Review – Before I Disappear

Janjian sama Dachi (plus Dayah dan Fandi) untuk nonton Jiffest tahun ini, basically judul apa pun yang cocok sama jadwal kerja kami. Dachi memutuskan untuk menonton Before I Disappear karena jadwalnya paling pas. Sebenarnya masih bisa nonton film-film ini hari Sabtu atau Minggu, tapi gw dan Dachi adalah penganut Mager Zein kalau udah nyampe rumah. Mendingan kalau mau main ya pas hari kerja, sekalian dari kantor gitu.

Gw mau nulis review, tapi kayaknya bakal mendetil spoiler.

Credit photos from Before I Disapper official Facebook Page

Film Before I Disappear berkisah tentang Richie, cowok madesu yang berusaha bunuh diri karena hidupnya kacau: ditinggal pacar. Pas lagi bersantai di bathtub nunggu darah habis dari luka siletan di nadi, telepon berdering. Maggie, kakak Richie, mendadak minta tolong kepada sang adik untuk menjemput dan menjaga anaknya, Sophia, selama beberapa jam karena Maggie terlibat perkelahian sama pacarnya.

Permintaan itu merupakan hal yang mencengangkan karena hubungan kakak-adik ini renggang dalam lima tahun terakhir. Baiklah, kata Richie. Bunuh dirinya ditunda dulu, dan Richie pun melesat ke sekolah Sophia dalam keadaan lemas kurang darah seperti habis disedot vampir.

Keponakannya si Sophia adalah sosok siswi teladan yang lagaknya kaku kaya kanebo kering (diperankan sama Fatima Ptacek yang gedenya pasti cantik banget). Dengan nyolot dia nyuruh omnya untuk nganterin dia les gimnastik (si Ptacek aslinya emang jago gimnastik yang koprol sana-sini macam kader Johnny’s) terus nganterin ke apartemennya. Begitu sampe di apartemen, omnya yang kece diusir begitu aja. Tugaslo udah kelar, om!

Si Richie balik ke apartemennya yang berantakan, dengan bathtub masih penuh air merah bercampur darah, dan memutuskan untuk melanjutkan usahanya bunuh diri. Dia minum banyak obat yang diasumsikan sebagai obat tidur.

Glek. Glek. Glek.

Tiba-tiba telepon kembali berbunyi. Sophia yang menelpon, bilang kalau ibunya belum pulang. Nah loh, udah kurang darah, abis nenggak obat, si om pun sambil keleyengan balik lagi ke apartemen Sophie. Sebelum nyamperin sang ponakan, dia sempetin nelpon ke temen yang ngasih obat tersebut. Ceritanya mau komplain, kok efeknya gak muncul-muncul? Kok dia masih sehat wal afiat?

RUPANYA ITU OBAT MENOPAUSE SODARA-SODARA!

Ane ngikik sambil terbatuk-batuk dalam bioskop. Pantesan aja si Richie hormonnya menggila, ngamuk sana-sini, gejala menopause.

Setibanya di tempat Sophia, Richie diberi mandat oleh Maggie (via telepon) untuk ngebawa anaknya jauh-jauh dari apartemen karena ada orang mencurigakan. Richie punya waktu sampai pukul empat pagi buat ngejagain Sophia sampe Maggie dikeluarin dari penjara.

Sophia keukeuh minta dibawa ke apartemen Richie karena “I have test tomorrow!”. Richie yang gak mau ngebawa ponakannya ke apartemen yang kacau balau memilih tempat lain untuk membunuh waktu: tempat bowling.

Di sana, Sophia memilih untuk… ngerjain peer. Yak, ucapkan salam pada siswi teladan. Percakapan pun mengalir, Richie penasaran apakah dia pernah disebut-sebut sama Maggie dan Sophia dengan santai bilang “she never talks about you”. Ouch. Petualangan belum selesai, berkat serangkaian peristiwa akhirnya om dan ponakan ini menjadi akrab dalam hitungan jam. Richie yang merasa dirinya gak berguna dan bermasa depan suram sedikit dihibur dengan kata-kata Sophia, “You are not a bad person. You are a dumb person”. Eaaak. Maksudnya, walo si om mukanya kayak pemadat dengan penampilan kucel (tapi tetep ganteng bingit si Shawn Christensen) tapi Sophia tahu Richie sebenarnya baik hati.

Ya iyalah baik, Richie tahan banget ngedengerin bawelnya Sophia.

“Lo tau gak ngerokok itu ga baik?”

“Tau”

“Kenapa tetep ngerokok?”

“Karena rasanya enak”

“Lo tau gak ngerokok itu jadi bla bla bla kematian bla bla”

“Lo bikin kepala gw pusing”

“Punya pacar?”

“Gak”

“Kenapa?”

“Bukan urusanlo”

“Tapi gw pengen tau”

“Bukan urusanlo”

“Mungkin karena nafaslo bau”

“Nafas gw ga bau”

“Merokok jadi salah satu penyebab nafas bau”

“Lo bikin kepala gw sakit…”

Dan… Akhirnya Maggie bisa keluar penjara dengan selamat dan berjumpa lagi dengan sang adik, tentunya pake perang urat syaraf. Richie mempertanyakan mengapa hubungan mereka merenggang, padahal waktu kecil mereka akrab dan dekat. Apakah keduanya akan berbaikan? Akankah Richie melanjutkan bunuh diri yang tertunda?

Film ini membuat gw sedikit meneteskan air mata, yah sekitar satu-dua tetes lah di adegan emosional. Gw suka banget sama lagu-lagu dalam film ini, terutama adegan Sophia mendadak menari di tempat bowling. Rupanya si Shawn (yang jadi aktor utama plus sutradara) dulunya musisi. Oh, pantesan pilihan musiknya keren-keren. Yang mau denger silakan mampir ke sini. Lagu favorit gw adalah Goodnight Radio – Sophia So Far.

Before I Disappear rupanya merupakan versi panjang dari film pendek Curfew karya Christensen yang menang berbagai penghargaan. Penasaran banget dong gw kaya gimana sih cerita aslinya, apalagi pemeran Sophia masih sama. Setting dan cerita di Curfew nyaris persis dengan Before I Disappear. Bedanya adalah cerita lebih sederhana dan Sophia masih lebih imut (dan tidak senyolot versi lebih dewasa). Gw sih lebih suka versi film panjang karena hubungan Richie-Maggie lebih dieksplorasi dan kompleks, meski penyebab merenggangnya hubungan mereka di Curfew dan BID memang berbeda.

Sepertinya gw akan menantikan lagi karya lain dari mas Shawn Christensen 🙂

PS: lagi jungkir balik karena tweet gw dibalas sama Shawn 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s