Sehari empat provinsi

Lumayan juga ini stamina diuji, gonta-ganti pesawat kaya angkot aja. Dari Sorong-Ambon-Makassar-Bali. Macam naik ojek ke rambutan-angkot ke stasiun-kereta ke Gondangdia-lanjut bajaj ke kantor.

Berangkat subuh menuju bandara. Boardingnya sih 05.30 WIT. Eh, begitu sampe BANDARANYA MASIH TUTUP aja loh. Muhahahaha.

Suasana subuh bandara terbalik

 

Tapi gw lihat dari balik pagar sih pesawatnya udah ada. Yaudah, nunggguin sambil ngeliatin langit bersih penuh bintang dan sinar bulan yang dihiasi lingkaran pelangi, terdengar sayup-sayup adzan subuh dari masjid dekat bandara. Sampai akhirnya sebuah motor melaju kencang, bapak berseragam lari buru-buru buka kunci bandara, membuka gorden, menyalakan AC, dan semenit kemudian rombongan syubidubidu datang.

Sebenernya gw pengen lihat gimana reaksi rombongan syubidubidu kalau bandaranya masih ditutup *pecinta konflik*

Ternyata pesawat udah penuh penumpang lain, loh mereka masuk lewat mana ya. Hmm..jadi kalo pesawatlo gak berangkat-berangkat ternyata bisa jadi karena nungguin rombongan kenegaraan macam gitu ya. Maaf ya bapak-ibu yang bete karena ngaret. Btw, Wings Air walau ukurannya imut, pewe juga. Perjalanan pulang sih lebih nyaman karena gw sukses tidur untuk beberapa puluh menit.

Lalu, sampailah kami ke… AMBON!

20130502_074622

Dilihat dari atas, Ambon sepertinya tempat yang menyenangkan untuk liburan. Sayang, kali ini hanya sempat numpang ke kamar mandi.

Dari Ambon, kami bertolak ke Makassar. Tidur lagi dong di pesawat! *balas dendam*

Nah, sampai Makassar kami berlari-lari-lari-lari-lari-lari (untung kali ini koper di bagasi) pindah ke pesawat menuju Bali. Tidur lagi lagi dong!

Meh. Nyampe juga di Bali. Depiiii! Pritaaaa! Abis makan siang, cus lah kami ke hotel di kawasan Nusa Dua. AKHIRNYA BERTEMU KASUR (dan kamar mandi). Menyembunyikan identitas sebagai anak yang belum mandi, gw langsung bebersihhh. Pengennya sih renang, tapi kok kolamnya pas di sebelah restoran, jadi kalo kita renang-renang cantik ada banyak saksi mata. Aduuuh, privasi oh privasi.

Kami punya waktu beberapa jam bebas sebelum makan malam dimulai, dengan mengandalkan voucher 150rebu spa di Hard Rock Kuta, gw bertekad akan dipijat disana. Etapi, berapa duit ya?

*telpon ke Hard Rock*

…..

“Nggak mau reserved aja, Mbak?”

“Euh… saya lihat jadwal dulu deh (alasan basi).” Tutup telepon. Terpaku.

Sepertinya harga spa disono 650rebu. Jadi, harus bayar 500rebu? Hmmmm. *jambak rambut*

Akhirnya gw dipijit murah meriah aja di hotel yang ditempati saat itu. Balinese relaxed spa gitu lah, harganya 155rebu. Lumayan lah buat pengalaman pertama. Setelah sejam dipijit, rasanya kaya orang mabok. Ngantuuuuk…Mata merem… tapi ga bisa tidur. Keliyengan.

Gala Dinner

Malamnya, dengan sedikit nggak enak badan (kurang banyak minum habbatussauda), yuk mari cus ke gala dinner acara bla-bla-bla di hotel terkemuka Nusa Dua yang uwoooooooooo-keren-banget-sayang-kamarnya-penuh-jadi-ga-nginep-disitu.

Sebenarnya makanannya luar biasa enak-enak, Cuma kalo kondisi lagi kurang fit jadi kurang rakus juga ya. Yaudah deh, makan secukupnya, basa-basi sama om India yang kerja di Delhi dengan pesan “send me empty postcards from India, please” kami balik ke hotel.

Tidur nyenyak sampai rasanya badan nggak bergerak sama sekali. Karena kemalaman, nggak sempat juga ketemu sama Prita dan Devi, huhuhuhu.

Nah, pas sarapan (lagi-lagi sedih karena agak nggak  enak badan jadi nggak rakus) hampir selesai, didatangi sales executive yang mau nanya-nanya pelayanan hotel. Berhubung namanya bukan nama Bali, gw tanya dong asal dia darimana.

“Bandung.”

“Eh, SAMA KITA!”

“Eh, saya boleh duduk ya?!”

Lalu kita ngobrol ngalor ngidul. Mbak yang umurnya lebih muda dari gw itu berkelana ke banyak hotel di banyak tempat. Saat gw tanya apakah enak kerja di Bali, dia menggeleng. Mungkin karena Nusa Dua itu susah kemana-mana ya… Kalau di Kuta mah rame, ngesot dikit ada warung, ada jajanan, ada toko. Terus ternyata, kalau mau kerja di Batu Keras itu kudu bisa nyanyi, berjiwa seniman, atau slengean. Aiiih…jadi inget bli gondrong macho ganteng yang nganterin teh pas sarapan *usap iler*. Emang di Hard Rock nuansanya santai cozy dan menyenangkan walau jalannya luar biasa macet.

Si mbak itu mungkin sepertinya akan tinggal di hotel yang lokasinya dekat rumah gw dalam waktu dekat. Kalau tiada aral melintang, mungkin kami bisa bertemu lagi. Kalau tiada halangan, mungkin gw bisa dapat voucer nginep gratis *pamrih* *udang di balik bakwan*.

Daaaan setelah perjalanan panjang, numpang makan di Sorong, numpang ke kamar mandi di Ambon, numpang jalan kaki di Makasar, dan numpang tidur di Bali, gw masih hangover di rumah. Apalagi kemarin bis dan busway udah gila, keluar Semanggi jam enam, baru sampe rumah jam sembilan. GILA. Padahal hari Sabtu!!!!!

Memang, akhir pekan lebih enak di rumah saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s