Himono Onna Naik Haji – Kakunodate Bukeyashiki (9)

Credit lagu: Frau – Mr. Wolf

Kakunodate Bukeyashiki seakan membuat gw berteleportasi ke masa lalu. Komplek perumahan samurai ini masih dijaga keasliannya sejak ratusan tahun lalu. Kebayang deh hilir mudik di tempat ini pake yukata atau kimono sambil megang payung kertas dan jalan ketoplak ketoplak pake bakiak.

Kami disambut oleh Walikota Semboku yang ngasih pidato tentang Semboku dengan gaya luwes dan penuh canda. Dia berpromosi tentang Akita, khususnya Semboku dengan segala potensi pariwisatanya. Ada onsen, Kakunodate, dan berbagai wisata alam. Dia juga cerita dan menjawab berbagai pertanyaan termasuk fenomena di balik rendahnya tingkat usia produktif di Jepang. Akita sendiri merupakan salah satu tempat di mana anak muda jaraaaaaaang terlihat. Batal banget rencana ngeceng di Jepang.

Oh iya kita omongin dulu ya soal kenapa dinamika penduduk di Jepang didominasi kaum tua (terbalik sama kita yang bakal punya momen keemasan tahun 2030 dengan membludaknya angka generasi produktif). Menurut si walikota sih begini, urbanisasi terjadi besar-besaran karena di desa ga ada lapangan pekerjaan. Akibatnya desa isinya cuma kakek-nenek, anak muda ngumpulnya di kota besar di mana lapangan pekerjaan pun terbatas. Dan mereka kerja banting tulang dengan upah yang mungkin dinilai ga cukup untuk membangun keluarga. Makanya, pada milih menjomblo sahadja. Ih, kasian deh!

Coba itu Sakurai Sho dipanggil ke sini, omiai sama akyu! Apa? Sho ga mau? Yaudah sama Ohno/Aiba/Nino/Matsujun juga boleh #muree

Sejak menginjakkan kaki melewati deretan toko-toko yang menjual pernak-pernik dan makanan, penjualnya rata-rata udah usia senja. Barang-barang yang dijual lucu deh, makin lucu harganya pun makin mahal. Ada sih yang murah, 100 yen, kipas kecil gitu, tapi pas asal ditaro di tas langsung patah. Hiiiiksss.

Kalo emang tertarik sama barang-barang yang dijual di tempat khusus kaya gini, mendingan dibeli aja deh soalnya oleh-oleh khas prefektur ga ada di bandara. Misalnya kipas gambar namahage (syaiton khas Akita), tenugui motif anjing Akita (Hachiko itu anjing Akita loooh), atau kartu pos isi beras (Akita terkenal dengan beras yang pulen).

Wisatawan asing di Kakunodate didominasi orang Taiwan atau Korea, kata seorang pemandu yang tampaknya udah uzur banget dan kayanya lebih tua dari kakek gw (tuh kan di sana udah tua masih produktif kerja). Orang Indonesia belum banyak tuh yang main ke Akita makanya gw merasa beruntung bisa menginjakkan kaki di sini. Kalo liburan biasa nampaknya Akita ga akan jadi prioritas tujuan. Bahkan Satoko aja bilang dia belum pernah ke Akita. Fufufu.

Mungkin itu sebabnya pas gw lewatin salah satu kios dan melihat-lihat sampel mochi dengan penuh minat, si pedagang -menilai dari kerudung yang gw pake- menebak asal negara gw dengan cukup ngaco.

“Ejiputo (egypt) desuka?”

WIIIW IDUNG PESEK GINI DIKATA ORANG MESIR.

“Indonesia desu,” kata gw sambil ngunyah sampel mochi.
“Ah, Indonesia. Sou desu ka.”
“Iyah, oishii oishii,” kata gw sambil nyomot sampel mochi rasa lain. Doyan apa laper?

Sehabis ngunyah sampel langsung pamit cabut gak beli apa-apa sambil senyum semanis mungkin. Huahahaha.

Rasanya pengen menghabiskan waktu sepanjang hari di Kakunodate, kalo bisa jalan-jalan pake yukata dan berdampingan dengan Takeru Sato yang lagi cosplay. Atau Sho yang pakai yukata, apalagi dia kan punya proporsi tubuh nadegata (bahunya turun kaya bentuk gantungan baju, bukan bahu tegap) yang disebut cocok banget pake baju tradisional Jepang. Yah kalau ada bahu tegap lain yang siap disenderin pun aku tidak menolak kok. Nyeh nyeh.

Kalo dateng pas musim semi, kota ini semakin indah karena bunga sakura sedang cantik-cantiknya bersemi. Atau nunggu sebulan dua bulan, pohon-pohon kering bakal dihiasi salju.

Rumah-rumah samurai ini ada yang bisa dimasuki dengan cuma-cuma, ada pula yang harus beli tiket. Dindingnya terbuat dari kayu dan atapnya dari jerami. Di bagian atas depan atap ada simbol -kalo ga salah- awan dan ombak, maksudnya biar rumah ini bebas malapetaka baik itu di udara dan darat. Banyak rumah yang kebakaran gitu sih, mungkin karena atapnya jerami.

