Naik bis dari Bangkok ke Siem Reap (1)

Nginep di bandara rupanya cukup bikin ketagihan karena ada rasa puas “gw hemat duiiiiit!”.

IMG_3395

Tapi mungkin rasa itu akan hilang kala masuk angin melanda. Oleh karena itu salah satu obat yang wajib ditenggak adalah Reject Wind.

IMG_3358
Flashback dikit, di Don Mueang ada wifi gratisan jadi kegiatan eksis bisa tersalurkan. Agak peer juga karena harus registrasi dulu, tapi ikuti saja langkah-langkahnya dan niscaya Anda akan terhubung ke dunia maya (lalu suasana hening karena semua terdiam menatap layar perangkat masing-masing).IMG_3397

Menurut gosip yang beredar, ada restoran siap saji di DM. Perut teriak minta diisi plus sindrom masuk angin bukan kombinasi yang baik, jadi saat sang fastfood idaman tampaknya fana, ya udah pasrah aja makan di food court bandara yang tentu saja harganya selangit.

Sebagai perbandingan, air minum termurah di 7-11 harganya 7 baht, di bandara antara 25-40 baht. Nyesek ya? Tapi bagaimanapun kita haus bingits. Ya sudah mari merelakan lembar-lembar uang itu terbuang.

Untuk makanan, kami pilih yang standar dan tanpa babi. Nasi goreng kepiting yang kebanyakan bawang putih jadi bikin mual dipatok 156 baht. Bahkan rasanya lebih enak versi 7-11. Auwwwh cedih.

IMG_3347

Tau gt bawa bekal dari rumah ya biar duit keluar agak boros cuma di minuman aja. Soalnya di pesawat ada sekeluarga yang bawa bekal kaya piknik gitu. Begitu terbang bekalnya dibuka satu-satu dan hanya menyisakan iler dan iri hati bagi yang lapar dan ogah beli makanan di pesawat.

Setelah beristirahat dan nongkrong di moslem prayer room alias mushola DM, ijk juga akhirnya menunaikan rasa penasaran di moslem toilet yang letaknya di pojokan dekat mushola. Bedanya apa? Yang berbeda adalah ada semprotan di setiap WC, sementara di WC biasa hanya ada pilihan tisu (ga ada semprotan sama sekali). Karena letaknya terpencil, di pojok dekat mushola, tidak banyak penumpang tahu dan memakai WC ini. Sebagian besar yang memakai moslem toilet adalah petugas-petugas di bandara.

Mendengar gosip Bangkok juga macet seperti Jakarta, terutama jam kerja, kami buru-buru berjalan ke arah yang menunjukkan plang Taxi saat pagi tiba. Terlihatlah beberapa loket seperti loket imigrasi, lalu seorang bapak mendekati kami dan bertanya mau-kemana-mbak (tidak dalam bahasa Indonesia tentunya).

Dia memberitahu petugas loket bahwa tujuan kami ke Mo Chit Bus Terminal, tepatnya Kamboja. Si petugas loket menulis sesuatu dalam bahasa Thailand, lalu kertasnya dibalikin ke si bapak. Kirain si bapak calo gitu ya, tak tahunya dia supir taksinya. Wekekeke. Taksi di bandara warnanya ombre, kuning-hijau. Khusus taksi yang kami naiki, interiornya lebih meriah. Di langit-langit taksinya tertempel banyak sekali uang kertas baht. Gw pikir semua taksi bakal heboh, rupanya itu hanya selera pribadi si supir.

Keluar bandara DM, suasana Kemayoran campur Ancol segera terlihat. Sambil mendengarkan radio berisi percakapan bahasa lokal, ijk diam-diam berharap argonya tidak akan terlalu tinggi. Ada sih macet gitu tapi enggak segila di Jakarta. Hanya sedikit tersendat dan Mo Chit Terminal pun mulai terlihat.

Don Mueang-Mo Chit Bus Terminal = 325 baht. Si supir tidak lupa menyodorkan bon berisi coretan tidak dimengerti dengan angka seperti 500. Nah loh. Masa diketok 500? Gw kan udah mastiin nanya tadi kalo taksinya ini pake argo.

“Airport fee 50.”

Fiuh. Yaudah deh lumayan 375 baht berhubung buru-buru. Lagian ternyata ransel gw beratnya sama seperti beban hidup.

Di Mo Chit, kami mencari booth Transport. Co untuk menukarkan bukti pembayaran tiket bis yang dipesan lewat internet. Tapi sang petugas menunjuk ke arah belakang sambil mengembalikan kertas, “Thai Ticket, Thai Ticket!”. Oh, berhubung gw beli lewat situs Thai Ticket Major jadinya gw harus nukerin print bukti bayar ke booth Thai Ticket Major yang letaknya berseberangan, dekat dengan pintu masuk terminal. Kalau loket Transport. Co melayani pemesanan on the spot.

Di loket TTM tidak ada kendala berarti. Kasih bukti pembayaran, TTD, dikasih deh tiketnya. Sang petugas menunjukkan platform 106 dan menggarisbawahi jadwal keberangkatan pukul 08.00 pagi.

