacam ringkih. Lebih parah dari hostel ABC di Singapura. Setelah begging sama temen-temen gw yang langsing dan jelas mampu naik tangga, gw pun mendapat kasur di bawah (beneran gw gak sanggup manjatnya).

IMG_4642 IMG_4641

Abis dari hostel, kami ke Madam Tussaud naik taksi, lanjut makan siang di food court mal yang menyediakan makanan halal (karena hari terakhir ya udah royal dikit), lanjut ke Wat Pho dan Wat Arun.

IMG_4677

IMG_4687

IMG_4757

Berangkatnya sih kami naik perahu berwarna oranye (murah) melintasi sungai Chao Phraya dari Central Pier.

IMG_4660

nah pulangnya yang peer. Gimana cara balik ke stasiun BTS On Nut? Nah, begini enaknya traveling rame-rame, kalo yang satu otaknya kosong, yang lain sibuk putar otak. Jadi gw bengong-bengong saja sementara duo lainnya baca-baca peta cari tahu kita bisa pulang naik transportasi apa aja yang murah meriah. Naik taksi? Aduhhh duiiit. Naik Tuk Tuk? Aduuuh duiiit.

Saat kebingungan di pinggir jalan sambil bolak balik peta, datanglah supir tuk tuk bertanya kami mau kemana. Dia menawarkan tuk-tuknya, kami menolak halus sambil nanya apakah ada bis yang ke arah On Nut. Alhamdulillah supir tuk-tuk gak melengos meski kami ga mau naik tuk-tuk, dia malah ngasi tahu harus naik bis nomor berapa dan nunggunya di mana. Wowowow, berasa orang lokal nih naik bis yang tiketnya cuma sekitar 7 baht (bayar di dalam, sama kenek ibu-ibu berseragam ala dinas perhubungan). Bisnya kaya lungsuran bis Jepang PGC-Blok M gitu deh, fasilitasnya angin gelebuk alias buka jendela aja biar adem.

Kami nanya sama mas-mas lokasi stasiun BTS terdekat, dia ngasitau kita harus turun di bla bla bla (rupanya tempat yang sama dengan mol Paragon). Yak, menyusuri angin sejuk dan pemandangan Bangkok di malam hari naik bis bersama warga lokal berwajah cakep tapi ngomongnya plaktungplak itu merupakan pengalaman menyenangkan.

Turun lah kami di stasiun BTS dan makan malam di ayam suntik lagi. Kenapa ga nyobain makanan pinggir jalan? Kaga ada yang halal cyiiiiin. Kelar makan (sambil misuh-misuh karena ga ada saos pedes), kembalilah kami ke hostel untuk packing dan beristirahat karena esok pagi pulang.

IMG_4849

Yak, lalu kembali gagal move on dari liburan. Pengen liburan lagi! Semoga 2015 diisi dengan jalan-jalan, baik itu yang gratisan dan menyenangkan maupun bayar dan menyenangkan. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s