“Dibuang” di perbatasan Kamboja-Thailand

Ya, “dibuang”! Untunglah bukan orangnya yang dibuang, melainkan barang bawaan kami. Bagaimana ceritanya? Nanti dulu ya dirunut dari awal 😀

IMG_4126

IMG_4124

Saat sarapan di hotel (roti plus telur), gw rada kebat-kebit nungguin jemputan yang dijanjiin sama pihak Nattakan, tempat mangkal bis Siem Reap-Bangkok. Dodolnya adalah waktu nulis nama hotel tempat kami bernaung, gw lupa ngasih nama atau nomor yang bisa dihubungi. Yang dicatet cuma “3 person”. Jadi kalau pun ada mas-mas yang mau jemput, dia gak akan bisa nanyain ke resepsionis tentang kami doooongs. Ya sudah, sambil ngunyah sambil lirik sana-sini.

IMG_4127

IMG_4128

Saat itu, di lobi hotel ramai biksu-biksu yang baru sampai. Hmm sepertinya karena sedang akhir pekan jadi turis semakin ramai. Mengingat jarak hotel sama Nattakan gak terlalu jauh, mungkin 1 km, kalo kemungkinan terburuk seperti si penjemput tak kunjung sampai, kita masih bisa nyewa tuk-tuk lain atau jalan kaki lah. Tapi kaaan udah dapet janji servis jemput gratisan jadinya yaaah… masa ga dateng sih?

Sementara yang lain mengunyah-ngunyah, terlihatlah seorang pria Kamboja yang celingak-celinguk jalan mondar-mandir. Gw samperin, “Nattakan?” tapi dia sama sekali enggak merespon. Gw tanya kedua kalinya, dan ekspresinya berubah cerah. “Yes, Nattakan!”. Ya ampun mas, situ udah mondar-mandir belasan menit nyariin kami yah! Ehehehehe. Terus dia nanya “where is your partner?” dan gw tunjuklah dua bocah yang masih sarapan. Lalu kami dikenalin ke supir tuk-tuk yang siap mengantar kami ke Nattakan. Si mas Kamboja pun sepertinya melipir ke hotel lain untuk menjemput turis lain yang mau balik ke Bangkok. IMG_4129

Kenyang dan senang lalu angkut barang, tuk-tuk melaju ke Nattakan! Kehadiran wifi di kantor tersebut membuat tiga perempuan ini jadi cuek satu sama lain karena semua berkutat ke handphone masing-masing.

IMG_4130

Sudah ada beberapa calon penumpang bis yang sampai, ada mas-mas Jepang lagi nyatet di jurnal kecilnya (yang mendorong gw untuk terus mendokumentasikan kisah-kisah trip secara manual in case lupa, dan bener aja catetan itu berguna pas nulis blog yang baru sempet dilakukan berbulan-bulan kemudian), ada pasangan Malaysia/Singapura yang pangku-pangkuan (iya sih bangkunya memang cuma sedikit). Gw berasumsi dia Malay/Spore karena ceweknya berwajah melayu dan pakai kerudung tapi megang paspor non Indonesia. Sembari menunggu penumpang lain dijemput semua, gw mengalihkan perhatian pada televisi yang menayangkan versi lokal dari video klip Amerika!

IMG_4151

IMG_4134

IMG_4133

Bisnya pun tiba dan ternyata tidak semulus bis Bangkok. Kayaknya emang mencerminkan situasi negara deh, yang dari Thailand biasanya jauh lebih kinclong gitu. Entah kenapa bis Kamboja yang terlihat berumur ini mengingatkan gw pada bis-bis di India. Padahal belum pernah ke India, tapi imejnya kaya gitu deh, penuh rumbai-rumbai dan hiasan meriah. Bangkunya nyaman sih, tapi interiornya agak dekil dan kotor. Kali ini gantian gw yang duduk sendirian, si Agnes sama Tisha sebangku. Ih harap-harap cemas siapakah yang akan jadi teman sebangku? Diam-diam berharap yang duduk di sebelah adalah mas-mas Jepang yang sibuk nulis jurnal itu. Lumayan kan bisa basa-basi pake bahasa Jepang seadanya sambil bilang “Aku suka Arashi” (kenapa itu melulu deh Nien). Nyatanya… tidak ada teman sebangku! Bisnya kosong~ Eh maksudnya ada banyak kursi yang tidak ditempati penumpang gitu. Ya udah, duduk merdeka deh sambil kadang angkat kaki kaya di warteg, dan sebagainya. Tidak seperti perjalanan Thailand-Kamboja, kali ini bis lebih hening. Yang terdengar hanyalah percakapan lirih dari mbak-mbak Eropa di samping gw (sepertinya Jerman). Cuacanya juga bersahabat, sejuk plus bonus rintik-rintik gerimis. Snack pun dibagikan, ada muffin sama jus.

