Naik bis dari Bangkok ke Siem Reap (2)

Perkiraan bis bakal penuh banget ternyata salah. Agnes yang katanya sempat dag dig dug mengenai siapa yang akan jadi teman sebangkunya selama perjalanan 9 jam ternyata aman dan nyaman duduk sendirian. Wiiih, dua kursi bisa dikuasainya.

Interior bis lumayan pewe. Mirip sama bis Damri Rambutan-Bandara, cuma bangku bis Bangkok-Siem Reap ini beludru. Yang lebih asyik lagi ada sandaran kaki. Ahhhh, betapa menyenangkan karena kaki gw barely nyentuh lantai #mungil. Ada gorden, tapi walau matahari terik gw males nutup karena pengen liat pemandangan. Kalo ngantuk tinggal pake penutup mata sajah.

Bis pun melaju. Ibu-ibu petugas berseragam resmi warna putih lengkap dengan lencana menyambut kami dalam bahasa Thailish (Thai-English) dan mengedarkan sebuah papan jalan plus daftar isian absen (banyak abege usia 18-19 dari Inggris) untuk mendata semua penumpang.

Mbak-mbak petugas berbaju preman (non seragam) pun membagikan konsumsi: kopi kaleng, air putih, sirup jeruk, bolu, dan semacam kue cornflake.

Konsumsi di bis Bangkok-Siem Reap

Konsumsi di bis Bangkok-Siem Reap

Wah, jangan sampai beser nih karena gw males banget pipis di toilet bis.

Pemandangan Don Mueang menuju Aranyaprathet-Poipet (perbatasan Kamboja-Thai) bervariasi, saat masih di Bangkok berasa lewat jalan tol dalam kota Jakarta. Bedanya lebih sepi dan bersih aja sama baliho-baliho iklan yang dibintangi idol K-Pop dengan tulisan cacing. Bis pun melaju lurus tanpa hambatan.

Beneran jalannya lurus aja. Kagak ada liku-liku-laki-laki. Lurus aja sampe bosen. Dari pemandangan kota, semak belukar, kebon entah apa, lapangan tandus, dan kawasan industri.

Yang bikin ramai ya obrolan orang-orang di bis. Dari belakang terdengar obrolan sopan cewek-cowok Eropa (yang mana cowoknya lucuk banget) pelan, nah dari samping ini dua pria kebangsaan AS ngobrol heboh. Berasa lagi nyalain tv yang nyetel pelem barat deh gw. Nguping-nguping listening, dari si mas yang pernah kecelakaan motor, pole dancing, cewek, dsb. Suara mereka membahana gitu di bis ditimpali sama obrolan bahasa Indonesia antara gw dan Tisha. Dan sampai lamaaaa sekali mas-mas Amrik masih mengobrol heboh. Lalu hening karena mereka tidur. Baru deh yang yurop-yurop pada mulai mengobrol dengan aksen sekseh dan volume yang lebih kalem.

Bis sempat berhenti sebentar di warung pinggir jalan tol. Kayaknya sang supir jajan sesuatu (mungkin es teler) dan perjalanan berlanjut lagi. Orang-orang hilir mudik ke WC, termasuk Tisha, yang bilang WC tidak ada flush. Mungkin langsung ngocor ke jalan. Brrrr.

Jalanan lurus bikin ngantuk~ Jadi gw sempat tidur beberapa puluh menit saja. Lalu terbangun dan bosan. Mengingat tidak bawa kamera, jadi baterai hape diirit-irit. Kagak ada yang namanya dengerin musik biar gak usah ribet colok powerbank. Yaudah mari kita nulis-nulis jurnal di diary yang khusus dibawa selama perjalanan (dan ternyata cuma keisi di hari-hari awal saja).

Saat matahari tepat di atas kepala, petugas membagikan kartu penanda yang dikalungkan di leher biar gampang kumpul lagi setelah lewat perbatasan.

