Temani Pasti

Setelah ditunda beberapa pekan, gw, Tisha dan Pasti menunaikan janji bersama untuk mencoba naik bis tingkat wisata persembahan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Sebagai pekerja yang mondar-mandir di kawasan bunderan HI, gw ingin menuntaskan rasa penasaran karena nyaris setiap hari melihat penampakan city bus tour tersebut. Lain halnya untuk Pasti sang bismania yang memang penasaran banget pengen coba bis tingkat. Maklum, dia adalah pecinta bis yang anteng banget kalo disuruh menunggu di terminal karena dia bisa melihat-lihat bis antar kota antar provinsi kesukaannya.

“Kalo anak kecil anteng ditinggal di playground, lo suruh gw nunggu aja di terminal,” ungkapnya.

Lucunya, baru pekan lalu juga dia pertama mencoba naik Transjakarta. Dengan sistem baru yang harus pakai kartu (setidaknya di koridor dekat rumah gw) sang bismania tercengang-cengang dan penuh semangat. Setelah gw pikir-pikir, emang Pasti adalah pemotor sejati. Sekali-kalinya gw ngeliat dia di angkot adalah pas kami masih jadi mahasiswa baru. Setelah itu, pemandangan yang gw lihat hanyalah punggungnya saja (kesaksian nebengers motor).

20140519-051303-18783466.jpg
Lucu juga melihat sudut pandang bismania saat naik kendaraan yang udah jadi makanan sehari-hari. Komentar seperti “wah ada cctv” sampai “kenapa nama shelternya Pancoran Tugu, bukan Tugu Pancoran?” meramaikan perjalanan. Pasti juga semacam emosi jiwa harus melewati jembatan Semanggi jaraknya dapat ditempuh dengan kira-kira tiga lagu full (15 menit) saking jauhnya.

Long story short, kami turun di Sarinah dan beruntungnya bis yang dinanti segera datang. Yoohooo!

Naik city bus tour ini tanpa biaya, setidaknya sampai akhir tahun. Ada beberapa halte tempat kita bisa naik, Sarinah, HI, Monas, Balaikota, Gedung Kesenian Jakarta, Pecenongan. Gw ga hafal jadwalnya, tapi bisa dicek di akun twitter resminya ya.

Tentu saja kami segera naik ke lantai dua. Masing-masing sibuk jeprat-jepret.

Lalu bagaimana kesan-kesannya? Yah. Buat gw sekali saja cukup karena lamaaaaa banget jalannya dan emang tidak terlalu banyak yang dilihat dan dilewati selain gedung-gedung museum, monas, GKJ, dsb. Belum lagi ngetem agak lama dan jalannya memang pelan. Butuh waktu sekitar satu jam berkeliling dari Sarinah-HI-Harmoni-GKJ-Gedung Pos-Sarinah. Tapi setelah melihat shelter-shelter lain rupanya kami beruntung bisa langsung dapat giliran karena banyak yang antre dan bisnya tak kunjung datang. Dan ternyata bis ini tidak berhenti di semua halte, hanya sesuai rute yang terpampang di bisnya. Berhubung gw naik dari Sarinah dan ada tulisan HI di bis, gw cuma bisa naik/turun di dua halte tersebut.

20140519-052938-19778688.jpg

Berlanjut temu kangen dengan mie kangkung dan es kopyor Sabang Restoran yang jadul, baik interior maupun auranya (kalo kata Pasti, bau AC-nya aja jadul banget) tapi makanannya enak!

Lanjut lagi ngeteh dan ngecincau plus nge-ketansusu di Rumate. Interior Rumate maknyos juga buat foto-foto loh. Kenyang luar biasa dan membuncit sampe sempet disangka hamil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s