Cokelat, Baja, Darah

Setelah sekian lama tidak bermain, ijk dan Riju janjian. Kami biasa ketemuan kalau ada agenda penting, misalnya gw mau numpang donlot di rumahnya, atau mau balikin buku, balikin baju, nganterin jahitan, dan…. memakai voucher gratisan. Kali ini, dengan segenap kelebihan dari pekerjaan ijk yang membuahkan beragam voucher, kami berniat ngegahul di kafe cokelat ternama yang pernah jadi bahan tulisan ijk.

Setelah sauna di kopaja, gw dan Riju melepas dahaga dengan Iced Chocolate Mint (enak!) dan Dark and White Chocolate (biasa aja). Untuk makanannya, sepiring Devil Chocolate Brownie ternyata membuat kami cukup kenyang.

No pic but no hoax ya soalnya begitu lihat piring datang yang terpikir langsung ambil sendok, bukan nyalain kamera.

Abis itu kita cus menuju Blok M, mau naik transjakarta. Nah… di kopaja 76 menuju Blok M datanglah dua remaja preman yang berteriak-teriak mengancam,

“Bapak ibu, apakah tega membiarkan kami berbuat kriminal?!” kata abege tengil yang pake kacamata hitam alay.

“Betul! Jumbo!” kata temannya dengan kencang.

Gw nggak ngerti kenapa dia bilang Jumbo, tapi ngeliat tingkahnya aja udah males. Seperti yang sudah diperkirakan, gw dan Riju nggak ngasih duit. Berhubung cuma kami berdua yang duduk berkerudung, sudah nggak heran kalau si pengamen itu ngatain kami dengan pola “pake kerudung tapi kok hatinya..” (dalam bayangan gw, dua abege itu lagi gw semprot pake minyak cabe).

Eh, si Riju yang pendiam itu dengan datar nyaut,

“Terus kenapa emang kalau pake kerudung?”

Si dua pengamen mungkin nggak nyangka bakal dibales, mereka cuma jawab sekenanya yang untungnya nggak berisi kebon binatang. Oh, Riju betapa beruntungnya, saat gw membalas pengamen gw malah diludahin 😦

Ternyata Riju menganalisis, karena pengamen itu masih terlihat bersih dan amatir dan abege, dia berani ngelawan. Dia pun memberi saran agar mengganti duit (kalo mau ngasih ke preman itu) dengan permen atau makanan kecil.

“Permen itu kan manis, glukosa, mengenyangkan! Mereka kan cari duit buat makan. Kalo dikasih duit, nanti malah buat mabok-mabokan,” jelas doi.

Seketika gw jadi trauma sama kopaja/metromini Blok M yang sungguh penuh preman menyeramkan. Huaaaa. Nggak sanggup naik taksi, takut naik kopaja, kejauhan kalo jalan kaki, ngeri dan ga bisa nyetir sendiri dan bensin mahal.

PAK AHOK TOLONG BERANTAS PREMAN DAN JADIKAN MEREKA AJUDAN DI BALAIKOTA, PEKERJAKAN SAJA AGAR TIDAK MENGGANGGU MASYARAKAT. Kenapa Ahok bukan Jowowow? Karena sosok Ahok tegas, hehehe.

Lanjutlah kami nonton Man of Steel.

Pasti udah banyak review yang bagus ya, mending gw bahas hal-hal yang bagi gw lucu.

1. Superman berbadan bidang, saking berotot, dadanya nyaris sama besar (atau lebih?) dari postur Lois Lane. GUEDE BANGET SIH OTOTLOOOO.

2. Setelah berubah wujud dengan kostum ketat yang terlihat lebih modern tanpa celana dalam di luar, tetiba superman yang brewokan jadi klimis. Kapan cukurnya?

3. Fakta bahwa orang-orang di film digambarkan nggak ngakak sejadi-jadinya lihat superman pake baju yang… euh… kayak mau senam. Hollywood ck ck ck..

4. Bahwa Lois Lane masih terlihat rapi, dengan rambut dikuncir, meskipun dia sudah mengalami beragam peristiwa di darat dan di udara. Dan tahu-tahu entah darimana dia muncul di museum tempat Superman lagi bergumul di pertarungan terakhir. Oh, continuity..

Begitulah. Secara keseluruhan sih buat gw terlalu banyak efek gubrak gabruk hancur sana hancur sini yang bikin capek. Belum lagi nuansa suram yang minim komedi, bikin mood gw jadi drop gitu deh *mudah terpengaruh*.

Daaaan… sedihnya adalah ketika si Clark Kent ngelamar kerja di Daily Planet, dia cakep banget pake kacamata. Kenapa sedih? Karena scene itu cuma sebentar banget!

Jadi…. Clark Kent bilang dengan jadi jurnalis dia bisa bekerja maksimal untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Superman.

Kerjaan ijk populer banget sih di mata para pahlawan. Ck ck ck. Spiderman, Superman, hemm, siapa lagi coba.

Kalau gw sih lebih suka Superman Return. Yang lebih ganteeeeeeeeeeeeng (penting) dan ceritanya nggak sesuram ini walaupun kostumnya jauh lebih konyol. Not a big fan of action movie sih ya, jadi liat efek-efek berantem kesannya biasa aja.

***

Kemarin, gw sukses donor darah untuk pertama kalinya. Deg-deg-deg!

Tanggung sih ya, abis liputan tentang donor darah dan mengetahui banyak manfaat, kenapa nggak sekalian aja? Apalagi setelah menguping sana-sini, petugas PMI jauh lebih profesional dibandingkan suster cowok yang ngurus gw waktu baru masuk UGD karena DBD. Mereka akan dengan mudah mencari bagian mana yang harus ditusuk jarum, nggak kaya suster cowok di RS yang malah menyalahkan lemak gw yang tebal sehingga susah mau nusuk infus. Huh.

Setelah menunggu satu jam, dipanggillah akyu. Dites golongan darah dengan cara yang mengagetkan (nggak sakit) dan cepat, lalu beranjak pilih-pilih mana kasur (dan petugas) yang akan didatangi. Beruntungnya, petugas yang ngambil darah gw baik dan manis (penting). Awalnya dia agak susah nyari nadi, tapi mukanya santai aja dan dalam sekali tusuk, darah ane langsung ngocor santaiii.

Begitu jarum masuk, agak kaget dan kerasa banget ada benda asing di tubuh iniiiiii. Udah merem melek ngeri, tapi lama-lama malah enjoy dan ngantuk. Semoga darah gw berguna bagi orang lain, nggak cuma bagi nyamuk dan Edward Cullen!

Iklan

3 pemikiran pada “Cokelat, Baja, Darah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s