Plang-plang Aranyapratet mulai terlihat, jalanan yang tadinya hanya dihiasi kebun dan pohon-pohon mulai menampakkan rumah-rumah serta manusia. Kita sudah dekat!

Bis mampir lagi ke sebuah ruko di Airaran dan mbak petugas membawa kardus berisi MAKAN SIANG! Yeaay yeaaay dapat nasi goreng masih panas plus hiasan jeruk nipis dan dua lembaran tipis mirip otak-otak. Buat gw, nasi goreng bis ini jauh lebih enak dibanding yang gw beli di bandara. Yah rasanya mirip-mirip nasgor yang dimasak dari bumbu instan tapi lumayan lah ye.

Cuaca? Panas banget. Nget. *lepas jaket*

Biksu-biksu bertelanjang kaki menyusuri perbatasan

Biksu-biksu bertelanjang kaki menyusuri perbatasan

Lalu tibalah kami di perbatasan. Bis merayap di antrean. Hilir mudih terlihat warga Kamboja yang penampakannya mirip sama orang Indonesia, apalagi kulitnya sawo matang. Ya maklum mataharinya gak jaim loh. Topi lebar yang juga menutupi leher jadi dresscode. Riweuh-riweuhnya mirip sama pasar di sini lah. Ada tuk-tuk yang alih fungsi jadi warung berjalan lengkap dengan botol-botol air mineral sampai botol orson (euh minuman bersoda dsb). Ada anak sekolah yang bersepeda bersama. Ada yang ngojek. Rame!

Kami pun diberi instruksi untuk turun (tidak ada penipuan “yok kami urusin visa” seperti ditulis blogger-blogger lain) dan mengurus sendiri imigrasi. Sempat agak bingung apakah harus bawa tas atau enggak, rupanya mau masuk Kamboja lebih santai. Tas yang di dalam bagasi bis tidak diperiksa.

Imigrasi Thailand

Imigrasi Thailand

Yasudah, berjalanlah kami mengikuti koridor yang sudah dibuat pemerintah Thailand dan mengikuti petunjuk jalan. Sudah dapat cap tanda keluar Thailand, kami kembali mengikuti panah-panah menuju imigrasi Kamboja.

Jembatan Persahabatan Thailand-Kamboja

Jembatan Persahabatan Thailand-Kamboja

Jembatan persahabatan Thailand-Kamboja kami lewati. Lalu bingung. Mana sih gedung imigrasi Kamboja? Soalnya, perbatasan ini penuh dengan hotel dan kasino. Jadi agak-agak siwer. Menurut petunjuk jalan, dari perbatasan Thailand (sebelah kiri) harus nyebrang dan lurus saja.

Perbatasan Thai-Kamboja

Perbatasan Thai-Kamboja

Mas Yurop yang imut bingit sepertinya terpisah dari rombongan. Dia pun tanpa berbicara menunggu kami bertiga dan memberi tatapan “nyok nyebrang”. Iiiiih. Bakat stalker mendorong gw untuk mengabadikan sosoknya walau hanya dari belakang.

Mas Yurop!

Mas Yurop!

Di seberang ada gedung imigrasi, tapi sepertinya untuk membuat visa. Berhubung kami bebas visa, rada bingung mau kemana soalnya jalannya gak jelas. Masuk aja lah. Petugas yang melihat paspor hijau Indonesia langsung mengarahkan kami untuk keluar dan luruuuuus terus aja. Nah loh.

. Dadah mas Yurop! Kami duluan ya.

Gerbang Kamboja

Gerbang Kamboja

Tapi bingung nih pas jalan kaki. Mana tempat ngecap welkam to Cambodia? Ini mah isinya gedung-gedung hotel dan kasino. Ya udah mari teruuuuus berjalan.

Papan petunjuk biru berisi pencerahan!

Papan petunjuk biru berisi pencerahan!

