Drama Kabel

20140707-221322-80002955.jpg

Akhirnya separuh jiwaku kembali!
Separuh jiwa ini bukan Sakurai Sho/ Jung Joon Young/ *sensor*/ *sensor/ *sensor* melainkan kabel charger iphonanien.

Salahkan sifat teledor, kabel iphone yang kukira tangguh akhirnya sekarat akibat pemakaian tidak tahu diri yang membuat tubuh lurusnya menjadi mletat mletot seperti cacing mabuk.

Kemampuannya menghantarkan listrik menjadi labil seperti percintaan remaja yang hormonnya sedang menggelegak. On off on off on off. Bengkokin dikit, *getar* on. *getar* off.

Akhirnya kelabilan ini berubah menjadi stabil. Benar-benar mati total tak peduli seberapa kreatif gw mengatur posisi kabel yang bentuknya sudah tidak karuan itu.

Maaaak apakabartulisangwyangbelumkelaaaar???

Fokus menulis pun berserakan. Mikirin kabel. Berapa harganya. Di mana belinya. Bagaimana bikin tulisan yang logikanya runut. Bla bla bla.

Ketika mendongak (lagi lesehan sambil berjibaku melawan kabel dan colokan) kulihat ada Uda Reza sedang duduk ganteng tanpa kacamata (penjilat mode:ON). Dia terlihat santai karena tugasnya sudah selesai.

Setelah guling guling panik dan gugling gugling kilat, terlihatlah petunjuk iBox Menteng Central.

Call!
“Kabel charger iphone 5?”
“329”
“Oke” *telen ludah*

Oh duit jajanku~

Tahap selanjutnya adalah merayu Uda Reza untuk mau berbuat amal baik dengan mengantar diri ini ke Menteng Central dengan motornya yang kerap ditunggu untuk rute Kepu-Pasbar.

“Oke,” kata dia santai.
“Mumpung bulan puasa,” lanjut dia.

Alhamdulillah!

Proses melintah pun dimulai. Pinjem hape Ajat buat ngetik. Pinjem hape Irene buat nelpon narsum. Pinjem laptop LPJA buat revisi. Pinjem hape Ocha buat browsing.

Lalu hujan deras. Petir menggelegar. Nah loh. Apa kabar permotoran Pasbar-Menteng? Ah santai.. Katanya iBox sana tutup pukul 9 malam. Dengan jarak yang selemparan kolor (dilempar dari helikopter) insya Allah keburu banget.

Magrib tiba. Buka puasa. Uda Reza balik ke kos dulu ngambil helm. Betapa gw lintah yang super merepotkan. Hujan yang reda kembali meradang. Uda menunggu reda sembari gw ditemani semangkuk bakwan malang plus hibah aqua dingin untuk menyembuhkan bibir dower akibat sambal berlebih.

Kunyah-kunyah sambil mendengarkan diskusi hangat para pewarta tentang (apalagi kalau bukan) jokowijeka vs prahara. Kunyah selesai. Aqua habis. Diskusi masih berjalan.

Penampakan Reza pun muncul dari pintu kafe. Let’s gooo and get the cable!!

Hujan masih rintik tapi kepala terlindungi helm sementara badan dilindungi lapisan lemak tebal. Yah, pokoknya jangan lupa tenggak Tolak Enjin saja untuk jaga-jaga.

Tapi kok, eh, loh, KOK MACET BANGET YAAA? Gara-gara hujan? Ke arah Gambir merayap gilak. Belok ke Harmoni kok merayap gilak juga. Sampe Sarinah hujan tiba-tiba deras dan kumpulan pemotor yang terjebak di antara semrawut kendaraan gelisah banget bagai setan mendengar Ayat Kursi.

Hujan semakin deras dan akhirnya motor Uda melaju hingga nyaris Taman Menteng sampai…

Mesin motornya mati pas lampu merah.

Dengan intonasi kalemnya seperti biasa, Uda berkata, “Yah mati. Bensin abis nih.”

“Lo bercanda kan?”

Menteng Central benar-benar selemparan kolor lagi.

“Gw isi bensin di belakang, lo tunggu di depan ya. Maaf ya.”

Dan gw pun menunggu persis di depan tulisan Taman Menteng. Membuka payung dan menanti. Ekor mata sudah melirik ke plang Menteng Central. Kalau gw ke sana bisa segera isi baterai dan lapor posisi ke Uda, tapi gw kan udah janji bakal nunggu. Kalo Uda nyariin gimana? Mana gw ga hafal nomornya!

Puluhan motor sudah lewat. Belasan menit berlalu. Celingak celinguk. Menunduk lihat jam tangan. Berangkat dari Pasar Baru pukul 18.30 dan dengan kemacetan yang menggila, baru sampai Taman Menteng pukul 20.00.

Gw bertekad akan segera ke iBox pukul 20.30, dengan atau tanpa Uda. Kalo udah keburu tutup lalu besok gw bijimana mau kerjaaa?

15 menit.

Lalu ada suara melengking menyebut nama gw. Bagai film dramatis, gw menengok ke arah belakang dan mendapati Uda sedang berlari slow motion. Jaket birunya melambai-lambai.

“Tadi gw ke iBox dan nanya ‘mas, lihat cewek pake kerudung beli kabel charger?'”

“Laaah lo kan nyuruh gw nunggu di sini?”

“Kirain lo udah ke iBox!”

Dan kami pun tertawa-tawa menuju tempat tujuan. Lega banget bisa ketemu meski tidak terhubung ke teknologi. Saling sepakat bahwa malam ini penuh drama kabel.

Selamat tinggal 329. Terima kasih Rezaaaa!

Pulangnya dianter balik ke stasiun. Reza idolaku! *lintah bahagia*

*baru sampe rumah dan lihat tv kalo Cikini banjir. Pantes macet menggila!*

Iklan

7 pemikiran pada “Drama Kabel

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s