Malam Minggu lebih asyik di rumah

Kemarin piket malam, biasanya sih santai-santai dari rumah aja. Tapi ada acara pemanasan Java Jazz di Sky Dining Semanggi malam-malam. Ya sudah mari kita coba. Untung ada beberapa teman yang memang mau datang, kalau nggak gw keder juga karena buta banget tentang jazz. Selain Andien, gw nggak tahu tentang band blues satu lagi, Ginda and the White Flowers (abis dengerin lagu-lagunya ternyata nikmat lho).

Jadi aturannya begini, nggak ada ceritanya kalau kita ngeluarin duit ketika liputan. Ya lo datang buat kerja, yang ada harus difasilitasi, bla bla bla. Nah, ini begitu gw dan seorang teman naik ke Sky Dining dan duduk di bangku kosong, langsung dirubung “hari ini minimal order per orang lima puluh ribu ya!” oleh beberapa pelayan.

Celingukan deh gw cari orang yang pake ID.

Sang teman memberi argumen, “Mas, kalau dari media gimana?”

Si mas masang tampang gak peduli. Malah nyuruh kita bayar 250.000 buat bayarin dua orang yang BELUM datang. Euw.

“Jadi kalau duduk harus bayar minimal 50 ribu gitu? Kalau saya berdiri aja?” kata teman gw.

“Nggak boleh berdiri. Ada peraturannya.” Later, mayoritas pada berdiri karena tempatnya sempit. 

Untung lebih memilih logika ketimbang ogah berantem, teman gw menelpon humasnya. OH UNTUNGLAH KAMI UDAH DIMASUKKAN DAFTAR RESERVED.

(ternyata si humas temen satu fakultas yang sempat bareng di pers fakultas)

Dan nggak cuma itu, makanan dari restoran itu pun nggak enak plus banyak yang nggak tersedia. Entah karena hectic atau gimana, pelayanannya juga kurang ramah aja. Puh-leaaaaase. Sebal. Untung gw nggak bayar.

Harganya aja mahal selangit. Ih, kalau urusan sendiri di luar pekerjaan, ogah banget gw kesana. Nasi gorengnya terasa banget dari bumbu sachet, chicken wings juga nggak gurih, yang enak cuma calamari yang mirip otak-otak.

Ngomong-ngomong, gw nggak ngerti lagi, perasaan gw udah pake baju yang kekinian, cuma karena pakai kerudung yang agak panjang terus dipanggil “tante”. Urgh.

Baru nyampe rumah jam dua belas malam. Cinderella  naik taksi, untungnya bareng Tisha jadi nggak terlalu ngeri pulang malam.

***

Ngomong-ngomong, hari sebelumnya juga pulang nyaris tengah malam.

Diajak Iif ke peluncuran novel Singgah di PS. Kebetulan Lescha ngikut, kebetulan temen dari Gatra ngikut juga, kebetulan ketemu anak-anak RTC. Serba kebetulan. Hari itu melihat dunia para penulis.

cat_wang109

Sebelumnya, tepatnya pada siang, gw akhirrrrnyaa nonton Les Miserables sama bung Lod. Kami sebenarnya piket malam, tapi karena sesuatu jadi ngantor pagi. Ternyata sesuatu itu diundur. Daripada berkerak, impulsif deh main dulu sebelum tiba waktunya kami bekerja di malam hari. Untung bung Lod belum nonton juga.
Menantang polisi dengan naik motor tanpa helm dari Sudirman-Thamrin. Nasib baik nggak ditilang nyehehehe.

Tadinya gw kira Les Miserables bakal kaya petualangan Sherina, lagunya sebagian aja. Ternyata semua dialog jadi lagu. Nyanyinya live juga! Gokil beneeeer. baru tau juga “On My Own” dan “I Dream a Dream” lagu dari musikal itu.

Langsung kebayang Rachel Berry dari Glee dong, eh pas baca imdb si Lea Michele ikut kasting jadi Eponine toh. Waaah.. Samantha Barks bagus sih, cuma alisnya kekinian banget. Menurut gw sih muka dia modern. Tapi mungkin di Prancis jaman dulu udah ada teknologi merapikan alis kali ya 🙂

***
Kamisnya ke acara Iron Chef. Dapur Iron Chef untuk food tasting. Oh begini rasanya jadi reporter makanan *tangis bahagia*

2013-02-10-15-11-21_deco

Nyobain ramen dan soba, seenak apapun itu, lidah gw tetap condong ke indomie..

Iklan

Satu pemikiran pada “Malam Minggu lebih asyik di rumah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s