Kekayaan tiap keluarga samurai dilihat dari luasnya, makin gede ya makin tajir. Semakin ternama dan tinggi kasta sebuah keluarga, hierarkinya juga makin jelas. Kata si pemandu saat kita lagi liat-liat isi sebuah rumah yang disebut milik keluarga samurai ternama (maaf gw lupa namanya, banyak bener cyin), di tempat itu tempat makan dibagi menjadi dua. Satu ruangan khusus buat kepala keluarga, satu lagi buat anggota keluarga lain. Ih, hierarki-nya begitu amat yak! Gak sepi apa tuh bapak makan sendirian?

Ada juga ruangan yang dipake warga setempat untuk menjual suvenir sambil nyambi bikin kaligrafi dsb. Ibu yang lagi bikin koreografi tiba-tiba menyapa seorang temen gw, mahasiswa asal Bandung yang berwajah oriental jadi kerap dikira warga lokal. Sementara dia bingung ga paham, gw langsung mempraktikkan hasil menonton drama Jepun bertahun-tahun.

“Ano… Kare wa nihonjin janai… Indonesiajin desu. ”

Hazeeek. Terus ngobrol-ngobrol dengan bahasa terpatah-patah plus grammar ngaco yang penting dese paham maksud akyu lah yaa. Hokhok.

Selesai muter-muter komplek, mampir sejenak ke restoran pinggir jalan bergaya jadul yang menjual beragam makanan termasuk soft ice cream! Gw beli rasa matcha harga 300 yen (di kepala otomatis ngitung pake kurs rupiah, tapi karena cuma perlu ngeluarin tiga keping uang logam rasanya murah banget) yang rasanya enyaaaaak!

Kalau males jalan kaki mengelilingi Kakunodate, ada juga pilihan naik becak khas Jepang. Penarik becaknya macam-macam, dari kakek-kakek sampe mas-mas berotot yang lumayan manis. Tadinya mau foto bareng sama si mas penarik becak, tapi kan gw kadang lemah sama yang cakep jadi mendadak malu-malu kucing dan mengganti target dengan berfoto bersama ibu-ibu beryukata. Kayanya abis poto dia nawarin buat naik becak dengan bayar sekian yen, tapi yah.. Lain kali aja ya bu kalau ada kesempatan lagi..

Yang suka belanja-belanji, menurut pengamatan gw sih barang yang dijual di tiap toko gak terlalu seragam. Jadi silakan puaskan mata dan pilih mana yang kau suka. Untung aja gw sama Obre udah sempet jajan-jajan di toko bagian dalam komplek walo udah diburu-buru pemandu buat ke tempat selanjutnya karena di toko lain ga ada tuh barang-barang hasil buruan kami. Hehehe.

Next, makan siang di sebuah restoran di tengah suasana komplek sepi yang mirip sama setting drama Nino jaman batu “Stand Up!”. Di pintu masuk itu ada vending machine yang menjual… Kamera. Yap! Mungkin kamera sekali pakai ya? Gw juga ga tau bagaimana sistemnya sih. Berminat? Kalo ga salah liat sih harganya 1600 yen.

Makan pun gak santai karena ijk, Obre dan Adit ga sabar pengen foto-foto di luar restoran di mana banyak spot lucu. Begitu Obre ,si potojenik, yang dipoto hasilnya kaya fesyen blogger, pas giliran gw hasilnya… Yah. Ketolong latar belakang aja. Aheu aheu.

Sembari menunggu bis siap berjalan, para bocah pun berkumpul di depan vending machine, pengen jajan. Ada mesin yang isinya variasi kopi, susu, jus, bir dan cokelat. Harga minuman di vending machine jauh lebih mahal dibandingkan di toko ya, gw pernah liat sekaleng cokelat di vending machine harganya sama dengan ukuran yang jauh lebih besar di toko.

Nah, dosanya si vending machine ini adalah sensasi masukin koin-pilih minuman-pencet anunya-menunggu minumannya jatuh ke tempat yang disediakan. Salah seorang temen bahkan bilang, “Minumannya buat lo aja deh, gw cuma seneng masukin koinnya.”

Harganya bervariasi dari 100 sampe 100 sekian yen dan rasanya murah banget ngeliat nominal yang kecil plus bentuknya recehan pulak. Kalo refleks ngitung ke kurs rupiah udah keselek kali ya seenaknya masuk-masukin duit sampe lima puluh ribu demi memuaskan sensasi vending machine.

Coba dah di halte transjakarta, ngeliat air mineral dijual goceng di mesin aja udah bikin sebel. MENDING GW KEHAUSAN DAN MINUM DI RUMAH AJA DARIPADA BELI GOCENG! *ekstrim*

Minuman mana yang akyu suka? Tentunya coklat panas (yes, kalengnya juga panas) yang rasanya bikin merem melek saat ditenggak di tengah cuaca sejuk belasan derajat. Ahhhh!

Vending machine yang jual minuman ini banyak ditemui di berbagai tempat, tapi gw baru sekali lihat yang isinya jual rokok. Harganya mahal pula! Sebungkus kalo dirupiahin 40.000-50.000 rupiah deh. Tuh, gimana kalo harga rokok di Indonesia juga dimahalin gila-gilaan aja? Gantinya ongkos angkot dimurahin…

Di Akita Youth Pal Hostel juga ada vending machine yang jual es krim dan frozen food yang pas keluar bakal jadi makanan panas, mulai dari takoyaki dan hmmm apa yah, pokoknya makanan panas deh. Dengan kondisi cuaca dingin bingit gw gak sudi beli es krim, sayangnya mesin takoyaki rusaaak jadinya gw gagal melihat dan mencoba seenak apa sih makanan begituan dari mesin. Belum jodoh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s