IMG_4139

IMG_4152IMG_4153

Lagi-lagi tidak selengkap menu saat berangkat dari Thailand, tapi sebagai gantinya kami mendapat nasi instan panas mengepul yang dibeli dari 711! Menunya random, tapi gw kebetulan dapat rasa nasi goreng kepiting yang paling enak dibandingkan menu kedua teman gw yang lain. Yum yum! Bahkan nasi goreng 711 jauh lebih enak daripada nasi di bandara 😦

Nah, sesampainya di perbatasan Kamboja, hujan turun lebih deras. Becek cek cek cek cek. FYI, perbatasan imigrasinya Kamboja lumayan… memprihatinkan. Kayak warung-warung gitu lah, tapi karena ga boleh difoto jadi yaaa silakan dibayangkan saja. Kalo perbatasan Thailand mah ada di gedung ber-AC gitu, kita mah antre panjang becek-becekan menghindari air hujan di garis antre yang rada gak jelas. Papan petunjuk yang gak jelas bikin makin bingung. Udara dingin, kebelet pipis, antrean panjang. Ya sudah, pipis dulu aja dengan risiko dapet antrean paling belakang. Kondisi wc-nya gimana? Hahaha… Untung gw datang dari negara berkembang yang kondisi toilet umumnya bener-bener bikin pengen tepok jidat sehingga gak kaget-kaget amat menemukan kloset duduk yang sisa rangkanya doang sehingga kita harus duduk-tapi-ga-duduk. Duduk nanggung, duduk melayang, duduk mengambang, nahan duduk, yah begitulah. Tisu pun tak ada, yang ada hanya ember dan gayung, semprotan pun rusak. Untunglah kamar mandi satu-satunya itu tidak bau. Hiiiing~

IMG_4143

Okey, begitu kami bertiga keluar dari kamar mandi, rekan-rekan satu bis yang make kartu di leher itu tidak terlihat batang hidungnya. Ya udah, santai, ga akan ditinggal kan?

Usai mendapat cap dari imigrasi Kamboja, kita jalan kaki ngelewatin hotel-hotel dan kasino kan… Sementara dua anak di depan gw lagi ngobrol seru, gw melihat ada tumpukan tiga tas terbengkalai di pinggir jalan becek yang dialasi kardus.

Hmm.

Eh, ada tas pink. Loh itu tas Agnes. Loh kok kayak tas gw sama Tisha. YA AMPUN TAS KAMI DIBUANG DI JALAN BEGITU SAJA. Tas kan harus dicek di imigrasi Thailand, jadi semua penumpang harus bawa tas masing-masing. Nah, kami bertiga kan ngaret gara-gara pipis dulu, makanya tasnya digeletakin begitu saja di pinggir jalan soalnya bis harus tetap melaju tanpa barang bawaan penumpang. Berkali-kali gw bersyukur bisa ngeh ngeliat barang-barang kami yang terbengkalai (untung tas si Agnes ngejreng!) kalau gak bisa panik lah kita karena barang bawaan hilang. Blah!

IMG_4144

Hotel dan kasino di antara perbatasan Kamboja-Thailand

IMG_4145

IMG_4148

IMG_4150

Penampakan gerbang imigrasi Thailand

Oiya, ini gambaran alur imigrasi darat Kamboja-Thailand yang rutenya ditempuh dengan jalan kaki tapi papan penunjuknya agak ambigu.

photo (4)

Dari Siem Reap, bis akan berhenti di sebelah kanan jalan, imigrasi Kamboja letaknya di kanan, dari situ jalan terus melewati hotel-hotel dan kasino lalu menyeberanglah karena imigrasi Thailand letaknya di kiri. Jadi, setelah paspor dicap di Kamboja, akan ada plang “Passport Control” di sebelah kiri dan ada rambu yang nyuruh untuk menyeberang ke kiri.  Suasananya mirip-mirip pasar jadi agak bikin keder juga sih. Harus teliti banget merhatiin rambu-rambu di sini. Pasangan kakek-nenek yang satu bis sama gw sepertinya sempat bingung harus menyeberang atau nggak. Kalo nggak nyeberang ya dia bakal bentrok sama orang-orang yang baru dateng dari Thailand. Entahlah mengapa membingungkan, mungkin karena dua negara ini punya jalur mobil yang berbeda. Kalo Thailand kan setir kanan, sementara Kamboja setir kiri.

Di perbatasan Thailand alhamdulillah lancar, bahkan petugasnya sempat mengucap “Assalamualaikum, selamat jalan” karena melihat kerudung dan paspor Indonesia. Auuuh terharu deh disapa seperti itu 😀 (“Terima kasih!”, “Sama-sama”).

Dari situ kami jalan luruuuuus terus sambil mencari tanda-tanda rombongan orang dengan name tag bis Nattakan. Ah, akhirnya kelihatan! Dan begitu kaki gw menjejak ke dekat mereka, sontak rombongan itu segera bergerak ke parkiran bis. Eh… ini… cuma…nungguin kami doang ya…. ups. Mungkin kalo gw yang ada dalem rombongan itu, “mana sih nih tiga bocah lama benerrr bikin gw nunggu lama aja!”. Eh tapi kan waktu berangkat dari Bangkok-Siem Reap kami bertiga adalah salah satu dari rombongan yang urusannya paling cepet dan harus nunggu lamaaaa di bis. Ehem. Ya udah lah ya. Di parkiran bis, hampir semua penumpang pada melipir ke kamar mandi. Yaah ditahan-tahan sih… Tapi mungkin lebih nyaman kamar mandinya karena harus bayar 5 baht (tapi antre banget). Kalo yang di Siem Reap super bapuk tapi gratis. Wekekeke.

Iklan

11 pemikiran pada ““Dibuang” di perbatasan Kamboja-Thailand

  1. seneng ya kalo di negeri orang disapa dengan Assalamualaikum 🙂 aku pernah disapa begitu di Bondi Junction, sama pegawai terminal bus. orang India. mungkin muslim juga

  2. halo makasih infonya *nyimak*
    mau tanya donk..
    kalo kita orang indonesia di perbatasan thailand menuju siem reap ga perlu visa kan ya? langsung ke imigrasi untuk cap paspor?
    dan kalo mau beli tiket bis dari siem reap ke bangkok, belinya onsite ya di kantor bis nattakan yang di siem reap?

    tks sblmnya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s