Lalu di jembatan gw melihat papan biru bertuliskan Passport Control dengan panah ke kanan. Setelah memicingkan mata, ada loket bertuliskan ARRIVAL yang dipenuhi banyak turis. Oh yeah, kami tiba di tempat yang benar!

Loket imigrasi Kamboja

Loket imigrasi Kamboja

Eh, tunggu. Beneran ini imigrasi Kamboja? Kok…… loket Kampung Rambutan aja masih lebih kece?

Ada larangan untuk foto-foto (dan membawa senjata) jadi gw hanya bisa bercerita lewat tulisan saja. Ada 3-4 loket di tempat yang mirip warung, lantainya seperti semen yang sudah bocel di sana-sini. Hanya ada satu kipas angin jumbo di bagian depan antrean. Mengingat suhu Kamboja siang hari sekitar 33 derajat celcius, yang jauh dari kipas angin cuma bisa ngipas pake paspor. Di dinding sebelah kanan ada pohon yang menyeruak sehingga space untuk ngantri semakin sempit. Ada juga semacam dupa-dupa untuk berdoa serta kotak saran dan pengaduan.

 

Setelah memindai jari dan ditanya mau kemana (“Siem Reap”) selesai sudah urusan cap-cap imigrasi. Lalu, disinilah kartu tanda pengenal bis berfungsi. Kalo kita nyelonong ke arah Kamboja (sedangkan bisnya parkir di kasino antara perbatasan), petugas imigrasi nyetop dan ngasih tahu “Neng, neng, bis ente di belakang, balik lagi gih kesono”.

Selagi nungguin dua bocah lain, ada bapak-bapak Kamboja menyapa dengan bahasa Indonesia, “Mbak, mau kemana?”.

“Siem Reap”.
Terus sama-sama senyum, dan tetap waspada soalnya yang gw baca Kamboja banyak bener scammingnya.

“Bis?” tanya dia setelah melihat kartu bis yang tergantung di leher gw.
“Iya”.

Lalu kami bertiga (tidak termasuk bapak Kamboja berbahasa Indonesia) melipir ke arah bis. Dan ternyata sebagian besar penumpang bis masih mengurus visa dan paspor. Terus pintu bis juga enggak dibuka jadinya kita nongkrong di luar bis bersama rombongan Polandia.

Supirnya tiba-tiba menghampiri.

“If you wanna go to toilet just go inside,” katanya sambil menunjuk hotel/kasino tepat di sebelah bis parkir.

“MAS TAU AJA KITA BESER!”

Masuklah kami ke kasino kecil dan mencari simbol perempuan mengenakan rok. WC aimisyu! Tepatnya, WC bersih dan semprotan aimisyu!

Pengen foto-foto di tempat judi tapi khawatir itu dilarang, lagian siapa tahu penumpang bis lain sudah pada selesai. Eiittss ternyata masih pada belum datang. Dan gw baru ngeh kalau ada penumpang Asia selain kami dan dua orang Thailand. Roman-romannya sih orang Jepang. Tapi karena udah pada tuwir jadi gw tidak berniat basa-basi “arashi daisuki” wekekeke *pilih kasih*.

Ya sudah deh, foto sana foto sini foto sana foto sini.

 

IMG_3493

Eh, datang lagi bapak-bapak Kamboja berbahasa Indonesia. Dengan bahasa melayu terbata-bata, dia bercerita kalau dulu banyak orang Indonesia datang. Tapi seiring waktu berlalu semakin sedikit orang Indonesia berkunjung sehingga dia lupa cara ngomong bahasa kita.

 

 

*lalu dia nunjuk pohon bambu yang jadi pemanis eksterior hotel*

“Ini apa bahasa Indonesianya?”
“Bambu”
“Bam….booo?” *terus dia nulis bambu di telapak tangannya pake pulpen*

Lalu kami bertiga mulai mengorek-ngorek ingatan mengenai pelajaran masa SD tentang hubungan akrab Kamboja-Indonesia.