IMG_3420
Waktu masih gugling di Jakarta, kami sempat pusing bagaimana cara terbaik pergi ke Kamboja dari Thailand. Ada yang bilang nyambung-nyambung naik bis atau kereta. Tadinya kami mau sok-sokan ngebolang naik beragam transportasi dari stasiun Hua Lampong, tapi sebuah jalan ditunjukkan lewat informasi bahwa sudah beberapa tahun terakhir ada layanan bis langsung Bangkok-Siem Reap. Mengingat ini melibatkan turun tangan pemerintah (katanya bis government) jadi dijamin bebas penipuan. Capek loh ngebacain blog sama kisah penipuan Thailand dan Kamboja. Jadi parno.

Cobaan tidak berhenti di situ. Gw baca kalo tiket bis Thai-Kamboja cepet kejual jadi kalau apes ga dapet kalo beli on the spot. Soalnya jadwal berangkat cuma sekali sehari juga. Nah lohhh padahal kita kan udah pede buking penginapan di Siem reap. Daripada menanggung risiko kehabisan tiket, kami memesan online. Tapi eh tapi, entah kenapa selalu eror di bagian pembayaran dengan kartu kredit. Udah ganti kartu kredit (pinjem punya Dachi dan Decu) tetep gak bisa. Gimana dooooong? Apa salah internet gueeeee? Salah temen-temen gueeee?

Lalu petir menyambar. Modem rumah mati. Diganti. Internet nyala kembali. Coba pesan tiket lagi daaaan… Ga bisa.

Oh mai gat. Plan B: gak nginep di bandara tapi di terminal aja biar bisa segera pesan tiket (untunglah ga terwujud karena terminal rupa-rupanya tidak seaman bandara. Gak berani deh gw tidur meninggalkan tas tergeletak begitu saja).

H-beberapa hari gw mencoba lagi, kali ini di kantor dengan kartu kredit mbak senior. Untungnya bisa! *dance*

Jadi gw gatau ya salah (internet) gw apa (kartu kredit) temen-temen gw. Pokoknya aman deh Siem Reap. Sampai jumpa, Angkot Wat.
Cara memesan dan membeli tiket bis Thailand-Kamboja (Bangkok-Siem Reap) via online Thai Ticket Major:

Buka websitenya. Bikin akun. Klik bagian transportation. Pilih dari BKK Central ke Siem Reap beserta tanggal yang diinginkan, nanti keluar pilihan satu jadwal. Pilih tempat duduk. Isi data yang dibutuhkan dan bayar dengan kartu kredit. Satu tiket pergi harganya 750 baht. Kalau pesan online ada biaya tambahan beberapa baht.
IMG_3412
Kembali ke terminal Mo Chit. Suasananya jauh dari terminal di Jakarta. Rapi seperti bandara-bandara kecil di kota-kota Jawa. Loket-loket berderet jelas dan tiap bis parkir di platform yang ditentukan. Jadi gampang nyari bis yang kita mau naiki.

Gak ada calo “neng, mau ke mana? Tasik? Garut?” terus maksa bawain tas kita dan menggiring ke bis yang bakal ngebayar dia.

Berhubung waktu berangkat masih agak lama, kami mau mengisi perut di 7-11 terdekat (tadinya mau KFC tapi belum buka, foodcourt isinya bahasa cacing dan gw ga paham menu, takut salah pesen nanti malah makan babi).

Muter sana muter sini, ada banyak roti tapi telitilah dalam membaca karena banyak roti isi daging babi.

IMG_3411

Sempat ada seorang cowok teriak-teriak di terminal. Rada gengges tapi karena ga ngerti jadi gw cuek aja. Tetiba petugas tanpa ba-bi-bu membekuk dia. Beda gitu kalo petugas di Jakarta pasti rame dengan “woi! Woi! Berhenti lo!”, di sini petugas bekerja dalam diam. Kayak singa tetiba nangkep rusa.

Terminalnya ramai dengan orang dari berbagai kalangan. Gak cuma turis backpacker, ada yang kelihatan mau pulang kampung dengan bawaan segambreng, biksu-biksu dan orang yang pakaiannya rapi seperti mau berangkat kerja.
IMG_3422 IMG_3428
Di platform 106, seorang petugas berseragam putih dengan lencana resmi mengabsen dan memberikan tag sesuai tempat duduk yang disematkan di tas para penumpang. Kemudian tas dimasukkan ke bagasi bis.
Langsung kelihatan deh cuma orang Asia yang bajunya panjang-panjang plus jaket. Antisipasi dinginnya AC bis, takut masuk angin dong. Sisanya turis Eropa dan Amerika yang berpakaian kayak mau ke warung di pantai Kuta. Tipis, terawang, pendek-pendek. Bener kaan di bis mereka langsung sibuk utak atik AC karena dingin.

Buat yang gampang masuk angin, siap aja bawa jaket dan obat-obatan lain karena perjalanan memakan waktu sekitar sembilan jam.

Cuma kami dari Indonesia, sisanya ada Jepang, Filipina, Thai, Polandia, Inggris, Amerika dsb (ngintip daftar absen).

Sebelahan sama mas Amrik

Sebelahan sama mas Amrik

Dan tepat pukul 08.00 bis pun mulai berjalan…

Iklan

3 pemikiran pada “Naik bis dari Bangkok ke Siem Reap (1)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s