Popcorn, gudang sinetron

wpid-20130713_131617.jpg

 

Penggemar serial cantik era 90an pasti mengenal komik berjudul “Popcorn”. Komik tersebut tidak bercerita tentang jagung atau bioskop, tetapi tentang persahabatan geng anak badung (3 cewek dan 3 cowok) dari SMP hingga dewasa. Beberapa tahun lalu, gw maraton membaca Popcorn di Jakarta (pinjem sana-sini) dan Tasik (di penyewaan komik) karena serialnya panjang, sampai 26 volume. Sayangnya, terjemahan komik jaman dulu enggak sebagus sekarang, jadi terkadang banyak kata-kata yang terasa absurd.

NAH! Tiba-tiba di toko buku tergeletak Popcorn versi deluxe dengan buku yang lebih tebal (satu buku bisa 1-3 volume awal) dan terjemahan yang lebih mumpuni. Beli, bang!!!!

Setelah ditelaah, dikaji, diresapi, dan dibawa ke kamar mandi (teman bertapa), jatuhlah gw pada kesimpulan bahwa Popcorn ini komik yang penuh dengan unsur-unsur sinetron. Bukannya gw bilang Popcorn ini jelek, ngapain coba gw beli 12 volume yang harganya mahal itu kalo enggak demen. Cuma, ya super super super dramatis.

Popcorn mencakup beragam konflik yang biasa membuat kita mengharu biru dalam drama/film, seperti:

(mainkan lagu Payung Teduh demi menambah rasa dramatis)

1. Anak kembar, yang satu sakit keras, yang satu sehat. Salah satu ditinggalkan dan diasuh kakek-nenek dan baru berkesempatan bertemu dengan orangtua saat remaja. Itu pun karena saudara kembarnya sudah mendekati ajal.

2. Saat akan bertemu dengan cinta pertama, JEDAR! Kecelakaan.

3. Cinta pertama justru kawin dengan sang kembaran yang sangat polos dan tulus. Oh yeah, broken heart alert.

4. Kembaran meninggal, sang ibu stres dan hilang ingatan lalu menganggap anak yang masih hidup sebagai anak yang meninggal. Sakit hati alert.

5. Teman tiba-tiba dihadang dan diperkosa sama anak SMA stres, lalu dikucilkan masyarakat (ini menyeramkan banget buat ukuran komik remaja, dulu gw pas baca nggak ngerti apa yang terjadi).

6. Mencintai dan dicintai dua lelaki. Saat bingung memilih….BAM! Yang satu meninggal saat mendaki gunung.

Selama hidup, sepertinya Nakki (Kitashiro Naoko) mendapat banyak banget cobaan. Coba deh, orangtua macam apa yang tega meninggalkan satu anak demi mengurus anak lain yang sakit dan divonis tidak akan hidup lama. Padahal itu keluarga Kitashiro tajir luar biasa, kan bisa banyak asisten rumah tangga yang bisa membantu gitu loh. Awalnya gw keseeeel banget sama orangtua Nakki yang kok-tega-banget. Semakin tega saat Mariko yang umurnya dipastikan segera berakhir pun membuat Nakki AKHIRNYA dipanggil ke kota dan bertemu dengan orangtua serta kembarannya. Ya kenapa coba dipisahin? Kenapa? Kenapa?

Tapi si Nakki ini protagonis yang digambarkan tanpa sisi negatif. Dia tidak dendam, dia justru tumbuh sebagai remaja pintar yang aktif bergaul, pemberani, iseng, dan jadi panutan. Ya, itu sebenarnya jadi kedok dari segala luka hati yang dialaminya. Nah, seorang senpai ganteng (tapi rambutnya gondrong bergelombang kayak Miss Indonesia) yang jago melukis, Tobishima, menaruh perhatian pada Nakki dan membuat lukisannya. Nakki sebenarnya suka… tapi… saat Tobishima ingin mengantarkan lukisan itu, jreng jreng… ketabrak mobil aja dan tangannya tidak bisa digerakkan.

OH, MY LIFE AS A PAINTER!

Justru, Mariko sang kembaran yang berhasil membangkitkan semangat Tobishima. Yaaahhh…. cowok yang dia sukain direbut kembarannya sendiri DAN bahkan dinikahin. Nakki hancur jikalau tiada lima temannya yang selalu mendukung dia, yaitu Mai, Hatsune, Tamura, Okita, dan Iwasaki.

Setelah Mariko meninggal, Tamura patah hati (karena suka Mariko), Mai patah hati (karena suka Tamura yang suka Mariko), Nakki patah hati dan sedih (karena Mariko meninggal, Tobishima pergi, dan ibunya nganggep dia nggak ada), Okita dan Iwasaki menunjukkan rasa cinta mereka pada Nakki dengan berusaha mengembalikan keadaan ibu Nakki seperti sedia kalah.

Baru episode awal aja udah ribet ya? Memang banyak banget konflik dan cinta yang tidak terbalas. Dari Iwasaki yang nyari cewek semirip Nakki karena merasa tidak mungkin bisa bersama Nakki lebih dari teman, Okita yang ngegebukin Iwasaki sampai matanya cedera dan bikin Iwasaki gagal jadi pemain basket nasional, sampai Hatsune yang akhirnya jadian sama kakaknya Iwasaki.

Life is a soap opera.

Selama delapan tahun berteman, seorang Nakki digambarkan sebagai orang periang yang sudah mengalami banyak sekali peristiwa sampai-sampai dia mungkin merasa takut untuk mencintai (ini sotoy). Giliran suka, malah sama dua cowok yang juga sahabatnya. Kalau dia memilih atau tidak memilih, tidak akan ada yang bahagia, persahabatan hancur. Ouwwww.

Kalau Okita tidak terjebak di badai salju, entah siapa yang dipilih, Okita atau Iwasaki.

Sosok Iwasaki sangat berkembang, dari chibi bantet yang otaknya pas-pasan, dia mencari potensi lain di bidang olahraga, lalu tiba-tiba….badannya menjulang dan digambarkan ganteng berotot namun berwatak baik hati sama Yoko Shoji sensei. Aaaak!

Di sisi lain, Okita yang tumbuh sebagai anak piatu adalah pria kaku dengan penampilan luar seperti berandal. Memilih hidup sebagai pendaki gunung, Okita yang pendiam menunjukkan perhatiannya pada Nakki secara diam-diam.

Ada juga Tamura, pria berkacamata pintar yang ingin meneruskan Rumah Sakit milik orangtuanya sehingga dia memilih jurusan kedokteran. Kalau dipikir-pikir, sosok Tamura yang kalem itu mungkin yang paling menarik perhatian gw kalo emang ada sosok itu di dunia nyata. Okita terlalu berandal, Iwasaki… hmmm… boleh juga sih. Kenapa malah berkhayal!

Dengan cerita yang mengandung banyak konflik, komik ini bisa dijadikan serial drama yang ditayangkan untuk beberapa tahun. Sayangnya, versi adaptasi drama Seito Shokun tidak bercerita tentang Nakki saat remaja hingga dewasa, tetapi setelah dia menjadi guru. GIMME IWASAKI LIVE VERSION! Ada juga sih versi film yang dirilis 1984 (jadul banget ya), tapi entah dimana bisa menonton itu.

Iklan

7 pemikiran pada “Popcorn, gudang sinetron

  1. Ada ending baru yang dibuat sensei, Iwasaki dan Nakki akhrnya pisah, Nakki pergi ke Eropa untuk belajar lagi ilmu keguruan dan Iwasaki ke Amerika lalu merit. Bagaimana? :))

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s