Himono Onna Naik Haji – Topan Tokyo! (13 -fin)

image_5
Credit: Daniel DH

 

Tokyo diterpa topan!

Nah loh… Apa kabar rencana gw mau jalan-jalan ke Tokyo sama Satoko?

Begitu keluar stasiun, angin kencang dan gerimis mulai turun. Batang-batang pohon sudah diikat dengan tali pancang yang terhubung dengan baja di permukaan jalan biar ga tumbang saat diterpa angin kencang. Salut banget sama upaya pencegahan Jepang dalam mengantisipasi bencana alam. Media benar-benar ngingetin warganya untuk bersiap-siap dan masyarakatnya pun udah ngerti. Walau kesannya mengerikan, mau badai segala macem, tapi aktivitas normal-normal aja tuh karena masing-masing orang udah siap.

Dung mendung. Hati ikut mendung karena kami ga diizinkan keluar hotel sama sekali malam ini akibat topan…

“Beruntunglah kalian yang udah jalan-jalan misalnya ke Disneyland pas hari pertama,” kata si pemandu.

Nyeeehhhhhh! Tapi mau gimana lagi, namanya juga cuaca. Mau nekat keluar, kereta juga akan terhambat (tapi ada pemberitahuannya jadi warga bisa memperkirakan kapan harus balik biar masih dapet kereta). Ya udah, kita nikmati saja~

?????????????

Rencana “jalan-jalan sama Satoko” berubah jadi “dikunjungi Satoko”. Baik bener emang temen gw yang satu itu, dia dan si pacar menempuh perjalanan sekitar satu jam kereta untuk mencapai Chiba. Gw berasumsi kalo sampe sejam versi kereta Jepang berarti lumayan jauh yak! Tempat tinggal Satoko kayanya ga jauh beda sama apartemen senpai yang menolak mentah-mentah ketemuan kecuali gw mau bayarin tiket keretanya 1000 yen. Gantian gw yang nolak mentah-mentah.

Ternyata pertemanan kami bertahun-tahun gak sebanding sama 1000 yen. Wakakaka. Ketemu di Jakarta aja lah, toh dia lebih milih ke maid cafe daripada nemuin kouhai. Baiklah. Setiap orang memang punya prioritas.

Oiya, Satoko sebelumnya nanya gw pengen jajan apa aja pas jalan-jalan. Terus rupanya dia ngebawain gw kit kat green tea karena rencana kami gagal akibat topan. Ureshii!

Malam itu dihabiskan dengan bercengkrama di lobi ber-wifi sambil membuat dokumentasi ngasal “cara bergembira kala terjebak topan di Tokyo”.

(Nyalakan subtitle-nya untuk tahu apa yang dibicarakan. Udah males edit-edit audionya jadi dibiarin aja volume minimal)

Intinya adalah menghabiskan uang receh dengan belanja di minimarket, vending machine dan gachapon.

Lalu packing packing packing yang lumayan bikin capek karena koper gw penuuuuh~

Sebagian teman berkumpul di satu kamar untuk main kartu sembari nobar topan (gorden dibuka lebar-lembar buat ngeliat tiupan angin yang bikin pohon bergoyang hebat). Berhubung ada cowoknya dan gw males pake kerudung, gw milih nonton topan dari kamar sendiri aja.

Dua temen sekamar udah pada tepar sementara gw dan Obre berencana balik lagi ke lobi. Gw pun mandi… tengah malam… Begitu kelar, si Obre ketiduran di kasur gw. Dia emang sempat mengungsi karena kuncinya dihilangkan sama teman sekamar, jadi terlunta-lunta, sementara teman sekamarnya entah kemana. Yaudah, karena gw masih ga bisa tidur, gw balik lagi ke lobi dan menemukan cowok berkacamata yang ketemu di lobi hotel Akita. Lagi internetan juga pagi buta! Ealaaaah.

Dua supervisor kelompok juga belum tidur, jadinya kita ngobrol sebentar dan memutuskan untuk bubar pukul dua dini hari. Pesawat berangkat pagi wooooy terus jam segitu masih melek ajee!

Paginya langsung membangunkan Obre agar dia kembali ke kamar yang benar. Bener aja temen sekamar dia rada bingung karena ni anak ga pulang-pulang sampe pagi xD

Dan kami pun mengucapkan selamat tinggal pada pemandu sekaligus penerjemah kami -orang Semarang berdomisili Jepang- yang terlihat berkaca-kaca karena berpisah sama anak-anak bandel yang diurusin selama sembilan hari. Hiks… Pisah sama orang dari sekampung halaman bikin sedih ya!

Di Narita, orang-orang kalap belanja Kit Kat Green Tea sama Tokyo Banana (yang IMAO gak seenak itu). Daripada rebutan, lebih baik belanja di toko yang letaknya sebelahan sama boarding room. Itu toko sepi banget karena kebanyakan orang udah beli di toko-toko bagian luar.

image_7

Formasi bangku di pesawat masih sama kaya berangkat, bedanya sekarang udah kenal sama orang-orangnya jadi perjalanan pulang jauh lebih ramai dan seru. Makanan (moslem meal) penerbangan JAL Narita-Cengkareng sungguh oh sungguh hambar banget. Beda sama Qatar atau Etihad yang (kalo ga salah inget) tetap yummy. Emang sih menurut penelitian, makanan di pesawat terasa hambar karena indera perasa kita tidak berfungsi prima di ketinggian tertentu, CMIIW.

Kayanya banyak temen yang ga ngabisin makanan deh, kalo gw emang laper jadi ya dimakan daripada masuk angin.

Jangan lupa bawa boncabe atau apalah yang bisa menambah rasa makanan pesawat sebagai persiapan kalo dapet menu yang ga enak.

Bye Jepang, sampai jumpa lagi ASAP 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Himono Onna Naik Haji – Topan Tokyo! (13 -fin)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s