Menanti matahari Bromo

image

Bromo. Berhubung referensi terakhir tentang tempat itu adalah kenangan 12 tahun lalu, agak dag dig dug mempersiapkan perlengkapan perang. Ada yang bilang suhu bisa sampai-5 derajat, ada yang bilang sweater saja cukup asal aktif bergerak, ada yang bilang yang penting masker untuk menutup wajah dari angin yang menusuk.

Masker, sarung tangan kulit (punya Teteh bekas ngojek di beijing), sweater sedang, dan jaket tipis anti badai (air dan angin) karena katanya sering hujan di Bromo akhir-akhir ini. Gosipnya lagi, cuaca dingin juga menembus celana jins, tapi dengan pertimbangan kenyamanan, gw pilih celana training aja. Kalau kedinginan biarlah gw nari-nari di Bromo.. Yang lain sih pakai celana hangat di balik jinsnya, dobel dobel. Kali ini gw mengandalkan cadangan lemak. Lagian di atas juga banyak yang menyewakan jaket kok.

Bapak guide bilang, udara nggak terlalu dingin, hanya sekitar 10° c. Sweater taro tas, ngetes apakah badan kuat cuma pakai kaos panjang agak tebal dan jaket anti badai. Ternyata saya masih bisa hidup! Faktor penting sih sarung tangan dan masker ya, dingin di perut bisa ditahan lemak, tangan dan muka gak kuat! Jangan lupa pakai kaos kaki panjang agar kaki tidak terasa beku. Yang lain ada yang mengeluh begitu, tapi diriku yang hanya dibungkus selembar training masih diberkati dengan cadangan lemak berlimpah sehingga baik-baik saja.

Gw, Dachi, Anggi, Maya, Della menunggu matahari terbit di pananjakan yang…penuh banget dari jam empat subuh!

image

Tips  menyaksikan matahari terbit di pananjakan Bromo:

1. Hindari akhir pekan. Berhubung kami berangkat malam minggu, itu pananjakan ramai banget nget nget. Dari bule sampe alay alay. Best spot bisa didapat kalau sampai lebih awal.. Dari tengah malam mungkin?

2. Begitu turun dari jip, lo akan diserbu tukang ojek yang menawarkan jasa sepuluh ribu untuk mencapai tangga. Berhubung jalanan gelap gulita, kami nggak tau apakah tangganya jauh atau dekat. Dan…. Baru dua langkah kok udah ngos-ngosan! Bahahha.. Syok menghirup cuaca super dingin dan tanjakan terjal. Akhirnya para himono onna ini memutuskan naik..dan ternyata dekat looooh. Rasanya pengen nawar jadi goceng. Tapi emang kalau lagi buru-buru dan udah kecapekan duluan, naik aja asal tawar dulu!

3. Siapkan Masker dan sarung tangan. Dan jangan pakai high heels! (ada loh yang terlihat hitssss banget dengan gaya di catwalk). Pakai alas kaki yang nyaman untuk mendaki.

Namanya juga newbie dan nggak tau arah, gw malah menunggu di sisi  matahari terbenam dan sibuk berjinjit di antara kepala orang untuk melihat semburat jingga.

image

Suasana seperti kumpulan orang yang sedang menonton konser. Berdesakan ke arah tertentu dan sibuk jeprat jepret. Habis itu lanjut makan mi rebus (yang cepat dingin setelah bertemu udara beku) dan… Mengarah ke bromo yang ada tangga dan naik dengan pilihan kaki atau kuda.

image

Terakhir kali ke sana, jaman SMP dan masih kurus, hanya ada sedikit orang. Rupanya sedikit orang yang datang kala sore. Pokoknya hanya ada empat orang yang ada di puncak berkawah (IMHO ga terlalu istimewa). Di puncak yang sempit itu, bayangkan ada puluhan orang
berdesakan kala pagi. Dari lokal sampai turis mancanegara. Nggak boleh dorong-dorong karena bisa menyebabkan orang terjatuh ke kawah. Berhubung penuh banget jadi nggak bisa/mau lama lama.

Perihal kuda, mereka biasanya nawarin seratus ribu PP, emang capek dan terjal sih jalan menuju tangga  Bromo. Gila banget jalanan penuh dengan kuda dan manusia. Tapppiiiii…. Yang paling males itu pasir mix kotoran kuda. Itu yang bikin iuuuw banget pas jalan karena harus menghindari kotoran segar maupun yang sudah jadi humus (?). Emang bujet gw minim kan jadi menurut gw seratus ribu itu mahaaaaal bgt. Sayang lah pokoknya berhubung perjalanan masih panjang. Akhirnya nawar afgan setengahnya karena sepanjang jalan diikutin terus sama kuda. Yaudah deal.

Dan gw kapok naik kuda karena si  abang jahat menuntun kuda di jalan terjal menurun dengan kecepatan luar biasa sehingga beberapa kali gw (merasa) nyaris jatuh (plus udah teriak teriak nyuruh dia pelan-pelan). Ketauan sih si bapak ga rela karena gw nawar goban, tapi deal adalah deal dong. Gak profesional. Bukannya jalan pelan-pelan malah narik kudanya cepet banget di jalan menukik, ya gw ngeri lah. Kalo dia ga suka, harusnya nggak usah menyepakati tawaran gw dong?! Cih. Selama jalan menurun, gw nahan nafas sambil istigfar. Ekspresi kaya menahan boker. Tegang banget takut jatuh lalu diinjak puluhan kuda dan sekarat dengan dikelilingi kotoran kuda.

Berhubung Dachi dapet abang yang baik, dengan rent yang sama, dia ngasih tip. Mereka ngobrol dengan asik dsb dsb. Berhubung keadaan gw di antara hidup dan mati, mana sempet ngobrol. Si abangnya juga muka asem. Gw mana sudi ngasi tip dengan keadaan nestapa dan emosi jiwa karena hampir dibuat nggak selamat. Selagi bapak kuda Dachi bilang “semoga rejeki makin banyak biar ke Bromo lagi”, dia nyindir “nanti bayarnya 50rb lagi ya”. Eeeeuh. Tapi pake senyum ngomongnya. KAN UDAH DEAL KOK DENDAM SIH. Ya kan ya kan kalo kaya gini bawaannya jahat dan ga simpati sama sekali.

No more horse.

Kalo ke Bromo lagi, gw males banget ke kawahnya. Mendingan ke pananjakan subuh-subuh menikmati suasana saat nafas berasap 😉

kisah selanjutnya: bukit teletubbies

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s