“Gw inget sih ada hubungan akrab tapi tepatnya apa yah?”
“Aaaaakkk… wifi ga bisa nyambung ga bisa buka wikipedia nih!”

*penderitaan pengen ngepath tapi ga modal beli simcard jadi ngandelin wifi yang fana*

Dan… ada lagi yang mendatangi kami. Kali ini tepat seperti yang dibilang para blogger. “One dollar beggar”.

Anak-anak kecil lusuh (gak lebih lusuh dari pengamen lampu merah di Jakarta kok) nyolek-nyolek “one dollar! one dollar!” ke rombongan Polandia.

Gile lu brooooh. Sedolar banget? Sebelas rebu banget mintanya? *ngitung ke kurs rupiah lalu emosi*

Tibalah giliran dia minta-minta kepada kami.

“One dollar? Cepe mau ga?”
“Cepe?” Si anak membeo.
“Iya, gila lo sedolar itu mahal tahu. Bisa naik angkot berapa kali,” gw misuh-misuh pake bahasa ibu. Si anak bengong dan akhirnya melipir.

Okey, penumpang bis mulai berdatangan dan kami melanjutkan perjalanan. Bis yang tadinya berjalan di jalur kiri sekarang pindah ke jalur kanan karena di Kamboja mobilnya setir kiri. Hebatnya bis yang gw naiki kan bis Bangkok, jadi supirnya harus bisa nyetir pake setir kanan di jalur kiri. Tapi gak cuma bis ini yang kece, banyak juga truk setir kanan dengan plat Thailand yang mahir berkendara di dua jalur.
Cekrak cekrek kamera mulai terdengar. Orang-orang mengabadikan suasana perbatasan Kamboja yang ternyata….masih jauh lokasinya dari Siem Reap. Dari excited melihat huruf-huruf cacing yang lebih mirip huruf India menjadi agak mengantuk.

Kali ini pemandangannya diwarnai pertokoan sampai padang tandus. Gak akan heran kalau tiba-tiba ada jerapah lagi ngaso.

Sejam… Dua jam…

Tipikal mobil di Kamboja lebih sederhana dibandingkan Thailand. Gak ada mobil mewah yang uwow, palingan yang lewat sedan, sedan, sedan, minibus isi turis, bis isi turis, dan truk. Kocaknya, gak jarang ada yang duduk bertiga di bagian depan. Atau umpel-umpelan depan belakang, mirip sama pemandangan Jawa Barat kala mudik dimana kapasitas mobil tidak sesuai dengan jumlah penumpang.

 

Setelah melewati berbagai pom bensin dengan tulisan “Depot Tela” dan iringan sepeda dari anak-anak yang baru pulang sekolah (anak SD roknya berwarna biru), mulai terlihat hijau-hijau pepohonan dan hotel-hotel besar. Debu-debu dari tanah tandus digantikan dengan restoran-restoran Korea (yep!) dan suasana kota kecil rapi mirip Jogja atau Tasik sepuluh tahun lalu (masih sepi).

 

Kolase

Tibalah kami di Siem Reap, tepatnya di depan Nattakan Company, tempat yang sama bila kita ingin naik bis antar negara Siem Reap-Bangkok.

(bersambung)

Iklan

7 pemikiran pada “Naik bis dari Bangkok ke Siem Reap (2)

  1. hehehehe… asik bacanya.. seumur-umur bolak-balik kamboja ga pernah lewat perbatasan ini, ntar kapan-kapan ah… mau ngikutin itinerary-nya… bus-nya pesen dari bangkok ya?

  2. halo… nanya dong, itu perjalanan 9 jam ya dari Bangkok? berarti kalau berangkat jam 8 pagi, sampe Siem Reap jam 5an sore dong ya? *lg mikir itin, hehehehe* makasihh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s