Dubber, dubbing, sulih suara, seiyu

Do something you love, love something you do, rite? Itulah mengapa setelah kecewa berat karena terlambat membaca info soal diskusi Animator Crayon Shinchan ke Jakarta, gw segera setting ulang milis Japan Foundation untuk segera dipindah ke email terbaru gw yang super eksis (nyampur sama undangan liputan bla bla bla).
image

Lalu lalu lalu ada informasi tentang Workshop Seiyu dan segera gw membuat janji untuk bisa meliput put put put sekalian curi ilmu 😀

Gayung pun bersambut mari kita mandi kemarin daku melangkahkan kaki ke Japan Foundation. Seperti yang diperkirakan, hampir tepat waktu (cuma nunggu lima menit karena peserta ada yang belum datang). Berhubung gw hanya pengamat jadi cuma duduk di bangku belakang bersama Mas-Editor-Yang-Hari-Ini-Akan-Jadi-Panelis-Diskusi serta beberapa orang lain dari kementerian, dsb dsb.

image

mas editor unyu

Kalau biasanya gw fakir baterai karena ngetik langsung di handphone, kemarin lebih santai memakai cara primitif: pulpen dan buku. Soalnya nggak ada pesaing nih, nggak ada media lain jadi lebih rileks (TERNYATA SALAH, nanti dijelaskan).

Seorang pegawai JF pun menjelaskan pada gw bahwa di depan kelas itu sang Seiyu Nami Okamoto, terus di sebelah gw si ini, si itu, besok (hari ini) ada diskusi dan pemutaran film, dsb dsb dsb.
image

Dan akhirnya workshop dimulai! Nami Okamoto yang mungil banget (tingginya kira-kira se-gw, lebih tinggi dikit) membuka dengan permainan saling salaman (ohayo gozaimasu, yoroshiku onegaishimasu, (put your name) desu) sama belasan peserta workshop yang rata-rata udah jago ngomong bahasa Jepang. Dia pun berkali-kali bilang “Umai!” memuji kemampuan bahasa Jepang mereka.

Gw juga pengen nih ngajar workshop di negara lain terus pesertanya fasih bahasa Indonesia. Seneng banget kali ye.
image

Eniwey, workshop dilanjut dengan gerakan-gerakan mirip senam tapi ternyata itu latihan pernafasan perut. Kaget banget denger suara Nami-san yang lantang banget.

Kayaknya tim ospek terutama kakak galak harus belajar pernafasan perut biar nggak sakit tenggorokan setelah marah-marah nggak karuan. “DEEEK…SIGAP DEEEK…MANA ARGUMENNYA DEEEK???” (dulu gw diospek sama eskul semacam KIR jadi harus pintar argumen).

Abis itu Nami-san bilang kalau saat mengisi suara harus penuh emosi dan penghayatan. Kalo karakternya lari ya isi suara harus ngos-ngosan, pokoknya segala ekspresi tertuang lewat nafas. Berkali-kali dia menekankan bahwa penghayatan emosi itu sangat penting. Jadi, bayangin aja gimana kita akan bicara kalau situasi dalam anime itu terjadi di dunia nyata. Misalnya adegan saat nganterin kakak tersayang ke bandara, ya agak-agak sedih gimana gitu.
image

Kalau udah bisa menghayati emosi, giliran mencocokkan mulut si karakter sama suara kita. Kadang ada yang terlalu cepat, ada yang lelet. Intinya sih, hafalkan naskah dan tonton video berulang-ulang biar lo tahu timingnya.

Abis itu beberapa peserta Workshop ditantang untuk mengisi suara karakter dari Uchuu Kyoudai. Naskahnya udah disediakan (mirip-mirip naskah liputan tv yang ada gambar, naskah voice over, menit keberapa, dsb).

Daaaan akhirnya workshop selesai dan pekerjaan gw yang kedua pun dimulai. Wawancara! Yeaaaaayyy. Meskipun udah diwanti-wanti biar nggak kelamaan karena udah jam makan siang, lumayan ngedapetin beberapa informasi .

TIBA-TIBA ADA SATU REPORTER LAIN YANG DATANG DAN LANGSUNG NGETIK DI HAPE. Oh gawat oh gawat kami kan beradu kecepatan sementara gw masih harus transkrip rekaman dsb dsb.

Ah, tapi berhubung dia datangnya pas udah selesai, dia belum menyerap info dari workshop dong, so it’s my advantage?

Anyway, ini sisa informasinya, yaitu kalau mau jadi dubber, lo harus tau tipe suaralo seperti apa untuk mendapatkan peran yang sesuai. Kalau warna suaranya berat terus harus bawain yang cempreng agak capek ya..

Last, persaingan dubber di Jepang itu berat saudara-saudara. Karena nggak kaya di Indonesia yang (sepertinya) orangnya itu-itu saja, di sana banyaaaak pesaing. Coba inget-inget telenovela jaman kita (kelahiran akhir 80an dan awal 90an) SD, Esmeralda, Cinta Paulina, Rosalinda, Esperanza…Pemeran utama lelaki pasti suaranya si om itu lagi. sama semua!

image

aku dan Nami

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s